Kompleks
Gua wisata baik gua alam maupun buatan yang terletak sekitar 42 km barat daya
Kebumen ini mencakup kawasan seluas 5,5 hektare. Objek wisata ini telah
dilengkapi dengan prasarana wisata seperti tempat parkir, peturasan, tempat
bermain, kios makanan, buah-buahan dan toko cindera mata.
Kompleks Gua Jatijajar mencakup Gua Jatijajar, Gua Dempok, dan Gua Intan.
Kawasan ini berada sekitar 250 m di atas permukaan laut. Sistem pergunaan
berkembang pada kehadiran fosil-fosil seperti Lepidocylina sumatrensis Brady,
L. elegans Tan dan Cycloclypeus annulatus Martin selain menunjukkan umur batuan
juga sekaligus menciri lingkungan asalnya, yaitu laut dangkal yang mempunyai
kedalaman maksimum 60 m.
Kira-kira 14-11 juta tahun lalu daerah ini masih merupakan paparan laut
dangkal, yang kemudian terangkat hingga ketinggiannya sekarang akibat sifat
bumi yang dinamis. Tidak adanya sedimen lain yang menutupi lapisan batu gamping
di daerah Gombong selatan menunjukkan jika sejak 10 juta tahun lalu daerah ini
sudah berada di atas permukaan laut. Dihitung dari kurun waktu kurang dari 10
juta tahun telah terjadi pengangkatan setinggi lebih dari 300 m. Pengangkatan
itu menyebabkan batuan terkekarkan dan tersesarkan. Curah hujan yang tinggi
mempercepat terjadinya proses karstifikasi, membentuk kars sebagaimana terlihat
sekarang.
Gejala endokars ini mempunyai mulut gua yang berbangun melengkung tinggi dan
lebar. Pada dinding pintu masuk sebelah kanan tersingkap sisa endapan sedimen
gua yang kaya fosil moluska. Beberapa spesies grastropoda dan pelecypoda
terawetkan baik pada lapisan lempung pasiran berwarna coklat tua. Sedimen
berfosil ini dapat dikorelasikan dengan sedimen sejenis yang tersingkap di
pintu masuk Gua Intan. Sediman di dalam Gua juga tersingkap pada sebuah sisa
kanopi tua, beberapa meter dari pintu masuk. Cangkang-cangkang pipih pelecypoda
pada sedimen gua ini tersusun secara alami ke arah utara sejajar dengan arah lorong
utama masuk gua, yaitu utara-selatan. Bagian atap dan dinding pintu masuk gua
dipenuhi oleh tulisan nama-nama pengunjung. Gravity yang paling tua tertanggal
tahun 1805.
Pembentukan kanopy di dekat pintu masuk Gua Jatijajar menunjukkan adanya sungai
bawahtanah yang pernah aktif beberapa ratus ribu tahun yang lalu. Proses
pengangkatan menyebabkan sungai menjadi kering, karena air mencari permukaan
air tanah setempat yang letaknya lebih rendah. Sungai bawah tanah yang masih
aktif di dalam Gua Jatijajar tersingkap melalui beberapa sendang, yang letaknya
berkisar antara 1-3 m di bawah lorong fosil utama.
Sendang Kantil dan Sendang Mawar adalah kolam-kolam sungai bawah tanah yang
dibuka untuk umum. Dua sendang lainnya yaitu Jombor dan Puserbumi tidak dapat
dimasuki wisatawan umum, kecuali mendapat ijin dari pengelola kawasan wisata.
Sebagai mata air, Sendang Puserbumi merupakan sebuah sumuran tegak bergaris
tengah sekitar 50 cm. Sementara Sendang Jombor yang dihuni seekor pelus
sepanjang lebih dari 1 m mempunyai sifon di dasarnya. Sifon ini dapat
ditelusuri dengan metode penyelaman (cave diving). Beragam bentukan pengendapan
ulang larutan CaCO3 jenuh yang indah dan mempesona dijumpai di dalam lorong gua
dibalik sifon. Lorong gua sepanjang ratusan meter dihiasi dengan deretan gurdam
dan air terjun. Lorong gua di bawah gua Jatijajar ini disiapkan menjadi objek
wisata minat khusus. Untuk memasuki sendang di dalam Gua Jatijajar dikeramatkan
dan dijadikan sebagai tempat berziarah.
Lubang-lubang di dasar gua di dekat pintu masuk merupakan bekas-bekas
penambangan fosfat guano. Ornamen gua (stalaktit, stalakmit, pilar, flowstone)
umumnya sudah tidak aktif, meskipun di beberapa tempat terdapat tetesan dan
leleran air melalui ujung-ujung stalaktit. Sebuah lubang di atap gua setinggi
24 m dari dasar gua, tidak jauh dari pilar besar berbangun membundar yang masih
aktif, mengungkap sejarah penemuan gua pada tahun 1802 oleh Djayamenawi, Petani
tersebut terperosok ke dalam gua melalui lubang yang ada dipermukaan, dan setelah
tanah yang menutupi lorong dibersihkan ia menemukan lubang masuk, yaitu mulut
gua sekarang.
Lorong Gua Jatijajar sepanjang 250 m, dengan lebar dan tinggi rata-rata 15-25
m, dapat dimasuki oleh wisatawan dengan mudah. Mulai tahun 1975, disepanjang
lorong gua ditempatkan 32 buah patung yang menceritakan Legenda Raden
Kamandaka. Di luar Gua menggambarkan kepurbaan Gua Jatijajar.
Kamandaka yang aslinya bernama Raden Banyak Contro adalah putera mahkota
Kerajaan Pajajaran. Pusat pemerintahan Pasirluhur atau Galuh Timur pada abad 14
kira-kira berada di sekitar Baturaden (purwokerto), di lereng Gunung Slamet.
Prabu Siliwangi raja Pajajaran pada waktu itu memiliki 2 permaisuri. Dari
permaisuri pertama, Prabu Siliwangi berputra 2 orang yaitu Banyak Contro dan Banyak
Ngampar. Karena permaisuri pertama meninggal, Prabu Siliwangi mengangkat
permaisuri kedua, Dewi Kumudaningsih. Sebelumnya Dewi Kumudaningsih memberi
syarat mau menjadi permaisuri jika anak laki-lakinya kelak dapat menjadi raja,
menggantikan Prabu Siliwangi. Dari permaisuri kedua ini terturunkan Banyak
Blabur dan Dewi Pamungkas.
Prabu Siliwangi yang sudah lanjut usia berencana mengangkat putra sulungnya,
Banyak Contro, untuk menggantikannya. Permintaan itu ditolak oleh Banyak
Contro, dengan alasan ia belum siap dan belum mempunyai pendamping. Ia hanya
mau menikah dengan wanita yang mirip dengan mendiang ibunya. Untuk itu ia
mengembara menuju gunung Tangkuban Perahu, menemui Ki Ajar Wirangrong. Oleh
orang tua tersebut ia disuruh mengembara ke timur, menuju Kadipaten Pasir
Luhur. Supaya cita-citanya beristri wanita cantik seperti ibunya terkabul, ia
harus menanggalkan pakaiannya sebagai putera raja menjadi orang biasa. Banyak
Contro selanjutnya menyamar menjadi orang kebanyakan, dan berganti nama menjadi
Kamandaka.
Setelah sampai di Pasir Luhur ia bertemu dengan Reksono patih Kadipaten Pasir
Luhur yang menjadikannya sebagai anak angkat. Adipati Kandandoho, penguasa
Kadipaten Pasir Luhur, mempunyai beberapa putri yang semuannya sudah bersuami
kecuali putri bungsunya Dewi Ciptoroso. Wajah dan penampilan putri Pasir Luhur
ini mirip dengan Ibu Kamandaka. Kamandaka berhasil menarik hati Dewi Ciptoroso.
Tetapi pada suaru saat ketika mereka sedang berdua di taman keputren seorang
prajurit kadipaten memergokinya. Kamandaka dikeroyok para prajurit, yang
mengiranya sebagai pencuri. Karena kesaktiannya ia dapat meloloskan diri.
Tetapi sebelumnya ia sempat mengatakan identitasnya, yaitu Kamandaka putra
Patih Reksonoto. Adipati Patih Pasir Luhur murka, memanggil Patih Reksonoto
supaya menangkap Kamandaka dan menyerahkan kepadanya.
Kamandaka yang melarikan diri dengan cara menceburkan diri ke sungai dilaporkan
oleh Patih Reksonoto telah mati, hanyut di bawa arus sungai deras. Setelah jauh
dari Pasir Luhur, Kamandaka naik ke darat berjalan menuju sebuah desa. Di Desa
Paniagih ia bertemu janda miskin Mbok Kertosoro. Kamandaka selanjutnya diangkat
menjadi anaknya. Mbok Kertosoro mempunyai seekor ayam jantan bernama Mercu,
yang dirawat dengan baik oleh Kamandaka. Ke mana-mana ia pergi dengan ayam-ayam
lainnya. Mercu selalu menang, sehingga akhirnya Kamandaka dikenal sebagai
penyabung ayam yang hebat. Berita tersebut sampai di Kadipaten Pasir Luhur.
Adipati Kandandoho sangat murka mendengar Kamandaka masih hidup. Ia memerintahkan
prajuritnya untuk menangkap Kamandaka. Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba
muncul silihwarni. Silihwarni yang menawarkan dirinya menjadi abdi di Pasir
Luhur diterima oleh Adipati Kandandoho, asal dapat membunuh Kamandaka.
Silihwarni sebenarnya adalah Banyak Ngampar, adik kandung Kamandaka. Ia
mendapat tugas dari ayahnya Prabu Siliwangi mencari kakaknya. Untuk menjaga
keselamatannya di perjalanan, Banyak Ngampar dibekali senjata kerajaan, kujang
Pamungkas. Karena tidak tahu kalau Kamandaka adalah kakaknya yang dicari-cari
Silihwarni berangkat bersama dengan sepasukan prajurit Pasir Luhur.
Akhirnya Silihwarni sampai di Desa Paniagih, bertemu dengan Kamandaka dan
menantangnya bersabung ayam. Saat ayam jantan masing-masing bersabung,
Silihwarni menikam Kamandaka yang sedang lengah dengan pusaka Kujang Pamungkas.
