Jumat, 23 Desember 2011

KOTA SOLO



Pasar Malam Ngarsapuran

Pasca Revitalsiasi Kawasan Ngarsapuran yang berada di jalan Diponegoro Solo diiproyeksikan jadi sebuah pasar malam. dengan letaknya yang strategis, antara Jalan Slamet Riyadi dan Jalan Ronggo warsito , diharapkan Pasar malam Ngarsapuran bisa menjadi icon wiasta baru kota bengawan. NIlai lebih pasar malam ini adalah dekat dengan pasar antik windu jenar, pasar elektronik dan Pura mangkunegaran. Menurut rencana night market yang buka mulai pukul 17.00 hingga pukul 22.00 tersebut akan dihuni 344 pedagang yang dipayungi 86 tenda. Satu tendanya berisi empat pedagang. Namun untuk sementara ini baru berdiri 70 tenda dengan jumlah pedagang 280 orang



Gladag Langen Bogan(GALABO)
Walikota Solo Joko Widodo meresmikan Gladag Langen Bogan Solo , MInggu ( 13/4) malam. Gladag Langen Bogan merupakan Pusat jajanan malam ( wisata kuliner malam ) yang terletak di Jalan Mayor Sunaryo atau sisi selatan benteng Vastenburg


Taman Satwa Taru Jurug



Salah satu objek wisata paling populer di Solo adalah Taman Satwa Taru Jurug ( TSTJ ). TSTJ terletak di bagian timur kota Solo, tepatnya di pinggir sebelah barat Sungai Bengawan Solo. Apa yang menarik dari TSTJ ini? Yuk kita tengok taman yang akan menjadi BUMD ini.
Di TSTJ ini terdapat kebun binatang yang dahulu merupakan koleksi kebun binatang bon raja Sriwedari. Karena perkembangan dan perubahan tata kota kebon binantang di taman sriwedari dipindah ke Taman Jurug ini. Diantara binatang yang dipindh tersebut adalah gajah bernama Kiai Anggoro.
Selain itu dini terdapat taman bermain anak atau kids play ground. DI taman bermain ini para pengunjung yang datang bersama anak-anak bisa menunggang gajah atau sekedar bermain ayunan dan lain-lain.
Di tengah-tengah taman ini terdapat sebuah danau dimana para pengunjung bisa mengarunginya dengan menumpangi perahu yang ada. Atau bisa juga memancing ikan di danau ini.
Acara hiburan yang rutin diadakan pengelola adalah musik campursari dan dangdut. Acara tahunan yag menjadi andalan TSTJ adalah Grebeg Syawal yang disi dengan acara larung agung Jaka Tingkir yang menggambarkan perjalanan Jaka Tingkir mengarungi Sungai Bengawa Solo.
TSTJ buka setiap hari mulai jam tujuh pagi sampi dengan jam 5 sore. Harga tiket masuk TSTJ untuk golongan : Anak Rp. 3000,- untuk hari biasa . hari libur harga tiket naik menjadi Rp. 4000,- . Untuk golongan orang dewasa harga Tiket : Rp. 6000,- untuk hari biasa dan Rp. 7000,- pada hari libur.
Denah TSTJ ini bisa di lihat di www.tamanjurug.com/peta/Peta_Jurug.swf
Di bagian utara Taman jurug ini,dahulu merupakan arena balap moto cross. Pada jaman dahulu pembalap asal bandung, Popo Hartopo, sangat populer di Kota Solo karena sering berjaya di aren balap moto cross.
Taman jurug ini pertama kali dididirkan dan dikelola Tahun 1975 yang dikelola oleh PT. Bengawan Permai. namun karena masalah biaya dan pengelolaan yang tidak profesional sehingga kondisi taman ini sangat memprihatinkan. Hingga akhirnya Pemkot Solo mengambil alih pengelolaan dan anakn menjadikannya sebagau BUMD berbentuk PT.

