Sabtu, 03 November 2012

GOA SUMITRO
















GOA SUMITRO
Merupakan goa petilasan Pangeran Bambang Sumitro. Terletak hanya sekitar 200 meter di bawah goa Kiskendo. Keadaan stalaktit dan stalakmit yang masih alami menambah pesona pemandangan alam bawah tanah. Goa ini sangat digemari para pecinta alam dan caver juga oleh institusi untuk mengadakan penelitian ilmiah. Goa Sumitro mempunyai mulut vertikal dan mulut horisontal, dengan sungai bawah tanah yang mengalir di dalam goa. Apabila melanjutkan perjalanan sekitar 2 km ke arah barat daya, wisatawan dapat menyaksikan petilasan perjalanan cinta “Bandung Bondowoso” berupa Watu Blencong, Gunung Kelir dan di Tamanan, wisatawan dapat menyaksikan secara utuh pesona kabupaten Kulon Progo dan waduk Sermo.

Jumat, 24 Agustus 2012

Goa Kebon







Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Baung terletak di Desa Cowek, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Propinsi Jawa Timur. Kawasan ini sudah ditetapkan sebagai kawasan Taman Wisata Alam oleh Menteri Pertanian melalui Surat Keputusan No. 657/Kpts/Um/9/1980 pada tanggal 11 September 1980. Dasar penunjukkan kawasan ini sebagai taman wisata alam, karena Gunung Baung yang berdampingan dengan Kebun Raya Purwodadi ini mempunyai keanekaragaman hayati dan keindahan alam. Untuk menuju lokasi TWA Gunung Baung ini dapat dicapai dengan mudah, baik dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi, karena kawasan ini berada di tepi jalan raya Surabaya - Malang, tepatnya di belakang Kebun Raya Purwodadi. Jarak dari kota Surabaya menuju TWA Gunung Baung sekitar 60 km, dapat dicapai dalam waktu sekitar 90 menit perjalanan. Sedangkan dari kota Malang hanya berkisar 30 km atau 45 menit. Jalan masuk untuk mencapai pintu gerbang utara hanya sekitar 700 m dari jalan raya Pasuruan - Malang, atau Kebun Raya Purwodadi. Di kawasan TWA Gunung Baung ada dua sungai permanen yang terus mengalir sepanjang tahun, yaitu Sungai Welang dan Sungai Beji. Untuk menyeberangi Sungai Welang, di bagian hulu terdapat jembatan layang yang membentang di atas sungai. Kedua aliran sungai tersebut dapat digunakan untuk sarana air bersih, irigasi, pembangkit energi, memancing, atau kegiatan susur sungai (fun-rafting dan river boat). Kegiatan menyusuri sungai menggunakan perahu karet dengan memanfaatkan batuan sungai sebagai lintasan/track. Selama melakukan pengarungan, pengunjung juga dapat menonton aksi kelelawar besar yang bertengger di pohon pada musim tertentu. Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Baung memiliki hutan tropis dataran rendah yang menyimpan keanekaragaman hayati yang masih alami. Salah satunya yang paling unik kawasan komunitas hutan bambu. Selain itu juga terdapat pohon beringin (Ficus benyamina), walikukun (Scoutenis ovata), dan saga (Abrus precatorius) yang turut menghiasi hutan tropis yang ada. Kawasan hutan berlokasi TWA Gunung Baung cukup ideal untuk kegiatan pendidikan , penelitian, rekreasi, maupun petualangan. Air Terjun Coban Baung dengan ketinggian ± 100 meter merupakan atraksi yang menarik bagi pengunjung. Air terjun tersebut merupakan pertemuan dua aliran sungai, yaitu Sungai Welang dan Sungai Beji. Tebing-tebing yang tinggi di sekitar Coban Baung juga bakal menambah keindahan tempat ini. Selain Air Terjun Coban Baung, di sisi timur TWA Gunung Baung juga terdapat empat air terjun dengan ketinggian 10-20 meter yang terletak di sepanjang aliran Sungai Beji. Keindahannya juga tidak kalah dengan Air Terjun Coban Baung.