Kamandaka terluka parah, tetapi ia dapat meloloskan diri. Tempat di mana
Kamandaka dapat meloloskan diri dari kepungan prajurit Pasir Luhur dan
Silihwarni sekarang dinamakan Desa Brobosan (mbrobos = meloloskan diri). Saat
Kamandaka beristirahat di suatu tempat, darahnya mengucur deras dari luka di
lambungnya. Tempat iru kemudian diberi nama Desa Bancaran (Bancar = deras).
Silihwarni bersama prajurit Pasir Luhur terus mengejarnya, dibantu
anjing-anjing pelacak. Seekor anjing dapat di bunuh oleh Kamandaka di suatu
tempat, yang selanjutnya desa itu dinamakan Karang Anjing. Kamandaka terus lari
ke arah timur, dan sampai di ujung jalan yang buntuk (selanjutnya tempat itu
dinamakan Desa Buntu).
Setelah berlari cukup jauh akhirnya Kamandaka sampai di sebuah gua. Ia
bersembunyi di dalamnya. Silihwarni yang kehilangan jejak, Ia berteriak-teriak
menantang Kamandaka supaya ke luar dari tempat persembunyiannya. Kamandaka
menjawab, bahwa sebenarnya ia adalah putra mahkota Pajajaran Banyak Contro.
Mendengar jawaban itu Silihwarni terkejut dan iapun berkata kalau sebenarnya =
(sejatine) Ia juga putra Prabu Siliwangi, Banyak Ngampar. Keduanya baru sadar
kalau mereka adalah bersaudara.
Selanjutnya Kamandaka bertapa di gua tersebut dan mendapat petunjuk bahwa
niatnya mempersunting Dewi Ciptoroso akan tercapai jika ia berpakaian lutung
(kera) Dalam petunjuk itu ia diharuskan tinggal di Hutan Baturagung, baratdaya
Baturaden. Di hutan itu Kamandaka yang sudah berubah menjadi kera bertemu
dengan Dewi Ciptoroso, yang ketika itu mengikuti ayahnya Adipati Kandandoho
berburu. Kera yang jinak jelmaan Kamandaka segera menarik perhatian Dewi
Ciptoroso, yang menurut saja saat ditangkap dan dibawa ke Pasir Luhur.
Sesampainya di Pasir Luhur kera tersebut tidak mau makan apa-apa, sehingga
meninmbulkan kekhawatiran Adipati Kandandoho. Ia membuat sayembara, siapa yang
dapat memberi makan kera tersebut maka ia berhak memeliharanya. Banyak orang
mencobanya tetapi selalu gagal, kecuali Dewi Ciptoroso. Sesuai dengan sayembara
maka kera itupun dipelihara oleh putri bungsu Pasir Luhur dan diberi nama
Lutung Kasarung. Pada malam hari kera tersebut berubah ujud aslinya, yaitu
Kamandaka. Sedang siang hari menjelma lagi menjadi kera. hal itu hanya diketahui
oleh Dewi Ciptoroso.
Dikisahkan selanjutnya, Prabu Pule Bahas dari Nusa Kambangan ingin memperistri
Dewi Ciptoroso, dan mengutus kerajaan untuk meminangnya. Jika keinginan tidak
dikabulkan ia akan menghancurkan Kadipaten Pasir Luhur. Atas saran Lutung
Kasarung, Dewi Ciptoroso menemui ayahnya dan mengatakan kalau ia bersedia
menjadi istri Prabu Pule Bahas asal persyaratan yang akan diajukannya dipenuhi.
Salah satu syarat itu adalah Dewi Ciptoroso diperbolehkan membawa Lutung
Kasarung pada saat pengantin dipertemukan. Prabu Pule Bahas langsung
menyetujui.
Ketika upacara pengantin berlansung Lutung Kasarung selalu mengganggu, sehingga
menimbulkan kejengkelan Prabu Pule Bahas. Prabu Pule Bahas memukulnya dan
keduanya berkelahi. Raja Nusakambangan akhirnya tewas, digigit Lutung Kasarung.
Kematian raja tersebut mengubah ujud asli Lutung Kasarung, yaitu Kamandaka.
Setelah menceritakan asal-usulnya, Kamandaka akhirnya dikawinkan dengan Dewi
Ciptoroso. Berita itu akhirnya sampai di Kerajaan Pajajaran. Niat Prabu
Siliwangi untuk menjadikan Kamandaka sebagai raja tidak kesampaian. Karena
pantang bagi seseorang yang sudah terkena pusaka kerajaan Kujang Pamungkas
menjadi raja Pajajaran. Akhirnya Kamandaka atau Banyak Cokro menjadi adipati di
Pasir Luhur, menggantikan ayah Dewi Ciptoroso. Sedang Banyak Blabur
menggantikan Prabu siliwangi menjadi raja di Pajajaran.
Mata air atau sendang yang terdapat di dalam Gua Jatijajar dipercaya mempunyai
khasiat tertentu, sehingga dikeramatkan. Air Sendang Puserbumi dan Jombor konon
dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tertentu. Sedang air
Sendang Mawar dan Kantil jika untuk mencuci muka selain menjadi awet muda juga
akan tercapai apa yang dicita-citakannya.
Kepercayaan yang dituturkan secara turun-temurun ini mengakar kuat di hati
sanubari masyarakat Kebumen dan sekitarnya, sehigga pada hari-hari tertentu
menurut penanggalan Jawa tempat tersebut ramai dikunjungi peziarah, terutama
pada malam hari.
Segmen lorong gua sepanjang 50 m mulai dari pintu masuk merupakan bentukan
alami hasil kegiatan sungai bawah tanah di masa lalu. Setempat, atap dan
dinding gua dihiasi oleh stalaktit dan flowstone. Lubang di atap gua yang
tembus ke permukaan (avent) berfungsi sebagai ventilasi alam, sehingga udara di
dalam gua tetap segar. Lorong ini selanjutnya berhubungan dengan gua buatan,
bekas penambangan kapur.
panjang Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan
gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama pemilik
lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor di masa lalu
diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping, tidak jauh dari pintu
masuk Gua Dempok.
panjang Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan
gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama pemilik
lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor di masa lalu
diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping, tidak jauh dari pintu
masuk Gua Dempok.
Gejala endokars ini merupakan gua alam fosil yang penuh dengan ornamen yang
masih aktif. Lorong-lorong di dalam Gua Intan yang berarah utara-selatan dan
barat-timur genesanya berkaitan dengan pelarutan di sepanjang struktur retakan
yang ada.
Sebuah stalaktit di dinding pintu masuk sebelah kanan dilingkupi oleh sedimen
pasir lempungan berwarna merah kecoklatan. Sedimen tersebut mengandung fosil
moluska, sehingga kehadirannya akan menguak sejarah pembentukan gua. Moluska
adalah binatang darat yang hidup di sekitar gua. Ketika air hujan masuk ke
dalam gua, binatang itu terangkut ke dalam gua bersama-sama dengan sedimen
pasir dan lempung. Saat terjadi banjir seluruh lorong gua terendam air, dan
sebuah stalaktit yang terletak 3 m dari dasar gua ditutupi oleh sedimen
tersebut. Kumpulan fosil ini berumur Plistosen-Resen, sehingga Gua Intan
setidaknya sudah ada sejak 1 juta tahun yang lalu.
Sebuah kubah besar berukuran 30 X 40 m dan tinggi maksimum 20 m dapat dicapai
dengan melewati lubang sempit selebar 1 m. atap kubah dihiasi oleh stalaktit-stalaktit
berukuran maksimum 1 m. Sebuah avent di atap kubah berfungsi sebagai ventilasi
alam. Sekelompok stalaktit yang menyatu dengan stalakmit membantu pilar atau
kolom setinggi beberapa meter yang indah. Ornamen gua di bagian ini umumnya
masih aktif.
Di sebelah kanan ruangan pertama terdapat ruangan kedua yang disusun oleh batu
gamping berlapis, dengan sebuah jembatan alam yang menghubungkan dinding kanan
dan kiri ruangan. Jembatan ini merupakan sisa lapisan batu gamping yang sukar
larut. Sedang lapisan batu gamping lunak di dasar jembatan sebagian besar telah
habis, dikikis oleh aliran sungai bawah tanah yang pernah aktif di masa lalu.
Ruangan kedua yang berukuran 20 X 40 m dan tinggi 15 m ini berakhir pada sebuah
lubang sempit yang ditutupi oleh sedimen gua. lekuk-lekuk kecil di atap gua
dipenuhi oleh kelelawar. Tidak adanya ventilasi di ruangan kedua ini
menyebabkan udara di dalam gua sedikit panas dan pengap. Fermentasi kotoran
kelelawar memungkinkan terbentuknya CO2 dan bau yang menyengat.
Kompleks
Gua wisata baik gua alam maupun buatan yang terletak sekitar 42 km barat daya
Kebumen ini mencakup kawasan seluas 5,5 hektare. Objek wisata ini telah
dilengkapi dengan prasarana wisata seperti tempat parkir, peturasan, tempat
bermain, kios makanan, buah-buahan dan toko cindera mata.
Kompleks Gua Jatijajar mencakup Gua Jatijajar, Gua Dempok, dan Gua Intan.
Kawasan ini berada sekitar 250 m di atas permukaan laut. Sistem pergunaan
berkembang pada kehadiran fosil-fosil seperti Lepidocylina sumatrensis Brady,
L. elegans Tan dan Cycloclypeus annulatus Martin selain menunjukkan umur batuan
juga sekaligus menciri lingkungan asalnya, yaitu laut dangkal yang mempunyai
kedalaman maksimum 60 m.
Kira-kira 14-11 juta tahun lalu daerah ini masih merupakan paparan laut
dangkal, yang kemudian terangkat hingga ketinggiannya sekarang akibat sifat
bumi yang dinamis. Tidak adanya sedimen lain yang menutupi lapisan batu gamping
di daerah Gombong selatan menunjukkan jika sejak 10 juta tahun lalu daerah ini
sudah berada di atas permukaan laut. Dihitung dari kurun waktu kurang dari 10
juta tahun telah terjadi pengangkatan setinggi lebih dari 300 m. Pengangkatan
itu menyebabkan batuan terkekarkan dan tersesarkan. Curah hujan yang tinggi
mempercepat terjadinya proses karstifikasi, membentuk kars sebagaimana terlihat
sekarang.
