Wisata Segoro Indah
Dalegan Gresik Mirip Pantai Kuta Bali

Kawasan Wisata Segoro
Indah Dalegan (Wisid) di Desa Dalegan, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik,
Jawa Timur, merupakan objek wisata alam yang menawarkan keindahan layaknya
Pantai Kuta, Bali. Pasir putihnya yang lembut dan air laut jernih dengan ombak
"flat", membuat para pengunjungnya betah berlama-lama, meskipun hanya
sekedar duduk-duduk sambil ngobrol, berada di objek wisata yang berada di
pantura (pantai utara) Laut Jawa ini. Tiap harinya tidak kurang dari 500
pengunjung, baik keluarga maupun muda-mudi menikmati udara segar Pantai
Dalegan. Lebih-lebih pada musim liburan, tiap harinya bisa mencapi sepuluh ribu
pengunjung. Menurut Kepala Desa Dalegan, Muzarodin, awalnya pantai dengan luas
lahan sekitar 3,5 hektare itu hanya pantai biasa yang tidak dibuka untuk umum.
Hanya dinikmati warga sekitar saja. Namun, lama-kelamaan, dari mulut kemulut,
pengunjung dari berbagai daerah, khususnya Jatim, terpikat dan merasa nyaman
dengan sajiaan keindahan Pantai Dalegan. Sejak itulah tahun 2003, warga desa
setempat mempunyai gagasan membuka pantai, sebagai tempat wisata umum. Bahkan,
di hari-hari tertentu Wisid menjadi tempat gelar budaya pesisir, kompetisi olah
raga, maupun karnaval budaya. Dibukanya pantai wisata Dalegan ini berdampak
pada kemajuan perekonomian masyarakat desa setempat.
Sebagian di antara mereka menggantungkan mata pencaharian dengan membuka tempat
usaha di sekitar lokasi wisata, seperti warung makan, menyewakan pelampung,
menjual cendera mata, yang tempat usahanya tiap bulannya ongkos sewa dipatok Rp
50 sampai Rp 75 ribu.
Tidak hanya itu, kontribusi yang disumbangkan dari hasil pengelola pantai
menjadikan Desa Dalegan berkembang sebagai desa mandiri, tidak seperti desa
desa lainnya.
Dari Pendapatan Asli Desa (PADes), Pemerintah Desa (Pemdes) Dalegan mampu
menyumbang fasilitas dan anggaran untuk lembaga-lembaga formal maupun informal
di daerahnya.
Ia mencontohkan, pemberian subsidi 28 lembaga pendidikan yang tidak mendapat
bantuan dari pemerintah, telah diberi satu set perangkat komputer.
Termasuk juga dengan organisasi olah raga seperti sepak bola dan voli yang ada
di Desa Dalegan, per bulannya juga diberi bantuan. Semua anggaran tersebut
dialokasikan dari PADes Dalegan.
Tidak hanya itu, pembangunan infrastruktur maupun anggaran untuk biaya
operasional desa seperti gaji perangkat desa, tidak hanya menggantungkan
Alokasi Dana Desa (ADD) dari Pemkab Gresik, semuanya juga disokong PADes.
Besarnya PADes Dalegan disumbang dari pendapatan Wisid, sekitar Rp400 juta per
tahunnya," katanya mengungkapkan.
"Anti-Investor" Lebih lanjut ia menjelaskan, pendapatan Wisid tidak
masuk dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Gresik, semuanya masuk ke
PADes. Hanya 10 persen dari tiket masuk dan 15 persen dari pendapatan parkir
disetorkan ke Pemkab Gresik untuk pembayaran pajak, nilainya sekitar Rp 5 juta
hingga Rp 7 juta per bulannya. Atas dasar itulah, warga di desa setempat
menolak tawaran pemerintah untuk mengembangkan Wisid dengan kerja sama
investor.
Mereka mengkhawatirkan, apabila Wisid dikelola oleh investor, tentunya bakal
menjadi wisata elite layaknya Wisata Bahari Lamongan (WBL), yang hanya bisa
dinikmati oleh kalangan menengah ke atas. Kendati masyarakat pesisir menolak
pengembangan pantai wisata Dalegan oleh pihak investor, namun Pemkab Gresik
tetap berupaya melakukan pendekatan dengan warga, demi untuk menata pantai
lebih baik. Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Gresik, Husnul Huluq bahkan
telah mengkonsep pengembangan wisata Pantai Dalegan dengan memperluas lahan
dari 3,5 ha menjadi 9 ha, bahkan telah membentuk tim panitia tujuh untuk proses
pembebasan lahan.
Warga pesisir sendiri tetap menolak pengembangan wisata pantai karena mereka
khawatir bakal tergusur. Pantai yang berjarak sekitar 60 km Barat Laut Kota
Surabaya atau 25 km dari Kota Gresik ini. Berada di jalur Pantura lama, yaitu
jalan Daendeles dari gresik hingga Tuban, sehingga sepanjang perjalanan
terutama di Kota Kecamatan Sidayu banyak dijumpai bangunan kuno, peninggalan
penjajah Belanda.
Selepas Kota Sidayu, masuk kawasan Dalegan melewati tambak bandeng maupun
udang, sepanjang 3 km dari jalan Pantura Daendeles menuju Dalegan bisa ditempuh
dengan angkutan pedesaan maupun ojek.
Bila ditempuh dari terminal Osowilangun Surabaya melintasi Pantura Daendeles
ongkosnya Rp8.000/orang, sementara angkutan pedesaan Rp 3.000,00/orang.
Sedangkan ojek, tergantung tawar menawar antara Rp 5.000,00 dan Rp 10.000,00
sekali jalan.