Museum Radya Pustaka


Di kota Solo terdapat sebuah museum sejarah dan budaya yang bernama Museum Radya Pustaka. Museum Radya Pustaka merupakan museum tertua di Indonesia yang didirikan pada masa pemerintahan Paku Buwono IX tepatnya tanggal 28 oktober 1890 oleh kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV. Raden Adipati Sosrodidingrat IV adalah patih Pakubuwono IX dan Paku Buwono X.
Pada saat itu museum berada di dalam komplek dalem kepatihan. Untuk lebih memudahkan diakses oleh lebih banyak orang pada tanggal 1 januari 1913 musim ini dipindahkan ke lokasinya yang sekarang yaitu di Gedung Museum Radya Pustaka ( kompleks Taman Sriwedari ) jalan Slamet Riyadi. Gedung tersebut dulunya adalah tempat tinggal Johannes Buseelar, seorang warga negara Belanda.
Museum Radya Pustaka dikelola oleh Yayasan Paheman Radyapustaka Surakarta dan dibentuk pada tahun 1951. Presidium pertama dibentuk pada tahun 1966 dan diketahui oleh Go Tik Swan atau juga dikenal dengan nama K.R.T Hardjonagoro
Mesjid Laweyan Dan Makam Ki Ageng Henis
Masjid Laweyan merupakan masjid tertua di Laweyan, yang dididikan tahun 1546 Masehi. Menilik tahun bedirinya, mesjid ini dibangun sebelum Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya menjadi Sultan Pajang antara tahun 1568-1582.
Masjid Lawayan dibangun oleh Ki Ageng Henis. Ki Ageng Henis adalah Putra dari Ki Ageng Sela yang masih keturunan Raja Brawijaya yang berarti masih keturunan raja-raja Majapahit. Ki Ageng Henis inilah yang kemduian menurunkan raja-raja dinasti mataram islam.
Lahan mesjid Laweyan dulunya merupakan sanggar dari Ki Ageng Beluk. Ki Ageng Beluk adalah seorang murid dari Ki Ageng Henis yang masuk islam. Maka tak heran jika Lokasi Masjid ini disebut Kampung Belukan. Versi lain menyebutkan kampung itu diberi nama belukan karena kampung ini dulu menjadi seperti pesantren dimana selalu ada kegiatan menanak nasi untuk makan para santri sehingga selalu keluar asap dari dapur pesantren dan disebutlah wilayah ini sebagai Kampung Belukan (beluk = asap).
Dibelakang masjid terdapat komplek makam kerabat keraton pajang, kartosura dan Surakarta. Pintu gerbang makam dibangun pada masa Sunan Paku Buwono X dan didigunakan untuk ziarah ke makam dan hanya digunakan 1 kali saja karena 1 tahun setelah kunjungan itu beliau wafat.
Beberapa orang yang dimakamkan di tempat itu antara lain adalah :
Kyai Ageng Henis
Paku Buwono II
Permaisuri Paku Buwono V
Pangeran Widjil I Kadilangu ( pujangga Keraton Surakarta )
Nyai Ageng Pati
Nyai Pandanaran
Prabuwinoto anak bungsu dari Paku Buwono IX.
Kyai Ageng Proboyekso
Ki Ageng Beluk
Di makam ini terdapat tumbuhan langka Pohon Nagasari yang berusia lebih dari 500 tahun yang merupakan perwujudan penjagaan makam oleh naga yang paling unggul. Selain itu pada gerbang makam terdapat simbolisme perlindungan dari Betari Durga. Makam direnovasi oleh Paku Buwono X bersamaan dengan renovasi Keraton Kasunanan. Sebuah bangunan semacam pendapa yang diangkat dari pindahan Keraton Kartasura.