Gejala endokars ini mempunyai mulut gua yang berbangun melengkung tinggi dan
lebar. Pada dinding pintu masuk sebelah kanan tersingkap sisa endapan sedimen
gua yang kaya fosil moluska. Beberapa spesies grastropoda dan pelecypoda
terawetkan baik pada lapisan lempung pasiran berwarna coklat tua. Sedimen
berfosil ini dapat dikorelasikan dengan sedimen sejenis yang tersingkap di
pintu masuk Gua Intan. Sediman di dalam Gua juga tersingkap pada sebuah sisa
kanopi tua, beberapa meter dari pintu masuk. Cangkang-cangkang pipih pelecypoda
pada sedimen gua ini tersusun secara alami ke arah utara sejajar dengan arah lorong
utama masuk gua, yaitu utara-selatan. Bagian atap dan dinding pintu masuk gua
dipenuhi oleh tulisan nama-nama pengunjung. Gravity yang paling tua tertanggal
tahun 1805.
Pembentukan kanopy di dekat pintu masuk Gua Jatijajar menunjukkan adanya sungai
bawahtanah yang pernah aktif beberapa ratus ribu tahun yang lalu. Proses
pengangkatan menyebabkan sungai menjadi kering, karena air mencari permukaan
air tanah setempat yang letaknya lebih rendah. Sungai bawah tanah yang masih
aktif di dalam Gua Jatijajar tersingkap melalui beberapa sendang, yang letaknya
berkisar antara 1-3 m di bawah lorong fosil utama.
Sendang Kantil dan Sendang Mawar adalah kolam-kolam sungai bawah tanah yang
dibuka untuk umum. Dua sendang lainnya yaitu Jombor dan Puserbumi tidak dapat
dimasuki wisatawan umum, kecuali mendapat ijin dari pengelola kawasan wisata.
Sebagai mata air, Sendang Puserbumi merupakan sebuah sumuran tegak bergaris
tengah sekitar 50 cm. Sementara Sendang Jombor yang dihuni seekor pelus
sepanjang lebih dari 1 m mempunyai sifon di dasarnya. Sifon ini dapat
ditelusuri dengan metode penyelaman (cave diving). Beragam bentukan pengendapan
ulang larutan CaCO3 jenuh yang indah dan mempesona dijumpai di dalam lorong gua
dibalik sifon. Lorong gua sepanjang ratusan meter dihiasi dengan deretan gurdam
dan air terjun. Lorong gua di bawah gua Jatijajar ini disiapkan menjadi objek
wisata minat khusus. Untuk memasuki sendang di dalam Gua Jatijajar dikeramatkan
dan dijadikan sebagai tempat berziarah.
Lubang-lubang di dasar gua di dekat pintu masuk merupakan bekas-bekas
penambangan fosfat guano. Ornamen gua (stalaktit, stalakmit, pilar, flowstone)
umumnya sudah tidak aktif, meskipun di beberapa tempat terdapat tetesan dan
leleran air melalui ujung-ujung stalaktit. Sebuah lubang di atap gua setinggi
24 m dari dasar gua, tidak jauh dari pilar besar berbangun membundar yang masih
aktif, mengungkap sejarah penemuan gua pada tahun 1802 oleh Djayamenawi, Petani
tersebut terperosok ke dalam gua melalui lubang yang ada dipermukaan, dan setelah
tanah yang menutupi lorong dibersihkan ia menemukan lubang masuk, yaitu mulut
gua sekarang.
Lorong Gua Jatijajar sepanjang 250 m, dengan lebar dan tinggi rata-rata 15-25
m, dapat dimasuki oleh wisatawan dengan mudah. Mulai tahun 1975, disepanjang
lorong gua ditempatkan 32 buah patung yang menceritakan Legenda Raden
Kamandaka. Di luar Gua menggambarkan kepurbaan Gua Jatijajar.
Kamandaka yang aslinya bernama Raden Banyak Contro adalah putera mahkota
Kerajaan Pajajaran. Pusat pemerintahan Pasirluhur atau Galuh Timur pada abad 14
kira-kira berada di sekitar Baturaden (purwokerto), di lereng Gunung Slamet.
Prabu Siliwangi raja Pajajaran pada waktu itu memiliki 2 permaisuri. Dari
permaisuri pertama, Prabu Siliwangi berputra 2 orang yaitu Banyak Contro dan Banyak
Ngampar. Karena permaisuri pertama meninggal, Prabu Siliwangi mengangkat
permaisuri kedua, Dewi Kumudaningsih. Sebelumnya Dewi Kumudaningsih memberi
syarat mau menjadi permaisuri jika anak laki-lakinya kelak dapat menjadi raja,
menggantikan Prabu Siliwangi. Dari permaisuri kedua ini terturunkan Banyak
Blabur dan Dewi Pamungkas.
Prabu Siliwangi yang sudah lanjut usia berencana mengangkat putra sulungnya,
Banyak Contro, untuk menggantikannya. Permintaan itu ditolak oleh Banyak
Contro, dengan alasan ia belum siap dan belum mempunyai pendamping. Ia hanya
mau menikah dengan wanita yang mirip dengan mendiang ibunya. Untuk itu ia
mengembara menuju gunung Tangkuban Perahu, menemui Ki Ajar Wirangrong. Oleh
orang tua tersebut ia disuruh mengembara ke timur, menuju Kadipaten Pasir
Luhur. Supaya cita-citanya beristri wanita cantik seperti ibunya terkabul, ia
harus menanggalkan pakaiannya sebagai putera raja menjadi orang biasa. Banyak
Contro selanjutnya menyamar menjadi orang kebanyakan, dan berganti nama menjadi
Kamandaka.
Setelah sampai di Pasir Luhur ia bertemu dengan Reksono patih Kadipaten Pasir
Luhur yang menjadikannya sebagai anak angkat. Adipati Kandandoho, penguasa
Kadipaten Pasir Luhur, mempunyai beberapa putri yang semuannya sudah bersuami
kecuali putri bungsunya Dewi Ciptoroso. Wajah dan penampilan putri Pasir Luhur
ini mirip dengan Ibu Kamandaka. Kamandaka berhasil menarik hati Dewi Ciptoroso.
Tetapi pada suaru saat ketika mereka sedang berdua di taman keputren seorang
prajurit kadipaten memergokinya. Kamandaka dikeroyok para prajurit, yang
mengiranya sebagai pencuri. Karena kesaktiannya ia dapat meloloskan diri.
Tetapi sebelumnya ia sempat mengatakan identitasnya, yaitu Kamandaka putra
Patih Reksonoto. Adipati Patih Pasir Luhur murka, memanggil Patih Reksonoto
supaya menangkap Kamandaka dan menyerahkan kepadanya.
Kamandaka yang melarikan diri dengan cara menceburkan diri ke sungai dilaporkan
oleh Patih Reksonoto telah mati, hanyut di bawa arus sungai deras. Setelah jauh
dari Pasir Luhur, Kamandaka naik ke darat berjalan menuju sebuah desa. Di Desa
Paniagih ia bertemu janda miskin Mbok Kertosoro. Kamandaka selanjutnya diangkat
menjadi anaknya. Mbok Kertosoro mempunyai seekor ayam jantan bernama Mercu,
yang dirawat dengan baik oleh Kamandaka. Ke mana-mana ia pergi dengan ayam-ayam
lainnya. Mercu selalu menang, sehingga akhirnya Kamandaka dikenal sebagai
penyabung ayam yang hebat. Berita tersebut sampai di Kadipaten Pasir Luhur.
Adipati Kandandoho sangat murka mendengar Kamandaka masih hidup. Ia memerintahkan
prajuritnya untuk menangkap Kamandaka. Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba
muncul silihwarni. Silihwarni yang menawarkan dirinya menjadi abdi di Pasir
Luhur diterima oleh Adipati Kandandoho, asal dapat membunuh Kamandaka.
Silihwarni sebenarnya adalah Banyak Ngampar, adik kandung Kamandaka. Ia
mendapat tugas dari ayahnya Prabu Siliwangi mencari kakaknya. Untuk menjaga
keselamatannya di perjalanan, Banyak Ngampar dibekali senjata kerajaan, kujang
Pamungkas. Karena tidak tahu kalau Kamandaka adalah kakaknya yang dicari-cari
Silihwarni berangkat bersama dengan sepasukan prajurit Pasir Luhur.
Akhirnya Silihwarni sampai di Desa Paniagih, bertemu dengan Kamandaka dan
menantangnya bersabung ayam. Saat ayam jantan masing-masing bersabung,
Silihwarni menikam Kamandaka yang sedang lengah dengan pusaka Kujang Pamungkas.
Kamandaka terluka parah, tetapi ia dapat meloloskan diri. Tempat di mana
Kamandaka dapat meloloskan diri dari kepungan prajurit Pasir Luhur dan
Silihwarni sekarang dinamakan Desa Brobosan (mbrobos = meloloskan diri). Saat
Kamandaka beristirahat di suatu tempat, darahnya mengucur deras dari luka di
lambungnya. Tempat iru kemudian diberi nama Desa Bancaran (Bancar = deras).
Silihwarni bersama prajurit Pasir Luhur terus mengejarnya, dibantu
anjing-anjing pelacak. Seekor anjing dapat di bunuh oleh Kamandaka di suatu
tempat, yang selanjutnya desa itu dinamakan Karang Anjing. Kamandaka terus lari
ke arah timur, dan sampai di ujung jalan yang buntuk (selanjutnya tempat itu
dinamakan Desa Buntu).
Setelah berlari cukup jauh akhirnya Kamandaka sampai di sebuah gua. Ia
bersembunyi di dalamnya. Silihwarni yang kehilangan jejak, Ia berteriak-teriak
menantang Kamandaka supaya ke luar dari tempat persembunyiannya. Kamandaka
menjawab, bahwa sebenarnya ia adalah putra mahkota Pajajaran Banyak Contro.