Clereng







Selasa, 31 Januari 2012


"http://objekwisatha.blogspot.com"/</"head"></"body">

Jumat, 27 Januari 2012

Pesona Pantai-Pantai Pacitan


Pesona Pantai-Pantai Pacitan – alami itu indah
Beberapa hari yang lalu, tepatnya Jumat, 19 Juni 2009, saya berkesempatan ikut hunting foto landscape bersama salah satu klub fotografi sidoarjo (KOPDAR). Tujuan hunting kali ini adalah pantai-pantai di selatan Pacitan, mulai Pantai Srau, Buyutan dan Klayar.
Saya adalah satu-satunya peserta hunting yang berasal dari luar kota, sementara yang lainnya dari Sidoarjo dan seputaran Surabaya. Kami janjian bertemu di Terminal Bungurasih, sehingga saya harus berangkat lebih awal dari jadwal pertemuan jam 18.30 WIB. Sehingga, saya dari Malang berangkat pukul 15.00 WIB, karena takut kena macet di Porong Sidoarjo yang sampai sekarang masih belum normal.
Tepat jam 17.30 saya sampai di Terminal Bungurasih, dan langsung saja saya online sebentar di FN, ternyata ada kendala di lapangan salah satu peserta molor sampai jam 20.00, terpaksa saya nunggu di Terminal sambil ngopi di salah satu stan donat di depan terminal. Sempat juga terbesit dalam pikiran untuk mengeluarkan kamera dan mengabadikan momen-momen di terminal, tetapi segera saja saya sadar bahwa ini bukanlah lingkungan yang bersahabat.
Sekitar jam delapan lebih sedikit, saya ketemu dengan beberapa teman Sidoarjo, tapi belum semuanya lengkap. Setelah nunggu sampai jam 21.00 akhirnya semua peserta sudah lengkap dan berangkat menuju Pacitan. Perjalanan Surabaya – Pacitan ditempuh kurang lebih 7-8 jam.
Jam 5 pagi, kami sampai di spot pertama, Pantai Srau. Tidak ada kehidupan di situ, hanya hamparan kebun kelapa dan suara deburan ombak yang menghantam karang dan pantai. Kami menunggu momen sunrise di situ dan mengambil beberapa foto.
Sampai jam 7.21 pagi, kami pindah spot ke sisi selatan Pantai Srau untuk mengambil beberapa foto, dan setelah itu kami berkemas untuk menuju ke perkampungan nelayan di Watu Kurung. Di situ kami sarapan pagi dan oleh penduduk diberitahu bahwa ada Pantai bagus di sekitar kampung nelayan tersebut. Segera saja kami menuju ke sana. Namanya Pantai Pasir Putih karena memang pantainya berwarna putih bersih. Pantai ini jarang sekali dijamah manusia, hanya nelayan di sekitar pantai tersebut yang menyambangi pantai untuk mencari kepiting dan ikan.
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Klayar dan tiba di tujuan sekitar pukul 13.19.  Kami hanya mampir sebentar untuk booking MCK kepada juru kunci pantai dan langsung menuju ke Pantai Buyutan untuk mengejar sunset. Sayang sekali sampai di Buyutan kami tidak berhasil mendapatkan sunset karena posisi matahari sedang tepat di arah barat di balik karang.
Pukul 17.32 kami balik lagi ke Pantai Klayar, cari makan malam dan siap-siap untuk tidur sekitar pukul 21.30. Waktu istirahat benar-benar kami manfaatkan karena seharian kami menempuh perjalanan jauh dan kurang istirahat, sambil mempersiapkan fisik untuk pengambilan foto sunrise dan landscape esok harinya.
Jam 5 pagi kami mulai pasang peralatan di pantai untuk mengabadikan momen-momen pagi di Pantai Klayar. Mulai matahari belum tampak sampai matahari kira-kira 15 derajat posisinya. Setelah itu kami berkemas untuk kembali ke Surabaya dan saya turun di Nganjuk untuk mengunjungi kampung halaman.
Hunting kali ini benar-benar membuka mata saya tentang fotografi landscape yang sebenarnya, dimana peran filter, terutama CPL, ND, dan Grad ND benar-benar sangat vital. Untuk tahap berikutnya, filter wajib dibawa, dan kebetulan saya sudah mulai mengumpulkan filter ND4 dan ND8.
Berikut beberapa foto yang saya ambil di beberapa lokas
iBerburu sunrise di Pantai Srau