Benteng Vastenberg


Benteng megah di tengah Kota Bengawan ini, sekarang tinggal seongok bangunan yang tak berharga dan ditumbuhi rumput ilalang yang lebat. Dalam konteks morfologi perkotaan, benteng itu memiliki peranan penting yakni pusat hubungan Solo-Semarang. Kota Solo dalam periode XVIII-XIX, sebagai pusat perdagangan dan ditandai perkembangan kota kolonial. Uniknya, perkembangan ini tercipta dalam nuansa kekuasaan tradisionalistik Kerajaan Kasunanan Surakarta. Sisa-sisa artefak yang jadi bukti simbol perkotaan masih dapat ditemukan di sekitar benteng, di antaranya Gereja St Antonius, bekas gedung Javasche Bank, kantor pos, rumah Residen, jalan raya poros lurus Solo-Semarang, permukiman Eropa, dan Societet Harmoni.
Tipologi kota kolonial identik ditengarai adanya sebuah benteng. Belanda merias kota sejak era Kerajaan Kartasura. Waktu itu, urusan di wilayah kekuasaan raja pribumi ikut menjadi perhatian Belanda, misalnya keamanan, perniagaan, permukiman, tata kota dan kebijakan (stelsel). Di utara benteng, dulu kala digunakan sebagai tempat mangkal kapal-kapal dagang dari segala penjuru.
Wujud pengendalian, Belanda memfungsikan benteng ini untuk pengawasan aktivitas orang pribumi dan nonpribumi (Arab, China, dan Eropa). Pembatasan pembauran atau interaksi berbagai golongan penduduk di Solo menjadi masalah vital Belanda. Dalam catatan De Graaf, tertulis bahwa sebelum benteng Vastenberg berdiri, sudah ada benteng yang menjadi sarana pengawasan dan tempat militer, yakni Benteng Grodenmodenheit. Terbukti, sekitar tiga tahun lalu ditemukan meriam laras panjang oleh penggali pipa di dekat Telkom.
Residen Belanda bermarkas di kawasan benteng, di bawah komandan Gebernur Jenderal Belanda di Semarang. Pembentukan sumbu timur-barat adalah wajah dari jalan raya Solo-Semarang. Tak pelak, semua persoalan di Solo cepat terdengar di telinga Gebernur Jenderal di Semarang. Contohnya, geger pecinan abad XVIII, yang diakibatkan orang-orang China mengamuk yang akhirnya dapat teratasi dan dikejar sampai ke Jawa Timur. Ini tak lain berkat adanya pengawasan dalam benteng.
Pemetaan atau desain kolonial cukup jelas di Kota Bengawan walau dalam pengaruh kuat praja kejawen dari simbolisasi Kerajaan Jawa. Sebagai pembuktian, infrastruktur transportasi rel kereta api jurusan Wonogiri-Solo, di selatan benteng, mampu memotong konsep praja kejawen yaitu pandangan spiritual raja dari atas Pergelaran ke arah lurus utara Tugu Pemandengan.
Bila kita menyimak nilai-nilai historis Benteng Vastenberg, sepertinya tak rela melihat benteng ini rapuh dan rusak. Coba kita menyempatkan melongok ke dalam benteng, yang kita temukan hanyalah puluhan kambing yang sibuk makan rerumputan. Memang ironis, hanya benteng di Solo saja yang tergerus punah karena ulah tangan-tangan jahil, padahal beberapa benteng peninggalan kolonial Belanda di kota lain sudah menjadi aset wisata dan museum.
Sangiran

Sangiran adalah sebuah tempat atau situs manusia jaman purba. Pada tahun 1936 seorang ahli paleoantropologi bernama Dr. Von Koenigswald menemukan sekumpulan fosil mansuia purba lengkap di Sangiran ini. Fosil tersebut diperkirakan berumur 1,5 juta tahun.
Selain fosil manusia purba tersebut, ditemukan pula peralatan yang digunakan manusia purba pada masa itu seperti kapak batu dan lain-lain. Di kemudian hari ditemukan pula fosil-fosil binatang purba.
Menurut penelitian Sangiran awalnya adalah sebuah bukit yang dikenal dengan sebutan ”Kubah Sangiran”. Kubah itu kemudian tererosi pada bagian puncaknya sehingga membentuk sebuah depresi. Pada depresi itulah, tersingkap lapisan-lapisan tanah secara alamiah. Dari sinilah para ahli mendapatkan informasi yang sangat lengkap tentang kehidupan masa lampau
Sejak tahun 1977 Pemerintah telah menetapkan Sangiran sebagai kawasan cagar budaya melalui surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 070/0/1977, tertanggal 5 Maret 1977. Komite World Heritage Unesco juga menetapkan Sangiran sebagai kawasan warisan dunia atau World heritage No. 593
Luas wilayah situs yang sudah mendapat pengakuan internasional ini, kurang lebih 56 km2 yang mencakup tiga kecamatan di Kabupaten Sragen, yaitu Kecamatan Kalijambe, Gemolong dan Plupuh serta Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.
DI sini juga terdapat sebuah Museum Purbakala Sangiran. Museum ini memiliki kurang lebih 13.086 fosil tetapi yang dipamerkan hanya 2.931, sisanya sebanyak 10.875 lagi masih disimpan di gudang. Untuk melihat koleksi ini kita hanya perlu membayar Rp 1500, murah kan.
Sangiran yang terletak di kabupaten Sragen , bisa dicapai dengan mudah dari Kota Solo. Hanya kurang lebih 17 KM arah utara atau jurusan Purwodadi.