Mendengar jawaban itu Silihwarni terkejut dan iapun berkata kalau sebenarnya =
(sejatine) Ia juga putra Prabu Siliwangi, Banyak Ngampar. Keduanya baru sadar
kalau mereka adalah bersaudara.
Selanjutnya Kamandaka bertapa di gua tersebut dan mendapat petunjuk bahwa
niatnya mempersunting Dewi Ciptoroso akan tercapai jika ia berpakaian lutung
(kera) Dalam petunjuk itu ia diharuskan tinggal di Hutan Baturagung, baratdaya
Baturaden. Di hutan itu Kamandaka yang sudah berubah menjadi kera bertemu
dengan Dewi Ciptoroso, yang ketika itu mengikuti ayahnya Adipati Kandandoho
berburu. Kera yang jinak jelmaan Kamandaka segera menarik perhatian Dewi
Ciptoroso, yang menurut saja saat ditangkap dan dibawa ke Pasir Luhur.
Sesampainya di Pasir Luhur kera tersebut tidak mau makan apa-apa, sehingga
meninmbulkan kekhawatiran Adipati Kandandoho. Ia membuat sayembara, siapa yang
dapat memberi makan kera tersebut maka ia berhak memeliharanya. Banyak orang
mencobanya tetapi selalu gagal, kecuali Dewi Ciptoroso. Sesuai dengan sayembara
maka kera itupun dipelihara oleh putri bungsu Pasir Luhur dan diberi nama
Lutung Kasarung. Pada malam hari kera tersebut berubah ujud aslinya, yaitu
Kamandaka. Sedang siang hari menjelma lagi menjadi kera. hal itu hanya diketahui
oleh Dewi Ciptoroso.
Dikisahkan selanjutnya, Prabu Pule Bahas dari Nusa Kambangan ingin memperistri
Dewi Ciptoroso, dan mengutus kerajaan untuk meminangnya. Jika keinginan tidak
dikabulkan ia akan menghancurkan Kadipaten Pasir Luhur. Atas saran Lutung
Kasarung, Dewi Ciptoroso menemui ayahnya dan mengatakan kalau ia bersedia
menjadi istri Prabu Pule Bahas asal persyaratan yang akan diajukannya dipenuhi.
Salah satu syarat itu adalah Dewi Ciptoroso diperbolehkan membawa Lutung
Kasarung pada saat pengantin dipertemukan. Prabu Pule Bahas langsung
menyetujui.
Ketika upacara pengantin berlansung Lutung Kasarung selalu mengganggu, sehingga
menimbulkan kejengkelan Prabu Pule Bahas. Prabu Pule Bahas memukulnya dan
keduanya berkelahi. Raja Nusakambangan akhirnya tewas, digigit Lutung Kasarung.
Kematian raja tersebut mengubah ujud asli Lutung Kasarung, yaitu Kamandaka.
Setelah menceritakan asal-usulnya, Kamandaka akhirnya dikawinkan dengan Dewi
Ciptoroso. Berita itu akhirnya sampai di Kerajaan Pajajaran. Niat Prabu
Siliwangi untuk menjadikan Kamandaka sebagai raja tidak kesampaian. Karena
pantang bagi seseorang yang sudah terkena pusaka kerajaan Kujang Pamungkas
menjadi raja Pajajaran. Akhirnya Kamandaka atau Banyak Cokro menjadi adipati di
Pasir Luhur, menggantikan ayah Dewi Ciptoroso. Sedang Banyak Blabur
menggantikan Prabu siliwangi menjadi raja di Pajajaran.
Mata air atau sendang yang terdapat di dalam Gua Jatijajar dipercaya mempunyai
khasiat tertentu, sehingga dikeramatkan. Air Sendang Puserbumi dan Jombor konon
dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tertentu. Sedang air
Sendang Mawar dan Kantil jika untuk mencuci muka selain menjadi awet muda juga
akan tercapai apa yang dicita-citakannya.
Kepercayaan yang dituturkan secara turun-temurun ini mengakar kuat di hati
sanubari masyarakat Kebumen dan sekitarnya, sehigga pada hari-hari tertentu
menurut penanggalan Jawa tempat tersebut ramai dikunjungi peziarah, terutama
pada malam hari.
Segmen lorong gua sepanjang 50 m mulai dari pintu masuk merupakan bentukan
alami hasil kegiatan sungai bawah tanah di masa lalu. Setempat, atap dan
dinding gua dihiasi oleh stalaktit dan flowstone. Lubang di atap gua yang
tembus ke permukaan (avent) berfungsi sebagai ventilasi alam, sehingga udara di
dalam gua tetap segar. Lorong ini selanjutnya berhubungan dengan gua buatan,
bekas penambangan kapur.
panjang Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan
gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama pemilik
lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor di masa lalu
diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping, tidak jauh dari pintu
masuk Gua Dempok.
panjang Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan
gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama pemilik
lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor di masa lalu
diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping, tidak jauh dari pintu
masuk Gua Dempok.
Gejala endokars ini merupakan gua alam fosil yang penuh dengan ornamen yang
masih aktif. Lorong-lorong di dalam Gua Intan yang berarah utara-selatan dan
barat-timur genesanya berkaitan dengan pelarutan di sepanjang struktur retakan
yang ada.
Sebuah stalaktit di dinding pintu masuk sebelah kanan dilingkupi oleh sedimen
pasir lempungan berwarna merah kecoklatan. Sedimen tersebut mengandung fosil
moluska, sehingga kehadirannya akan menguak sejarah pembentukan gua. Moluska
adalah binatang darat yang hidup di sekitar gua. Ketika air hujan masuk ke
dalam gua, binatang itu terangkut ke dalam gua bersama-sama dengan sedimen
pasir dan lempung. Saat terjadi banjir seluruh lorong gua terendam air, dan
sebuah stalaktit yang terletak 3 m dari dasar gua ditutupi oleh sedimen
tersebut. Kumpulan fosil ini berumur Plistosen-Resen, sehingga Gua Intan
setidaknya sudah ada sejak 1 juta tahun yang lalu.
Sebuah kubah besar berukuran 30 X 40 m dan tinggi maksimum 20 m dapat dicapai
dengan melewati lubang sempit selebar 1 m. atap kubah dihiasi oleh stalaktit-stalaktit
berukuran maksimum 1 m. Sebuah avent di atap kubah berfungsi sebagai ventilasi
alam. Sekelompok stalaktit yang menyatu dengan stalakmit membantu pilar atau
kolom setinggi beberapa meter yang indah. Ornamen gua di bagian ini umumnya
masih aktif.
Di sebelah kanan ruangan pertama terdapat ruangan kedua yang disusun oleh batu
gamping berlapis, dengan sebuah jembatan alam yang menghubungkan dinding kanan
dan kiri ruangan. Jembatan ini merupakan sisa lapisan batu gamping yang sukar
larut. Sedang lapisan batu gamping lunak di dasar jembatan sebagian besar telah
habis, dikikis oleh aliran sungai bawah tanah yang pernah aktif di masa lalu.
Ruangan kedua yang berukuran 20 X 40 m dan tinggi 15 m ini berakhir pada sebuah
lubang sempit yang ditutupi oleh sedimen gua. lekuk-lekuk kecil di atap gua
dipenuhi oleh kelelawar. Tidak adanya ventilasi di ruangan kedua ini
menyebabkan udara di dalam gua sedikit panas dan pengap. Fermentasi kotoran
kelelawar memungkinkan terbentuknya CO2 dan bau yang menyengat.
Kompleks
Gua wisata baik gua alam maupun buatan yang terletak sekitar 42 km barat daya
Kebumen ini mencakup kawasan seluas 5,5 hektare. Objek wisata ini telah
dilengkapi dengan prasarana wisata seperti tempat parkir, peturasan, tempat
bermain, kios makanan, buah-buahan dan toko cindera mata.
Kompleks Gua Jatijajar mencakup Gua Jatijajar, Gua Dempok, dan Gua Intan.
Kawasan ini berada sekitar 250 m di atas permukaan laut. Sistem pergunaan
berkembang pada kehadiran fosil-fosil seperti Lepidocylina sumatrensis Brady,
L. elegans Tan dan Cycloclypeus annulatus Martin selain menunjukkan umur batuan
juga sekaligus menciri lingkungan asalnya, yaitu laut dangkal yang mempunyai
kedalaman maksimum 60 m.
Kira-kira 14-11 juta tahun lalu daerah ini masih merupakan paparan laut
dangkal, yang kemudian terangkat hingga ketinggiannya sekarang akibat sifat
bumi yang dinamis. Tidak adanya sedimen lain yang menutupi lapisan batu gamping
di daerah Gombong selatan menunjukkan jika sejak 10 juta tahun lalu daerah ini
sudah berada di atas permukaan laut. Dihitung dari kurun waktu kurang dari 10
juta tahun telah terjadi pengangkatan setinggi lebih dari 300 m. Pengangkatan
itu menyebabkan batuan terkekarkan dan tersesarkan. Curah hujan yang tinggi
mempercepat terjadinya proses karstifikasi, membentuk kars sebagaimana terlihat
sekarang.
Gejala endokars ini mempunyai mulut gua yang berbangun melengkung tinggi dan
lebar. Pada dinding pintu masuk sebelah kanan tersingkap sisa endapan sedimen
gua yang kaya fosil moluska. Beberapa spesies grastropoda dan pelecypoda
terawetkan baik pada lapisan lempung pasiran berwarna coklat tua. Sedimen
berfosil ini dapat dikorelasikan dengan sedimen sejenis yang tersingkap di
pintu masuk Gua Intan. Sediman di dalam Gua juga tersingkap pada sebuah sisa
kanopi tua, beberapa meter dari pintu masuk. Cangkang-cangkang pipih pelecypoda
pada sedimen gua ini tersusun secara alami ke arah utara sejajar dengan arah lorong
utama masuk gua, yaitu utara-selatan. Bagian atap dan dinding pintu masuk gua
dipenuhi oleh tulisan nama-nama pengunjung. Gravity yang paling tua tertanggal
tahun 1805.