Pantai Pasir Putih

Pantai Buyutan


Pantai Klayar



Wisatanesia.com-Pantai Klayar berada di Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Pantai Klayar Ini berada sekitar 35 km ke arah barat Kota Pacitan. Pantai Klayar dapat di capai sekitar 60 menit dari kota pacitan.

di pinggiran Pantai Klayar banyak gundukan yang memiliki ciri khas dari pantai lain yang berada di pacitan.


Pantai berpasir putih ini memiliki keistimewaan di antara celah karang dan deburan ombak yang melambai yang bisa berbunyi seperti seruling laut . Memiliki pasir putih dan air berwarna biru yang menyenangkan untuk dikunjungi dan di nikmati. Di samping itu juga ada air mancur alam .
Air mancur ini terjadi karena gelombang tekanan udara di laut yang menghantam batu batuan berongga. ketinggian air mancur yang dapat mencapai sekitar 10 meter dan bisa menghasilkan gerimis dan embun air laut yang oleh masyarakat sekitar diyakini memiliki kualitas khusus sebagai obat awet muda.
Wisata Indonesia
Surga Dunia





Kamis, 26 Januari 2012

Pulau Gili dan Noko


Pulau Gili dan Noko Jadi Objek Wisata


Pulau Gili Timur dan Pulau Noko yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Gresik, Jawa Timur, mendadak menjadi objek wisata bagi para perantau yang pulang kampung ke Pulau Bawean. “Sejak usai salat Id, Minggu (20/9), banyak orang berdatangan kemari,” kata Agung Abdullah, nelayan asal Pulau Gili Timur, saat dihubungi dari Surabaya, Selasa.
Menurut dia, mereka yang rata-rata penduduk asli Pulau Bawean yang selama ini tinggal dan menetap di Malaysia dan Singapura itu menginap di Pulau Gili Timur. Pagi harinya mereka berjalan kaki menuju Pulau Noko. Pulau yang seluruh permukaannya itu berupa pasir putih tersebut bisa diseberangi pejalan kaki jika permukaan air laut sedang surut.
Pulau Noko yang berjarak kurang dari satu mil laut itu selama ini tidak berpenghuni sehingga para wisatawan bisa bermain pasir putih sepuasnya di pulau yang berada di tengah-tengah Laut Jawa itu.
Ramainya Pulau Gili dan Pulau Noko itu tak seperti biasanya. Pada hari-hari biasa, hanya ada beberapa perahu kelotok milik para nelayan yang melayani warga Pulau Gili untuk berbelanja ke Pulau Bawean.
Itu pun hanya pada pagi hari antara pukul 06.30 hingga 09.00 WIB. Selebihnya, warga Pulau Bawean yang hendak menuju Pulau Gili harus mencarter perahu kelotok dengan tarif Rp50 ribu untuk sekali jalan.
Namun Lebaran tahun ini ramai sekali, bahkan warga Dusun Pamona, Desa Sidogedungbatu, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, menyediakan lahan parkir untuk kendaraan para wisatawan lokal yang hendak menuju ke Pulau Gili Timur dan Pulau Noko.
Ramainya kunjungan wisatawan lokal itu menjadi berkah tersendiri bagi para nelayan di Pulau Gili Timur. “Kebetulan sekarang ikan lagi sepi. Ini menjadi penghasilan tersendiri bagi kami,” kata Agung menuturkan.

Sedekah Bumi Betiring




Rabu (26/11), ratusan warga Dusun Betiring, Desa Banjarsari, Gresik menggelar ritual sedekah bumi. Kendati sudah ratusan tahun digelar, tapi tetap menarik dan berpotensi dijadikan objek wisata.

