Kamis, 29 Desember 2011

teluk bayuk


Sore Hari di Teluk Bayur
Teluk bayur merupakan kawasan pelabuhan laut yang berada di kota Padang (Sumatera Barat). Memandang kawasan teluk bayur di sore hari menimbulkan kesan tersendiri. Kapal-kapal berlabuh dengan latar belakang matahari yang beranjak terbenam membuat hati terpukau oleh keindahan yang disajikan Sang Maha Pencipta.
 
Masih Ada Kapal Ke Padang
Entahlah, apakah masih ada kapal (penumpang) yang ke Padang? Sejak banyak pesawat murah yang lalu lalang di udara pertiwi, tidak ada lagi orang yang mau naik kapal laut dari dan ke Padang menuju Jakarta atau sebailiknya. Bus-bus ke Jawa pun banyak yang mati, jalan-jalan di Lintas Sumatera lengang, warung makanan pun gulung tikar. Dulu, entah berapa banyak kapal-kapal penumpang PT Pelni yang menyinggahi pelabuhan Teluk Bayur Padang, mulai dari KM Bogowonto, KM Kali Berantas, KM Batanghari, KM Tampomas I, Km Tampomas II (yang akhirnya tenggelam di kepulauan Masalembo menewaskan ratusan penumpang pada Tahun 80-an), sampai kapal-kapal yang lebih modern seperti KM Kerinci, KM Lawit, KM Rinjani, KM Lambelu, sebelum akhirnya mereka tidak singgah-singgah lagi.
Kenangan saya masih terasa kuat ketika dulu masih naik kapal laut ke Jakarta dari pelabuhan Teluk Bayur. Pertama kali merantau ke tanah Jawa ini adalah ketika saya diterima di ITB. Ini adalah perjalanan terjauh yang saya tempuh meninggalkan kampung halaman. Masih terbayang linangan air mata ibu dan ayah (alm) melepas saya di pelabuhan ini, tatkala kapal penumpang KM Kerinci perlahan-lahan lepas jangkar menjauhi dermaga, diiringi lagu Ernie Johan yang juga berjudul “Teluk Bayur”. Hiks..hiks..hiks..
Selamat tinggal Teluk Bayur permai
aku pergi jauh ke negeri sebrang
ku kan mencari ilmu di negeri orang
bekal hidup kelak di hari tua
Lambaian tanganmu kurasakan ngilu di dada
kasih sayangku bertambah padamu
air mata berlinang tak terasakan olehku
nantikanlah aku di Teluk bayur
Teluk Bayur adalah pelabuhan alam yang eksotis. Berada di bibir Samudera Hindia, ia dipagari oleh rangkaian pegunungan Bukit Barisan. Lautnya tenang tetapi dalam. Saya suka berlama-lama kalau berada di pelabuhan Teluk Bayur, duduk melamun sambil memandang bentang alam yang diciptakan Tuhan dengan begitu indah, laksana lukisan saja nampaknya. Melihat laut yang terhampar luas di depan pelabuhan membuat pikiran jadi sejuk, hati jadi lapang. Nun jauh ke sana, ke seberang lautan, pikiran terbang menerawang, membayangkan rantau tempat berlabuh. Perubahan perjalanan hidup saya berawal dari pelabuhan ini. Ada semacam tautan yang tak bisa dihilangkan antara diri saya dengan pelabuhan ini.
Dulu waktu saya masih sekolah di Padang, setiap minggu pagi saya olahraga lari pagi dari rumah, melewati sudut-sudut kota, lalu menyeberangi Sungai Batang Harau di daerah Muara, berjalan mendaki Bukit Padang dan melewati “makam” Siti Nurbaya. Di atas bukit ini saya istirahat sejenak. Nun di bawah sana terhampar laut yang jernih. Di kejauhan tampak Pulau Pisang dan Pulau Pandan. Saya jadi teringat pantun yang dibunyikan oleh Syamsul Bahri kepada Siti Nurbaya tatkala mereka berada di Bukit Padang (seperti ditulis di dalam novel Siti Nurbaya):
Pulau Pandan jauh di tengah
dibalik pulau Si Angsa Dua
hancur badan dikandung tanah
budi baik teringat jua.
Setelah usai istirahat, saya turun ke bawah hingga sampailah saya di Pantai Air Manis yang terkenal dengan legenda si Malin Kundang itu.

Di pantai ini saya duduk-duduk di atas batu si Malin Kundang sambil memandang ke arah laut. Ombak tidak henti-hentinya menggulung ke pantai. Melihat ke arah kapal yang berlayar saya sering membayangkan suatu saat diri saya naik kapal itu menuju sebuah negeri yang jauh.
Dari Pantai Air Manis ini saya mendaki bukit lagi menaiki puluhan anak tangga, lalu dari atas bukit tampaklah pelabuhan Teluk Bayur dan laut lepas yang terhampar luas. Sungguh Maha Besar Allah menciptakan lanskap alam yang begitu indah.

Teluk Bayur memang bukan pelabuhan yang ramai. Kapal-kapal yang datang hanyalah kapal barang. Satu dua kapal penumpang dari Sibolga atau kapal pesiar yang membawa wisatawan asing bersandar di sana. Entah kapan saya bisa lagi naik kapal penumpang dari pelabuhan ini. Mungkin nanti ketika ongkos pesawat sudah mahal kembali sehingga orang pun beralih naik kapal laut lagi. Mungkin nanti suatu saat ketika saya pulang mengunjungi sejarah masa lalu. Masih ada kapal ke Padang, kelak….


Tidak ada komentar:

Posting Komentar