Pembentukan kanopy di dekat pintu masuk Gua Jatijajar menunjukkan adanya sungai
bawahtanah yang pernah aktif beberapa ratus ribu tahun yang lalu. Proses
pengangkatan menyebabkan sungai menjadi kering, karena air mencari permukaan
air tanah setempat yang letaknya lebih rendah. Sungai bawah tanah yang masih
aktif di dalam Gua Jatijajar tersingkap melalui beberapa sendang, yang letaknya
berkisar antara 1-3 m di bawah lorong fosil utama.
Sendang Kantil dan Sendang Mawar adalah kolam-kolam sungai bawah tanah yang
dibuka untuk umum. Dua sendang lainnya yaitu Jombor dan Puserbumi tidak dapat
dimasuki wisatawan umum, kecuali mendapat ijin dari pengelola kawasan wisata.
Sebagai mata air, Sendang Puserbumi merupakan sebuah sumuran tegak bergaris
tengah sekitar 50 cm. Sementara Sendang Jombor yang dihuni seekor pelus
sepanjang lebih dari 1 m mempunyai sifon di dasarnya. Sifon ini dapat
ditelusuri dengan metode penyelaman (cave diving). Beragam bentukan pengendapan
ulang larutan CaCO3 jenuh yang indah dan mempesona dijumpai di dalam lorong gua
dibalik sifon. Lorong gua sepanjang ratusan meter dihiasi dengan deretan gurdam
dan air terjun. Lorong gua di bawah gua Jatijajar ini disiapkan menjadi objek
wisata minat khusus. Untuk memasuki sendang di dalam Gua Jatijajar dikeramatkan
dan dijadikan sebagai tempat berziarah.
Lubang-lubang di dasar gua di dekat pintu masuk merupakan bekas-bekas
penambangan fosfat guano. Ornamen gua (stalaktit, stalakmit, pilar, flowstone)
umumnya sudah tidak aktif, meskipun di beberapa tempat terdapat tetesan dan
leleran air melalui ujung-ujung stalaktit. Sebuah lubang di atap gua setinggi
24 m dari dasar gua, tidak jauh dari pilar besar berbangun membundar yang masih
aktif, mengungkap sejarah penemuan gua pada tahun 1802 oleh Djayamenawi, Petani
tersebut terperosok ke dalam gua melalui lubang yang ada dipermukaan, dan setelah
tanah yang menutupi lorong dibersihkan ia menemukan lubang masuk, yaitu mulut
gua sekarang.
Lorong Gua Jatijajar sepanjang 250 m, dengan lebar dan tinggi rata-rata 15-25
m, dapat dimasuki oleh wisatawan dengan mudah. Mulai tahun 1975, disepanjang
lorong gua ditempatkan 32 buah patung yang menceritakan Legenda Raden
Kamandaka. Di luar Gua menggambarkan kepurbaan Gua Jatijajar.
Kamandaka yang aslinya bernama Raden Banyak Contro adalah putera mahkota
Kerajaan Pajajaran. Pusat pemerintahan Pasirluhur atau Galuh Timur pada abad 14
kira-kira berada di sekitar Baturaden (purwokerto), di lereng Gunung Slamet.
Prabu Siliwangi raja Pajajaran pada waktu itu memiliki 2 permaisuri. Dari
permaisuri pertama, Prabu Siliwangi berputra 2 orang yaitu Banyak Contro dan Banyak
Ngampar. Karena permaisuri pertama meninggal, Prabu Siliwangi mengangkat
permaisuri kedua, Dewi Kumudaningsih. Sebelumnya Dewi Kumudaningsih memberi
syarat mau menjadi permaisuri jika anak laki-lakinya kelak dapat menjadi raja,
menggantikan Prabu Siliwangi. Dari permaisuri kedua ini terturunkan Banyak
Blabur dan Dewi Pamungkas.
Prabu Siliwangi yang sudah lanjut usia berencana mengangkat putra sulungnya,
Banyak Contro, untuk menggantikannya. Permintaan itu ditolak oleh Banyak
Contro, dengan alasan ia belum siap dan belum mempunyai pendamping. Ia hanya
mau menikah dengan wanita yang mirip dengan mendiang ibunya. Untuk itu ia
mengembara menuju gunung Tangkuban Perahu, menemui Ki Ajar Wirangrong. Oleh
orang tua tersebut ia disuruh mengembara ke timur, menuju Kadipaten Pasir
Luhur. Supaya cita-citanya beristri wanita cantik seperti ibunya terkabul, ia
harus menanggalkan pakaiannya sebagai putera raja menjadi orang biasa. Banyak
Contro selanjutnya menyamar menjadi orang kebanyakan, dan berganti nama menjadi
Kamandaka.
Setelah sampai di Pasir Luhur ia bertemu dengan Reksono patih Kadipaten Pasir
Luhur yang menjadikannya sebagai anak angkat. Adipati Kandandoho, penguasa
Kadipaten Pasir Luhur, mempunyai beberapa putri yang semuannya sudah bersuami
kecuali putri bungsunya Dewi Ciptoroso. Wajah dan penampilan putri Pasir Luhur
ini mirip dengan Ibu Kamandaka. Kamandaka berhasil menarik hati Dewi Ciptoroso.
Tetapi pada suaru saat ketika mereka sedang berdua di taman keputren seorang
prajurit kadipaten memergokinya. Kamandaka dikeroyok para prajurit, yang
mengiranya sebagai pencuri. Karena kesaktiannya ia dapat meloloskan diri.
Tetapi sebelumnya ia sempat mengatakan identitasnya, yaitu Kamandaka putra
Patih Reksonoto. Adipati Patih Pasir Luhur murka, memanggil Patih Reksonoto
supaya menangkap Kamandaka dan menyerahkan kepadanya.
Kamandaka yang melarikan diri dengan cara menceburkan diri ke sungai dilaporkan
oleh Patih Reksonoto telah mati, hanyut di bawa arus sungai deras. Setelah jauh
dari Pasir Luhur, Kamandaka naik ke darat berjalan menuju sebuah desa. Di Desa
Paniagih ia bertemu janda miskin Mbok Kertosoro. Kamandaka selanjutnya diangkat
menjadi anaknya. Mbok Kertosoro mempunyai seekor ayam jantan bernama Mercu,
yang dirawat dengan baik oleh Kamandaka. Ke mana-mana ia pergi dengan ayam-ayam
lainnya. Mercu selalu menang, sehingga akhirnya Kamandaka dikenal sebagai
penyabung ayam yang hebat. Berita tersebut sampai di Kadipaten Pasir Luhur.
Adipati Kandandoho sangat murka mendengar Kamandaka masih hidup. Ia memerintahkan
prajuritnya untuk menangkap Kamandaka. Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba
muncul silihwarni. Silihwarni yang menawarkan dirinya menjadi abdi di Pasir
Luhur diterima oleh Adipati Kandandoho, asal dapat membunuh Kamandaka.
Silihwarni sebenarnya adalah Banyak Ngampar, adik kandung Kamandaka. Ia
mendapat tugas dari ayahnya Prabu Siliwangi mencari kakaknya. Untuk menjaga
keselamatannya di perjalanan, Banyak Ngampar dibekali senjata kerajaan, kujang
Pamungkas. Karena tidak tahu kalau Kamandaka adalah kakaknya yang dicari-cari
Silihwarni berangkat bersama dengan sepasukan prajurit Pasir Luhur.
Akhirnya Silihwarni sampai di Desa Paniagih, bertemu dengan Kamandaka dan
menantangnya bersabung ayam. Saat ayam jantan masing-masing bersabung,
Silihwarni menikam Kamandaka yang sedang lengah dengan pusaka Kujang Pamungkas.
Kamandaka terluka parah, tetapi ia dapat meloloskan diri. Tempat di mana
Kamandaka dapat meloloskan diri dari kepungan prajurit Pasir Luhur dan
Silihwarni sekarang dinamakan Desa Brobosan (mbrobos = meloloskan diri). Saat
Kamandaka beristirahat di suatu tempat, darahnya mengucur deras dari luka di
lambungnya. Tempat iru kemudian diberi nama Desa Bancaran (Bancar = deras).
Silihwarni bersama prajurit Pasir Luhur terus mengejarnya, dibantu
anjing-anjing pelacak. Seekor anjing dapat di bunuh oleh Kamandaka di suatu
tempat, yang selanjutnya desa itu dinamakan Karang Anjing. Kamandaka terus lari
ke arah timur, dan sampai di ujung jalan yang buntuk (selanjutnya tempat itu
dinamakan Desa Buntu).
Setelah berlari cukup jauh akhirnya Kamandaka sampai di sebuah gua. Ia
bersembunyi di dalamnya. Silihwarni yang kehilangan jejak, Ia berteriak-teriak
menantang Kamandaka supaya ke luar dari tempat persembunyiannya. Kamandaka
menjawab, bahwa sebenarnya ia adalah putra mahkota Pajajaran Banyak Contro.
Mendengar jawaban itu Silihwarni terkejut dan iapun berkata kalau sebenarnya =
(sejatine) Ia juga putra Prabu Siliwangi, Banyak Ngampar. Keduanya baru sadar
kalau mereka adalah bersaudara.
Selanjutnya Kamandaka bertapa di gua tersebut dan mendapat petunjuk bahwa
niatnya mempersunting Dewi Ciptoroso akan tercapai jika ia berpakaian lutung
(kera) Dalam petunjuk itu ia diharuskan tinggal di Hutan Baturagung, baratdaya
Baturaden. Di hutan itu Kamandaka yang sudah berubah menjadi kera bertemu
dengan Dewi Ciptoroso, yang ketika itu mengikuti ayahnya Adipati Kandandoho
berburu. Kera yang jinak jelmaan Kamandaka segera menarik perhatian Dewi
Ciptoroso, yang menurut saja saat ditangkap dan dibawa ke Pasir Luhur.
Sesampainya di Pasir Luhur kera tersebut tidak mau makan apa-apa, sehingga
meninmbulkan kekhawatiran Adipati Kandandoho. Ia membuat sayembara, siapa yang
dapat memberi makan kera tersebut maka ia berhak memeliharanya. Banyak orang
mencobanya tetapi selalu gagal, kecuali Dewi Ciptoroso. Sesuai dengan sayembara
maka kera itupun dipelihara oleh putri bungsu Pasir Luhur dan diberi nama
Lutung Kasarung. Pada malam hari kera tersebut berubah ujud aslinya, yaitu
Kamandaka. Sedang siang hari menjelma lagi menjadi kera. hal itu hanya diketahui
oleh Dewi Ciptoroso.