Ritual diawali Kamis (20/11) malam saat itu, kaum laki-laki melaksanakan ’nyekar’ ke makam Kiai Ageng Betiring dan Makam Kanjeng Sunan Giri berada di Komplek Pemakaman Sunan Giri. Dilanjutkan ‘nyekar’ ke komplek makam leluhur yang diberi nama Kulahan.

Hubungan Kiai Ageng Betiring dengan Sunan Giri adalah sebagai abdidalem sekaligus penasehat. Konon beliau mendapat tugas menyiarkan agama Islam di beberapa tempat di Gresik. Bahkan, saat perang dengan Kerajaan Brawijaya, Kiai Ageng Betiring melatih warga desa sekitar menjadi prajurit.

Kemudian, Rabu pagi sekitar pukul 06.00 WIB dengan arak tabuhan 'bende', pusaka yang berupa gong kecil, oleh Ki Priambodo, 65, sesepuh desa untuk mengumpulkan masyarakat desa. Setelah berkumpul, Pri -begitu sesepuh itu dipanggil- membuka payung pusaka. Payung dan bende diarak berkeliling kampung sambil membaca Sholawat Nabi yang dikahiri di lokasi hajatan, perempatan Betiring.

Siangnya, sekitar pukul 09.00 WIB, setiap kepala keluarga mengeluarkan aneka jajanan dari hasil bumi yang dihias di ancak. Ancak-ancak yang jumlah sekitar 500 tersebut dijajar dari empat penjuru mata angin di perempatan Dusun Betiring. Di setiap jalurnya, tertata dua baris ancak. Di tengahnya duduklah pemilik dengan tikar seadanya.
 Sekilas memang seperti ritual sedekah bumi biasa. Ada jajanan dihadiri para pejabat muspida hingga muspika. Ada sambutan bergantian dan dilanjutkan dengan tukar jajanan yang dibawa para warga sebagai tanda syakur kepada Allah SWT. Nmaun, bila ditelaah secara seksama ritual warga Betiring tersebut berpotensi untuk dijadikan objek wisata.
 Keunggulannya, kendati digelar ratusan tahun lalu, namun tetap terjadi nilai history budayanya. Selain jajanan hasil bumi yang disuguhkan punya keunikan dan kekhasan, ritual tersebut juga merupakan bagian dari peninggalan Bupati Gresik pertama, Kanjeng Ngabehi Tumenggung Pusponegoro (1617 Masehi).
 Ki Priambodo menurturkan, konon ritual itu ada sebelum bende dan payung. Kian bernilai sejarah, setelah ada bende dan payung peninggalan bupati pertama. Kbetulan bende dan payung itu melambangkan kesejahteraan warga Betiring. Ritula itu sendiri bertujuan sebagai rasa syukur atas melimpahnya hasil bumi warga Betiring yang didominasi bertani dan berkebun.
 "Pusaka bende dan payung berumur sekitar 290 tahun. Sebagai rasa terimakasih hadiah dari bupati itu kami pakai sebagai bagian kegiatan sedekah bumi," kenang Pri.
 Adapun keunikan dan kekhasan lain adalah ancak. Ancak terbuat dari kayu sebagai lambang papan. Kemudian, setiap ancak ada empat rengginang (kerupuk dari ketan) sepanjang 1 meter yang dibentuk menyerupai tanduk kerbau yang diletakkan di empat pojok yang dilambangkan kesuburan. Sebab, kala dulu masyarakat Betiring membajak sawahnya dengan menggunakan kerbau.
 Ancak itu berisi beraneka makanan dan minuman yang bersumber pada hasil alam. Aneka buah dan jajanan anak-anak dapat ditemui. Karena banyaknya jajanan, ancak tersebut perlu diusung 2 orang. Banykanya jananan tersebut nilai semua ancak hingga sampai Rp1 juta dan paling rendah Rp300 ribu.

“Setiap rancangan ancak menghabiskan dana sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu. Bahkan ada yang ancaknya menghabiskan dana lebih dari Rp1 juta,” aku Moh Qosim, 41, warga RT II Betiring.

Kendati habis hingga jutaan, ritual yang jatuh setiap penanggalan 27 Dulkangidah menjadi hari yang istimewa bagi warga Betiring. Di hari yang diyakini keramat itu tak satupun warga turun ke sawah. Bahkan beberapa warga yang bekerja dinas, memilih meliburkan diri.