Air dianggap dapat menenangkan jiwa. Tidak heran, berbagai obyek wisata air baik wisata air alami maupun buatan kerap menjadi sasaran kunjungan untuk menghabiskan masa libur.
Di wilayah Solo Raya, ada obyek rekreasi air baru. Berlokasi di Solo Baru, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Pandawa Water World (PWW) menjadi salah satu alternatif pilihan mengisi masa berlibur bersama keluarga.
Mengikuti tren obyek wisata air lainnya, PWW tidak mau ketinggalan menawarkan wahana yang sedang digemari kini, water boom. Wahana lainnya adalah volcanic pond atau kolam air panas, water curtain, aerated crater, raft slide, racer slide, earth shower dan mountain cavern.
Selain menawarkan suasana rekreatif, atmosfer petualangan muncul kala me-nikmati beberapa wahana yang menantang nyali, seperti bungee jumping, body slide dan black hole.
PWW yang ingin langsung dikenal dan melekat di benak masyarakat kemudian menerapkan strategi mengangkat wayang guna memberi karakter pada wahana-wahana yang ada. Sebagai contoh, kolam ombak bernama Kresna Wave Pool. Wahana bungee jumping disebut Gatotkaca Bungee Tower dan Gatotkaca Drop Pool, sedangkan kolam anak dan balita berjudul Kunti Children and Toddler Pool.
Penamaan sekaligus personifikasi tokoh wayang tersebut berupa patung berukuran sangat besar yang mencolok dan menjadi kekuatan desain area water world secara keseluruhan.
Harga tiket masuk Rp 100.000 per orang untuk Sabtu-Minggu, Rp 35.000 per orang tiap Senin, dan Rp 50.000 per orang Selasa-Jumat.
Pada akhir pekan dan hari libur nasional, PWW dibuka pukul 08.00- 18.00. Sisanya dibuka pukul 10.00-18.00.
Untuk keamanan ada 25 life guard untuk tiap sif jaga. Jika ingin nyaman, bermain air lebih menyenangkan kala pagi atau sore hari ketika surya tidak terlalu terik.



Ayo………let’s go to SOLO ‘The Spirit of Java

Sebuah forum yang didedikasikan kepada pelestarian warisan budaya benda dan takbenda pada kota-kota bersejarah, utamanya pada kota-kota yang tercantum dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO, atau kota-kota yang memiliki warisan budaya takbenda yang diakui oleh UNESCO. Setiap dua tahun konferensi ini mengumpulkan para pakar dalam bidang pelestarian kota bersejarah serta pemanfaatannya untuk pariwisata dan peningkatan perekonomian kota; juga para walikota, politikus dan birokrat yang, serta memberikan kesempatan guna bertukar pengalaman dan mendiskusikan berbagai masalah terkait. Kawasan Euro-Asia dari Organisasi Kota-kota Warisan Dunia Zona Euro-Asia (the Organization of World Heritage Cities of Euro-Asia Section), yang didirikan pada tahun 2003, adalah penyelenggara utama Konferensi ini.
Konferensi yang pertama diselenggarakan di Kazan tahun 2004. Konferensi-konferensi selanjutnya diselenggarakan di Safranbolu (Turki) tahun 2005 dan di Lijiang (Cina) tahun 2006.
Agenda:
1.Konferensi internasional dengan tema Perlindungan Warisan Budaya Takbenda dan Pembangunan Kota Berkelanjutan
2.Workshop Pembuatan keris, Batik, Wayang, dan Gamelan.
3.Tur ke Pasar tradisional, Keraton Kasunanan Surakarta,dan kampung batik di Kauman dan Laweyan.
4.Pameran Batik dan Bazar Batik sebulan penuh.
So….Ditunggu kedatangan temen2 di SOLO The Spirit of Java,
Nuwun………..
Secretariat of the Organizing Committee of Solo:
Loji Gandrung (Guest House)
Jl. Slamet Riyadi 261, Solo 57141, Central Java, INDONESIA
Phone/fax: +62 271 734939
E-mail:whc.conference{at}yahoo.co.id
namun Buat yang doyan makan, kalo maen ke Solo hukumnya “wajib” ke sini. Tempatnya di tengah jalan, tapi dijamin deh….bersih. BTW makanannya ….wow ueeenakk tenan ! Semua makanan di sini adalah “makanan tradisional khas Solo”.
,,,just info (dan promo) gue sudah 7 kali makan di tempat ini, dan selalu mencoba tempat yg berbeda (Tengkleng Pasar Klewer, Susu Shijack, Nasi liwet, Bubur lemu & Wedang dongo, Bistik lidah, Gudek ceker Bu Kasno, Sate sapi “Yu Rebi”), dan semuanya : mak nyusssss




 Sebenarnya Pariwisata di Soloraya nih bagus2 dan ngga kalah dengan tetangga yg sudah maju duluan, promosinya aja yg belum optimal (orang Solo belum pandai promosi, masih terikat dengan sifat wong Solo yg terlalu santun dan ngga suka pamer sih -dalam arti yg positif-…sifat yg harus diubah).
Ini salah satu tempat wisata Pemandangan di Villa Jumok (Sukuh Cottage), deket Candi Sukuh Solo Raya (disewakan dan murah +/- Rp.200ribu/malam) —enak untuk ngadem menghilangkan stress ataupun menyepi.  Beautifull journey, perlu di coba














Tidak ada komentar:

Posting Komentar