Dikisahkan selanjutnya, Prabu Pule Bahas dari Nusa Kambangan ingin memperistri
Dewi Ciptoroso, dan mengutus kerajaan untuk meminangnya. Jika keinginan tidak
dikabulkan ia akan menghancurkan Kadipaten Pasir Luhur. Atas saran Lutung
Kasarung, Dewi Ciptoroso menemui ayahnya dan mengatakan kalau ia bersedia
menjadi istri Prabu Pule Bahas asal persyaratan yang akan diajukannya dipenuhi.
Salah satu syarat itu adalah Dewi Ciptoroso diperbolehkan membawa Lutung
Kasarung pada saat pengantin dipertemukan. Prabu Pule Bahas langsung
menyetujui.
Ketika upacara pengantin berlansung Lutung Kasarung selalu mengganggu, sehingga
menimbulkan kejengkelan Prabu Pule Bahas. Prabu Pule Bahas memukulnya dan
keduanya berkelahi. Raja Nusakambangan akhirnya tewas, digigit Lutung Kasarung.
Kematian raja tersebut mengubah ujud asli Lutung Kasarung, yaitu Kamandaka.
Setelah menceritakan asal-usulnya, Kamandaka akhirnya dikawinkan dengan Dewi
Ciptoroso. Berita itu akhirnya sampai di Kerajaan Pajajaran. Niat Prabu
Siliwangi untuk menjadikan Kamandaka sebagai raja tidak kesampaian. Karena
pantang bagi seseorang yang sudah terkena pusaka kerajaan Kujang Pamungkas
menjadi raja Pajajaran. Akhirnya Kamandaka atau Banyak Cokro menjadi adipati di
Pasir Luhur, menggantikan ayah Dewi Ciptoroso. Sedang Banyak Blabur
menggantikan Prabu siliwangi menjadi raja di Pajajaran.
Mata air atau sendang yang terdapat di dalam Gua Jatijajar dipercaya mempunyai
khasiat tertentu, sehingga dikeramatkan. Air Sendang Puserbumi dan Jombor konon
dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tertentu. Sedang air
Sendang Mawar dan Kantil jika untuk mencuci muka selain menjadi awet muda juga
akan tercapai apa yang dicita-citakannya.
Kepercayaan yang dituturkan secara turun-temurun ini mengakar kuat di hati
sanubari masyarakat Kebumen dan sekitarnya, sehigga pada hari-hari tertentu
menurut penanggalan Jawa tempat tersebut ramai dikunjungi peziarah, terutama
pada malam hari.
Segmen lorong gua sepanjang 50 m mulai dari pintu masuk merupakan bentukan
alami hasil kegiatan sungai bawah tanah di masa lalu. Setempat, atap dan
dinding gua dihiasi oleh stalaktit dan flowstone. Lubang di atap gua yang
tembus ke permukaan (avent) berfungsi sebagai ventilasi alam, sehingga udara di
dalam gua tetap segar. Lorong ini selanjutnya berhubungan dengan gua buatan,
bekas penambangan kapur.
panjang Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan
gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama pemilik
lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor di masa lalu
diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping, tidak jauh dari pintu
masuk Gua Dempok.
panjang Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan
gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama pemilik
lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor di masa lalu
diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping, tidak jauh dari pintu
masuk Gua Dempok.
Gejala endokars ini merupakan gua alam fosil yang penuh dengan ornamen yang
masih aktif. Lorong-lorong di dalam Gua Intan yang berarah utara-selatan dan
barat-timur genesanya berkaitan dengan pelarutan di sepanjang struktur retakan
yang ada.
Sebuah stalaktit di dinding pintu masuk sebelah kanan dilingkupi oleh sedimen
pasir lempungan berwarna merah kecoklatan. Sedimen tersebut mengandung fosil
moluska, sehingga kehadirannya akan menguak sejarah pembentukan gua. Moluska
adalah binatang darat yang hidup di sekitar gua. Ketika air hujan masuk ke
dalam gua, binatang itu terangkut ke dalam gua bersama-sama dengan sedimen
pasir dan lempung. Saat terjadi banjir seluruh lorong gua terendam air, dan
sebuah stalaktit yang terletak 3 m dari dasar gua ditutupi oleh sedimen
tersebut. Kumpulan fosil ini berumur Plistosen-Resen, sehingga Gua Intan
setidaknya sudah ada sejak 1 juta tahun yang lalu.
Sebuah kubah besar berukuran 30 X 40 m dan tinggi maksimum 20 m dapat dicapai
dengan melewati lubang sempit selebar 1 m. atap kubah dihiasi oleh stalaktit-stalaktit
berukuran maksimum 1 m. Sebuah avent di atap kubah berfungsi sebagai ventilasi
alam. Sekelompok stalaktit yang menyatu dengan stalakmit membantu pilar atau
kolom setinggi beberapa meter yang indah. Ornamen gua di bagian ini umumnya
masih aktif.
Di sebelah kanan ruangan pertama terdapat ruangan kedua yang disusun oleh batu
gamping berlapis, dengan sebuah jembatan alam yang menghubungkan dinding kanan
dan kiri ruangan. Jembatan ini merupakan sisa lapisan batu gamping yang sukar
larut. Sedang lapisan batu gamping lunak di dasar jembatan sebagian besar telah
habis, dikikis oleh aliran sungai bawah tanah yang pernah aktif di masa lalu.
Ruangan kedua yang berukuran 20 X 40 m dan tinggi 15 m ini berakhir pada sebuah
lubang sempit yang ditutupi oleh sedimen gua. lekuk-lekuk kecil di atap gua
dipenuhi oleh kelelawar. Tidak adanya ventilasi di ruangan kedua ini
menyebabkan udara di dalam gua sedikit panas dan pengap. Fermentasi kotoran
kelelawar memungkinkan terbentuknya CO2 dan bau yang menyengat.
Kompleks
Gua wisata baik gua alam maupun buatan yang terletak sekitar 42 km barat daya
Kebumen ini mencakup kawasan seluas 5,5 hektare. Objek wisata ini telah
dilengkapi dengan prasarana wisata seperti tempat parkir, peturasan, tempat
bermain, kios makanan, buah-buahan dan toko cindera mata.
Kompleks Gua Jatijajar mencakup Gua Jatijajar, Gua Dempok, dan Gua Intan.
Kawasan ini berada sekitar 250 m di atas permukaan laut. Sistem pergunaan
berkembang pada kehadiran fosil-fosil seperti Lepidocylina sumatrensis Brady,
L. elegans Tan dan Cycloclypeus annulatus Martin selain menunjukkan umur batuan
juga sekaligus menciri lingkungan asalnya, yaitu laut dangkal yang mempunyai
kedalaman maksimum 60 m.
Kira-kira 14-11 juta tahun lalu daerah ini masih merupakan paparan laut
dangkal, yang kemudian terangkat hingga ketinggiannya sekarang akibat sifat
bumi yang dinamis. Tidak adanya sedimen lain yang menutupi lapisan batu gamping
di daerah Gombong selatan menunjukkan jika sejak 10 juta tahun lalu daerah ini
sudah berada di atas permukaan laut. Dihitung dari kurun waktu kurang dari 10
juta tahun telah terjadi pengangkatan setinggi lebih dari 300 m. Pengangkatan
itu menyebabkan batuan terkekarkan dan tersesarkan. Curah hujan yang tinggi
mempercepat terjadinya proses karstifikasi, membentuk kars sebagaimana terlihat
sekarang.
Gejala endokars ini mempunyai mulut gua yang berbangun melengkung tinggi dan
lebar. Pada dinding pintu masuk sebelah kanan tersingkap sisa endapan sedimen
gua yang kaya fosil moluska. Beberapa spesies grastropoda dan pelecypoda
terawetkan baik pada lapisan lempung pasiran berwarna coklat tua. Sedimen
berfosil ini dapat dikorelasikan dengan sedimen sejenis yang tersingkap di
pintu masuk Gua Intan. Sediman di dalam Gua juga tersingkap pada sebuah sisa
kanopi tua, beberapa meter dari pintu masuk. Cangkang-cangkang pipih pelecypoda
pada sedimen gua ini tersusun secara alami ke arah utara sejajar dengan arah lorong
utama masuk gua, yaitu utara-selatan. Bagian atap dan dinding pintu masuk gua
dipenuhi oleh tulisan nama-nama pengunjung. Gravity yang paling tua tertanggal
tahun 1805.
Pembentukan kanopy di dekat pintu masuk Gua Jatijajar menunjukkan adanya sungai
bawahtanah yang pernah aktif beberapa ratus ribu tahun yang lalu. Proses
pengangkatan menyebabkan sungai menjadi kering, karena air mencari permukaan
air tanah setempat yang letaknya lebih rendah. Sungai bawah tanah yang masih
aktif di dalam Gua Jatijajar tersingkap melalui beberapa sendang, yang letaknya
berkisar antara 1-3 m di bawah lorong fosil utama.
Sendang Kantil dan Sendang Mawar adalah kolam-kolam sungai bawah tanah yang
dibuka untuk umum. Dua sendang lainnya yaitu Jombor dan Puserbumi tidak dapat
dimasuki wisatawan umum, kecuali mendapat ijin dari pengelola kawasan wisata.
Sebagai mata air, Sendang Puserbumi merupakan sebuah sumuran tegak bergaris
tengah sekitar 50 cm. Sementara Sendang Jombor yang dihuni seekor pelus
sepanjang lebih dari 1 m mempunyai sifon di dasarnya. Sifon ini dapat
ditelusuri dengan metode penyelaman (cave diving). Beragam bentukan pengendapan
ulang larutan CaCO3 jenuh yang indah dan mempesona dijumpai di dalam lorong gua
dibalik sifon. Lorong gua sepanjang ratusan meter dihiasi dengan deretan gurdam
dan air terjun. Lorong gua di bawah gua Jatijajar ini disiapkan menjadi objek
wisata minat khusus. Untuk memasuki sendang di dalam Gua Jatijajar dikeramatkan
dan dijadikan sebagai tempat berziarah.