Hal itulah yang membuat Bupati Robbach Ma'sum mengusulkan supaya ritual tersebut dikonsep yang lebih baik. Nantinya dapat dijual sebagai objek wisata kebangaan Gresik. "Ritual ini dapat dijadikan sebagai objek wisata," katanya dalam sambutannya.




LETAK GEOGRAFIS


LETAK GEOGRAFIS :
Kecamatan Panceng terletak di wilayah Kab. Gresik bagian utara yang berjarak ± 53 Km dari kota Gresik, adapun sebagian besar wilayah Kec. Panceng merupakan dataran tinggi dengan ketinggian antara 50 - 100 meter diatas permukaan air laut (dpl).

LUAS WILAYAH :
Luas wilayah Kec. Panceng ± 5.273.661 m2 dengan jumlah penduduk yaitu laki-laki : 25.583 dan perempuan : 23.525 dengan total keseluruhan adalah 47.348 jiwa dan sebagian besar wilayah Kec. Panceng merupakan daerah pertanian dan dataran tinggi pegunungan kapur dengan iklim sedang yang berkisar antara 20 s/d 35 ÂșC.

KEADAAN ALAM :
Wilayah kecamatan panceng dapat dibagi menjadi 2 (dua) bagian wilayah yaitu wilayah pesisir yang terletak di Panceng sebelah utara dengan sebagian besar wilayahnya berupa daerah pantai dan sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan sedangkan untuk wilayah Panceng bagian selatan berupa dataran sedang dan tinggi yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani.

PENGGUNAAN TANAH :
Penggunaan lahan diwilayah Kec. Panceng sebagian besar berupa lahan pertanian tadah hujan dan daerah pegunungan yang sebagian dimanfaatkan sebagai pertambangan batu kapur sedangkan sisanya berupa lahan pemukiman, perkebunan dan tambak rakyat, selain hal tersebut diatas terdapat juga pengembangan dan pengelolaan objek wisata seperti pantai pasir putih dalegan dan petilasan sunan kalijaga.