Lubang-lubang di dasar gua di dekat pintu masuk merupakan bekas-bekas
penambangan fosfat guano. Ornamen gua (stalaktit, stalakmit, pilar, flowstone)
umumnya sudah tidak aktif, meskipun di beberapa tempat terdapat tetesan dan
leleran air melalui ujung-ujung stalaktit. Sebuah lubang di atap gua setinggi
24 m dari dasar gua, tidak jauh dari pilar besar berbangun membundar yang masih
aktif, mengungkap sejarah penemuan gua pada tahun 1802 oleh Djayamenawi, Petani
tersebut terperosok ke dalam gua melalui lubang yang ada dipermukaan, dan setelah
tanah yang menutupi lorong dibersihkan ia menemukan lubang masuk, yaitu mulut
gua sekarang.
Lorong Gua Jatijajar sepanjang 250 m, dengan lebar dan tinggi rata-rata 15-25
m, dapat dimasuki oleh wisatawan dengan mudah. Mulai tahun 1975, disepanjang
lorong gua ditempatkan 32 buah patung yang menceritakan Legenda Raden
Kamandaka. Di luar Gua menggambarkan kepurbaan Gua Jatijajar.
Kamandaka yang aslinya bernama Raden Banyak Contro adalah putera mahkota
Kerajaan Pajajaran. Pusat pemerintahan Pasirluhur atau Galuh Timur pada abad 14
kira-kira berada di sekitar Baturaden (purwokerto), di lereng Gunung Slamet.
Prabu Siliwangi raja Pajajaran pada waktu itu memiliki 2 permaisuri. Dari
permaisuri pertama, Prabu Siliwangi berputra 2 orang yaitu Banyak Contro dan Banyak
Ngampar. Karena permaisuri pertama meninggal, Prabu Siliwangi mengangkat
permaisuri kedua, Dewi Kumudaningsih. Sebelumnya Dewi Kumudaningsih memberi
syarat mau menjadi permaisuri jika anak laki-lakinya kelak dapat menjadi raja,
menggantikan Prabu Siliwangi. Dari permaisuri kedua ini terturunkan Banyak
Blabur dan Dewi Pamungkas.
Prabu Siliwangi yang sudah lanjut usia berencana mengangkat putra sulungnya,
Banyak Contro, untuk menggantikannya. Permintaan itu ditolak oleh Banyak
Contro, dengan alasan ia belum siap dan belum mempunyai pendamping. Ia hanya
mau menikah dengan wanita yang mirip dengan mendiang ibunya. Untuk itu ia
mengembara menuju gunung Tangkuban Perahu, menemui Ki Ajar Wirangrong. Oleh
orang tua tersebut ia disuruh mengembara ke timur, menuju Kadipaten Pasir
Luhur. Supaya cita-citanya beristri wanita cantik seperti ibunya terkabul, ia
harus menanggalkan pakaiannya sebagai putera raja menjadi orang biasa. Banyak
Contro selanjutnya menyamar menjadi orang kebanyakan, dan berganti nama menjadi
Kamandaka.
Setelah sampai di Pasir Luhur ia bertemu dengan Reksono patih Kadipaten Pasir
Luhur yang menjadikannya sebagai anak angkat. Adipati Kandandoho, penguasa
Kadipaten Pasir Luhur, mempunyai beberapa putri yang semuannya sudah bersuami
kecuali putri bungsunya Dewi Ciptoroso. Wajah dan penampilan putri Pasir Luhur
ini mirip dengan Ibu Kamandaka. Kamandaka berhasil menarik hati Dewi Ciptoroso.
Tetapi pada suaru saat ketika mereka sedang berdua di taman keputren seorang
prajurit kadipaten memergokinya. Kamandaka dikeroyok para prajurit, yang
mengiranya sebagai pencuri. Karena kesaktiannya ia dapat meloloskan diri.
Tetapi sebelumnya ia sempat mengatakan identitasnya, yaitu Kamandaka putra
Patih Reksonoto. Adipati Patih Pasir Luhur murka, memanggil Patih Reksonoto
supaya menangkap Kamandaka dan menyerahkan kepadanya.
Kamandaka yang melarikan diri dengan cara menceburkan diri ke sungai dilaporkan
oleh Patih Reksonoto telah mati, hanyut di bawa arus sungai deras. Setelah jauh
dari Pasir Luhur, Kamandaka naik ke darat berjalan menuju sebuah desa. Di Desa
Paniagih ia bertemu janda miskin Mbok Kertosoro. Kamandaka selanjutnya diangkat
menjadi anaknya. Mbok Kertosoro mempunyai seekor ayam jantan bernama Mercu,
yang dirawat dengan baik oleh Kamandaka. Ke mana-mana ia pergi dengan ayam-ayam
lainnya. Mercu selalu menang, sehingga akhirnya Kamandaka dikenal sebagai
penyabung ayam yang hebat. Berita tersebut sampai di Kadipaten Pasir Luhur.
Adipati Kandandoho sangat murka mendengar Kamandaka masih hidup. Ia memerintahkan
prajuritnya untuk menangkap Kamandaka. Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba
muncul silihwarni. Silihwarni yang menawarkan dirinya menjadi abdi di Pasir
Luhur diterima oleh Adipati Kandandoho, asal dapat membunuh Kamandaka.
Silihwarni sebenarnya adalah Banyak Ngampar, adik kandung Kamandaka. Ia
mendapat tugas dari ayahnya Prabu Siliwangi mencari kakaknya. Untuk menjaga
keselamatannya di perjalanan, Banyak Ngampar dibekali senjata kerajaan, kujang
Pamungkas. Karena tidak tahu kalau Kamandaka adalah kakaknya yang dicari-cari
Silihwarni berangkat bersama dengan sepasukan prajurit Pasir Luhur.
Akhirnya Silihwarni sampai di Desa Paniagih, bertemu dengan Kamandaka dan
menantangnya bersabung ayam. Saat ayam jantan masing-masing bersabung,
Silihwarni menikam Kamandaka yang sedang lengah dengan pusaka Kujang Pamungkas.
Kamandaka terluka parah, tetapi ia dapat meloloskan diri. Tempat di mana
Kamandaka dapat meloloskan diri dari kepungan prajurit Pasir Luhur dan
Silihwarni sekarang dinamakan Desa Brobosan (mbrobos = meloloskan diri). Saat
Kamandaka beristirahat di suatu tempat, darahnya mengucur deras dari luka di
lambungnya. Tempat iru kemudian diberi nama Desa Bancaran (Bancar = deras).
Silihwarni bersama prajurit Pasir Luhur terus mengejarnya, dibantu
anjing-anjing pelacak. Seekor anjing dapat di bunuh oleh Kamandaka di suatu
tempat, yang selanjutnya desa itu dinamakan Karang Anjing. Kamandaka terus lari
ke arah timur, dan sampai di ujung jalan yang buntuk (selanjutnya tempat itu
dinamakan Desa Buntu).
Setelah berlari cukup jauh akhirnya Kamandaka sampai di sebuah gua. Ia
bersembunyi di dalamnya. Silihwarni yang kehilangan jejak, Ia berteriak-teriak
menantang Kamandaka supaya ke luar dari tempat persembunyiannya. Kamandaka
menjawab, bahwa sebenarnya ia adalah putra mahkota Pajajaran Banyak Contro.
Mendengar jawaban itu Silihwarni terkejut dan iapun berkata kalau sebenarnya =
(sejatine) Ia juga putra Prabu Siliwangi, Banyak Ngampar. Keduanya baru sadar
kalau mereka adalah bersaudara.
Selanjutnya Kamandaka bertapa di gua tersebut dan mendapat petunjuk bahwa
niatnya mempersunting Dewi Ciptoroso akan tercapai jika ia berpakaian lutung
(kera) Dalam petunjuk itu ia diharuskan tinggal di Hutan Baturagung, baratdaya
Baturaden. Di hutan itu Kamandaka yang sudah berubah menjadi kera bertemu
dengan Dewi Ciptoroso, yang ketika itu mengikuti ayahnya Adipati Kandandoho
berburu. Kera yang jinak jelmaan Kamandaka segera menarik perhatian Dewi
Ciptoroso, yang menurut saja saat ditangkap dan dibawa ke Pasir Luhur.
Sesampainya di Pasir Luhur kera tersebut tidak mau makan apa-apa, sehingga
meninmbulkan kekhawatiran Adipati Kandandoho. Ia membuat sayembara, siapa yang
dapat memberi makan kera tersebut maka ia berhak memeliharanya. Banyak orang
mencobanya tetapi selalu gagal, kecuali Dewi Ciptoroso. Sesuai dengan sayembara
maka kera itupun dipelihara oleh putri bungsu Pasir Luhur dan diberi nama
Lutung Kasarung. Pada malam hari kera tersebut berubah ujud aslinya, yaitu
Kamandaka. Sedang siang hari menjelma lagi menjadi kera. hal itu hanya diketahui
oleh Dewi Ciptoroso.
Dikisahkan selanjutnya, Prabu Pule Bahas dari Nusa Kambangan ingin memperistri
Dewi Ciptoroso, dan mengutus kerajaan untuk meminangnya. Jika keinginan tidak
dikabulkan ia akan menghancurkan Kadipaten Pasir Luhur. Atas saran Lutung
Kasarung, Dewi Ciptoroso menemui ayahnya dan mengatakan kalau ia bersedia
menjadi istri Prabu Pule Bahas asal persyaratan yang akan diajukannya dipenuhi.
Salah satu syarat itu adalah Dewi Ciptoroso diperbolehkan membawa Lutung
Kasarung pada saat pengantin dipertemukan. Prabu Pule Bahas langsung
menyetujui.
Ketika upacara pengantin berlansung Lutung Kasarung selalu mengganggu, sehingga
menimbulkan kejengkelan Prabu Pule Bahas. Prabu Pule Bahas memukulnya dan
keduanya berkelahi. Raja Nusakambangan akhirnya tewas, digigit Lutung Kasarung.
Kematian raja tersebut mengubah ujud asli Lutung Kasarung, yaitu Kamandaka.