Wisata Gresik


Wisata Segoro Indah Dalegan Gresik Mirip Pantai Kuta Bali

Kawasan Wisata Segoro Indah Dalegan (Wisid) di Desa Dalegan, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, merupakan objek wisata alam yang menawarkan keindahan layaknya Pantai Kuta, Bali. Pasir putihnya yang lembut dan air laut jernih dengan ombak "flat", membuat para pengunjungnya betah berlama-lama, meskipun hanya sekedar duduk-duduk sambil ngobrol, berada di objek wisata yang berada di pantura (pantai utara) Laut Jawa ini. Tiap harinya tidak kurang dari 500 pengunjung, baik keluarga maupun muda-mudi menikmati udara segar Pantai Dalegan. Lebih-lebih pada musim liburan, tiap harinya bisa mencapi sepuluh ribu pengunjung. Menurut Kepala Desa Dalegan, Muzarodin, awalnya pantai dengan luas lahan sekitar 3,5 hektare itu hanya pantai biasa yang tidak dibuka untuk umum. Hanya dinikmati warga sekitar saja. Namun, lama-kelamaan, dari mulut kemulut, pengunjung dari berbagai daerah, khususnya Jatim, terpikat dan merasa nyaman dengan sajiaan keindahan Pantai Dalegan. Sejak itulah tahun 2003, warga desa setempat mempunyai gagasan membuka pantai, sebagai tempat wisata umum. Bahkan, di hari-hari tertentu Wisid menjadi tempat gelar budaya pesisir, kompetisi olah raga, maupun karnaval budaya. Dibukanya pantai wisata Dalegan ini berdampak pada kemajuan perekonomian masyarakat desa setempat.
Sebagian di antara mereka menggantungkan mata pencaharian dengan membuka tempat usaha di sekitar lokasi wisata, seperti warung makan, menyewakan pelampung, menjual cendera mata, yang tempat usahanya tiap bulannya ongkos sewa dipatok Rp 50 sampai Rp 75 ribu.
Tidak hanya itu, kontribusi yang disumbangkan dari hasil pengelola pantai menjadikan Desa Dalegan berkembang sebagai desa mandiri, tidak seperti desa desa lainnya.
Dari Pendapatan Asli Desa (PADes), Pemerintah Desa (Pemdes) Dalegan mampu menyumbang fasilitas dan anggaran untuk lembaga-lembaga formal maupun informal di daerahnya.
Ia mencontohkan, pemberian subsidi 28 lembaga pendidikan yang tidak mendapat bantuan dari pemerintah, telah diberi satu set perangkat komputer.
Termasuk juga dengan organisasi olah raga seperti sepak bola dan voli yang ada di Desa Dalegan, per bulannya juga diberi bantuan. Semua anggaran tersebut dialokasikan dari PADes Dalegan.
Tidak hanya itu, pembangunan infrastruktur maupun anggaran untuk biaya operasional desa seperti gaji perangkat desa, tidak hanya menggantungkan Alokasi Dana Desa (ADD) dari Pemkab Gresik, semuanya juga disokong PADes. Besarnya PADes Dalegan disumbang dari pendapatan Wisid, sekitar Rp400 juta per tahunnya," katanya mengungkapkan.
"Anti-Investor" Lebih lanjut ia menjelaskan, pendapatan Wisid tidak masuk dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Gresik, semuanya masuk ke PADes. Hanya 10 persen dari tiket masuk dan 15 persen dari pendapatan parkir disetorkan ke Pemkab Gresik untuk pembayaran pajak, nilainya sekitar Rp 5 juta hingga Rp 7 juta per bulannya. Atas dasar itulah, warga di desa setempat menolak tawaran pemerintah untuk mengembangkan Wisid dengan kerja sama investor.
Mereka mengkhawatirkan, apabila Wisid dikelola oleh investor, tentunya bakal menjadi wisata elite layaknya Wisata Bahari Lamongan (WBL), yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan menengah ke atas. Kendati masyarakat pesisir menolak pengembangan pantai wisata Dalegan oleh pihak investor, namun Pemkab Gresik tetap berupaya melakukan pendekatan dengan warga, demi untuk menata pantai lebih baik. Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Gresik, Husnul Huluq bahkan telah mengkonsep pengembangan wisata Pantai Dalegan dengan memperluas lahan dari 3,5 ha menjadi 9 ha, bahkan telah membentuk tim panitia tujuh untuk proses pembebasan lahan.
Warga pesisir sendiri tetap menolak pengembangan wisata pantai karena mereka khawatir bakal tergusur. Pantai yang berjarak sekitar 60 km Barat Laut Kota Surabaya atau 25 km dari Kota Gresik ini. Berada di jalur Pantura lama, yaitu jalan Daendeles dari gresik hingga Tuban, sehingga sepanjang perjalanan terutama di Kota Kecamatan Sidayu banyak dijumpai bangunan kuno, peninggalan penjajah Belanda.
Selepas Kota Sidayu, masuk kawasan Dalegan melewati tambak bandeng maupun udang, sepanjang 3 km dari jalan Pantura Daendeles menuju Dalegan bisa ditempuh dengan angkutan pedesaan maupun ojek.
Bila ditempuh dari terminal Osowilangun Surabaya melintasi Pantura Daendeles ongkosnya Rp8.000/orang, sementara angkutan pedesaan Rp 3.000,00/orang. Sedangkan ojek, tergantung tawar menawar antara Rp 5.000,00 dan Rp 10.000,00 sekali jalan.

Rabu, 25 Januari 2012

Nikmati Deburan Ombak Pantai Tambakrejo


Nikmati Deburan Ombak Pantai Tambakrejo

Musim libur lebaran telah tiba, tentu aku manfaatkan untuk berwisata. aku mengunjungi salah satu tempat wisata di Blitar Jawa timur. Pantai Tambakrejo namanya, ya.. salah satu perkampungan nelayan yang ada di selatan Blitar yang menjadi ikon Kabupaten Blitar setelah Taman Makam Bung Karno (TMBK)
Pantai Tambakrejo berada di kecamatan Wonotirto, desa Tambakrejo, Kabupaten Blitar. Untuk bisa mencapai pantai Tambakrejo perjalanan yang aku tempuh kurang lebih 30 km dari pusat kota Blitar. Jalan menuju pantai juga terbilang nyaman, meskipun tidak terlalu lebar jalan sudah ber-aspal. Jalanan berkelok, berbukit, suasana pedesaan, menambah indahnya perjalanan saya. Dan dengan membayar Rp2 ribu/orang anda akan di suguhi keindahan alam yang luar biasa indahnya.
Hamparan pasir putih yang membentang sepanjang satu kilometer, dan debur ombak pantai selatan yang cukup deras seakan kita di manjakan oleh keindahan laut birunya. Buat anda yang datang ke tempat ini dapat melakukan aktifitas seperti mandi di tepi laut, memancing, berjemur, atau hanya menikmati keindahannya. Fasilitas umum di pantai Tambakrejo juga terbilang lengkap, mulai tempat parkir kendaraan, tempat ibadah, air bersih juga tersedia di sana. Pantai ini sangat ramai di kunjungi wisatawan pada musim liburan, akan tetapi tak jarang pula pada hari minggu pun juga bayak yang datang ke pantai ini. Bagi anda yang ingin menginap, di tempat ini tidak ada penginapan. Khusus para pengunjung yang ingin mandi di pantai agar berhati-hati, mengingat ombak laut cukup deras, dan papan peringatan ini sudah terpampang jelas pada saat anda memasuki wilayah pantai.

Pasir Putih Pantai Tambakrejo
Kegiatan tahunan yang di miliki pantai ini adalah setiap bulan Suro, tepatnya 1 Suro (1 Muharam) warga desa setempat melakukan larung sesaji sebagai tanda syukur kepada Tuhan atas rezeki dan keselamatan yang di terima para nelayan desa setempat, memohon agar desa tersebut di jauhkan dari mala bahaya. Pada saat larung sesaji pengunjung berdatangan dari berbagai penjuru daerah bahkan tidak sedikit yang datang dari luar kota, jumlahnya pun bias mencapai ribuan orang.
Jika anda ingin menikmati hasil laut pantai Tambakrejo, anda juga dapat membeli ikan segar dari nelayan yang pulang melaut, jenis ikan yang di tangkap nelayan sangat beragam, ada ikan kakap, tuna, layur, tongkol, dan tak jaarang pula para nelayan membawa ikan hiu. Atau anda ingin menikmati ikan bakar khas Tambakrejo? Anda juga dapat membelinya di pasar ikan yang tempatnya tak jauh dati pantai. Anda bisa menikmati suasana pantai dengan santapan ikan bakar di tepi pantai.

deburan Ombak di Batu Karang
Rute perjalanan dari kota Blitar menuju pantai Tambakrejo adalah menggunakan angkutan umum (angkutan pedesaan). Dari terminal bus kota Blitar naik angkutan pedesaan dengan tujuan Gawang (pantai Tambakrejo). Perjalanan kurang lebih memakan waktu 1-2 jam. Memang agak lama di karenakan angkutan tersebut lebih sering menunggu penumpang selama perjalanan. Angkutan ini beroperasi mulai jam 3 pagi sampai jam 3 sore. Sedangkan dari Gawang (pantai Tambakrejo) angkutan juga sampai dengan jam 3 sore, selepas jam tersebut akan sangat sulit untuk mendapatkan angkutan. Untuk lebih memudahkan nya, anda bisa membawa kendaraan pribadi atau menyewa kendaraan yang ada di seputaran kota Blitar.
Biaya  Perjalanan :
Surabaya – Blitar : Rp. 18.500,- (Kereta Api)
Surabaya (terminal Purabaya)– Blitar (bus mini, patas) : Rp. 50.000,-
Stasiun Blitar – terminal bus, Blitar (angkot) : Rp. 3.000,-
Terminal Blitar – Gawang, Tambakrejo (angkutan desa) : Rp. 15.000,-
Restribusi masuk wilayah pantai : Rp. 2.000,- / orang