Setelah menceritakan asal-usulnya, Kamandaka akhirnya dikawinkan dengan Dewi
Ciptoroso. Berita itu akhirnya sampai di Kerajaan Pajajaran. Niat Prabu
Siliwangi untuk menjadikan Kamandaka sebagai raja tidak kesampaian. Karena
pantang bagi seseorang yang sudah terkena pusaka kerajaan Kujang Pamungkas
menjadi raja Pajajaran. Akhirnya Kamandaka atau Banyak Cokro menjadi adipati di
Pasir Luhur, menggantikan ayah Dewi Ciptoroso. Sedang Banyak Blabur
menggantikan Prabu siliwangi menjadi raja di Pajajaran.
Mata air atau sendang yang terdapat di dalam Gua Jatijajar dipercaya mempunyai
khasiat tertentu, sehingga dikeramatkan. Air Sendang Puserbumi dan Jombor konon
dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tertentu. Sedang air
Sendang Mawar dan Kantil jika untuk mencuci muka selain menjadi awet muda juga
akan tercapai apa yang dicita-citakannya.
Kepercayaan yang dituturkan secara turun-temurun ini mengakar kuat di hati
sanubari masyarakat Kebumen dan sekitarnya, sehigga pada hari-hari tertentu
menurut penanggalan Jawa tempat tersebut ramai dikunjungi peziarah, terutama
pada malam hari.
Segmen lorong gua sepanjang 50 m mulai dari pintu masuk merupakan bentukan
alami hasil kegiatan sungai bawah tanah di masa lalu. Setempat, atap dan
dinding gua dihiasi oleh stalaktit dan flowstone. Lubang di atap gua yang
tembus ke permukaan (avent) berfungsi sebagai ventilasi alam, sehingga udara di
dalam gua tetap segar. Lorong ini selanjutnya berhubungan dengan gua buatan,
bekas penambangan kapur.
panjang Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan
gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama pemilik
lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor di masa lalu
diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping, tidak jauh dari pintu
masuk Gua Dempok.
panjang Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan
gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama pemilik
lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor di masa lalu
diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping, tidak jauh dari pintu
masuk Gua Dempok.
Gejala endokars ini merupakan gua alam fosil yang penuh dengan ornamen yang
masih aktif. Lorong-lorong di dalam Gua Intan yang berarah utara-selatan dan
barat-timur genesanya berkaitan dengan pelarutan di sepanjang struktur retakan
yang ada.
Sebuah stalaktit di dinding pintu masuk sebelah kanan dilingkupi oleh sedimen
pasir lempungan berwarna merah kecoklatan. Sedimen tersebut mengandung fosil
moluska, sehingga kehadirannya akan menguak sejarah pembentukan gua. Moluska
adalah binatang darat yang hidup di sekitar gua. Ketika air hujan masuk ke
dalam gua, binatang itu terangkut ke dalam gua bersama-sama dengan sedimen
pasir dan lempung. Saat terjadi banjir seluruh lorong gua terendam air, dan
sebuah stalaktit yang terletak 3 m dari dasar gua ditutupi oleh sedimen
tersebut. Kumpulan fosil ini berumur Plistosen-Resen, sehingga Gua Intan
setidaknya sudah ada sejak 1 juta tahun yang lalu.
Sebuah kubah besar berukuran 30 X 40 m dan tinggi maksimum 20 m dapat dicapai
dengan melewati lubang sempit selebar 1 m. atap kubah dihiasi oleh stalaktit-stalaktit
berukuran maksimum 1 m. Sebuah avent di atap kubah berfungsi sebagai ventilasi
alam. Sekelompok stalaktit yang menyatu dengan stalakmit membantu pilar atau
kolom setinggi beberapa meter yang indah. Ornamen gua di bagian ini umumnya
masih aktif.
Di sebelah kanan ruangan pertama terdapat ruangan kedua yang disusun oleh batu
gamping berlapis, dengan sebuah jembatan alam yang menghubungkan dinding kanan
dan kiri ruangan. Jembatan ini merupakan sisa lapisan batu gamping yang sukar
larut. Sedang lapisan batu gamping lunak di dasar jembatan sebagian besar telah
habis, dikikis oleh aliran sungai bawah tanah yang pernah aktif di masa lalu.
Ruangan kedua yang berukuran 20 X 40 m dan tinggi 15 m ini berakhir pada sebuah
lubang sempit yang ditutupi oleh sedimen gua. lekuk-lekuk kecil di atap gua
dipenuhi oleh kelelawar. Tidak adanya ventilasi di ruangan kedua ini
menyebabkan udara di dalam gua sedikit panas dan pengap. Fermentasi kotoran
kelelawar memungkinkan terbentuknya CO2 dan bau yang menyengat.
Kompleks
Gua wisata baik gua alam maupun buatan yang terletak sekitar 42 km barat daya
Kebumen ini mencakup kawasan seluas 5,5 hektare. Objek wisata ini telah
dilengkapi dengan prasarana wisata seperti tempat parkir, peturasan, tempat
bermain, kios makanan, buah-buahan dan toko cindera mata.
Kompleks Gua Jatijajar mencakup Gua Jatijajar, Gua Dempok, dan Gua Intan.
Kawasan ini berada sekitar 250 m di atas permukaan laut. Sistem pergunaan
berkembang pada kehadiran fosil-fosil seperti Lepidocylina sumatrensis Brady,
L. elegans Tan dan Cycloclypeus annulatus Martin selain menunjukkan umur batuan
juga sekaligus menciri lingkungan asalnya, yaitu laut dangkal yang mempunyai
kedalaman maksimum 60 m.
Kira-kira 14-11 juta tahun lalu daerah ini masih merupakan paparan laut
dangkal, yang kemudian terangkat hingga ketinggiannya sekarang akibat sifat
bumi yang dinamis. Tidak adanya sedimen lain yang menutupi lapisan batu gamping
di daerah Gombong selatan menunjukkan jika sejak 10 juta tahun lalu daerah ini
sudah berada di atas permukaan laut. Dihitung dari kurun waktu kurang dari 10
juta tahun telah terjadi pengangkatan setinggi lebih dari 300 m. Pengangkatan
itu menyebabkan batuan terkekarkan dan tersesarkan. Curah hujan yang tinggi
mempercepat terjadinya proses karstifikasi, membentuk kars sebagaimana terlihat
sekarang.
Gejala endokars ini mempunyai mulut gua yang berbangun melengkung tinggi dan
lebar. Pada dinding pintu masuk sebelah kanan tersingkap sisa endapan sedimen
gua yang kaya fosil moluska. Beberapa spesies grastropoda dan pelecypoda
terawetkan baik pada lapisan lempung pasiran berwarna coklat tua. Sedimen
berfosil ini dapat dikorelasikan dengan sedimen sejenis yang tersingkap di
pintu masuk Gua Intan. Sediman di dalam Gua juga tersingkap pada sebuah sisa
kanopi tua, beberapa meter dari pintu masuk. Cangkang-cangkang pipih pelecypoda
pada sedimen gua ini tersusun secara alami ke arah utara sejajar dengan arah lorong
utama masuk gua, yaitu utara-selatan. Bagian atap dan dinding pintu masuk gua
dipenuhi oleh tulisan nama-nama pengunjung. Gravity yang paling tua tertanggal
tahun 1805.
Pembentukan kanopy di dekat pintu masuk Gua Jatijajar menunjukkan adanya sungai
bawahtanah yang pernah aktif beberapa ratus ribu tahun yang lalu. Proses
pengangkatan menyebabkan sungai menjadi kering, karena air mencari permukaan
air tanah setempat yang letaknya lebih rendah. Sungai bawah tanah yang masih
aktif di dalam Gua Jatijajar tersingkap melalui beberapa sendang, yang letaknya
berkisar antara 1-3 m di bawah lorong fosil utama.
Sendang Kantil dan Sendang Mawar adalah kolam-kolam sungai bawah tanah yang
dibuka untuk umum. Dua sendang lainnya yaitu Jombor dan Puserbumi tidak dapat
dimasuki wisatawan umum, kecuali mendapat ijin dari pengelola kawasan wisata.
Sebagai mata air, Sendang Puserbumi merupakan sebuah sumuran tegak bergaris
tengah sekitar 50 cm. Sementara Sendang Jombor yang dihuni seekor pelus
sepanjang lebih dari 1 m mempunyai sifon di dasarnya. Sifon ini dapat
ditelusuri dengan metode penyelaman (cave diving). Beragam bentukan pengendapan
ulang larutan CaCO3 jenuh yang indah dan mempesona dijumpai di dalam lorong gua
dibalik sifon. Lorong gua sepanjang ratusan meter dihiasi dengan deretan gurdam
dan air terjun. Lorong gua di bawah gua Jatijajar ini disiapkan menjadi objek
wisata minat khusus. Untuk memasuki sendang di dalam Gua Jatijajar dikeramatkan
dan dijadikan sebagai tempat berziarah.
Lubang-lubang di dasar gua di dekat pintu masuk merupakan bekas-bekas
penambangan fosfat guano. Ornamen gua (stalaktit, stalakmit, pilar, flowstone)
umumnya sudah tidak aktif, meskipun di beberapa tempat terdapat tetesan dan
leleran air melalui ujung-ujung stalaktit. Sebuah lubang di atap gua setinggi
24 m dari dasar gua, tidak jauh dari pilar besar berbangun membundar yang masih
aktif, mengungkap sejarah penemuan gua pada tahun 1802 oleh Djayamenawi, Petani
tersebut terperosok ke dalam gua melalui lubang yang ada dipermukaan, dan setelah
tanah yang menutupi lorong dibersihkan ia menemukan lubang masuk, yaitu mulut
gua sekarang.
Lorong Gua Jatijajar sepanjang 250 m, dengan lebar dan tinggi rata-rata 15-25
m, dapat dimasuki oleh wisatawan dengan mudah. Mulai tahun 1975, disepanjang
lorong gua ditempatkan 32 buah patung yang menceritakan Legenda Raden
Kamandaka. Di luar Gua menggambarkan kepurbaan Gua Jatijajar.
Kamandaka yang aslinya bernama Raden Banyak Contro adalah putera mahkota
Kerajaan Pajajaran. Pusat pemerintahan Pasirluhur atau Galuh Timur pada abad 14
kira-kira berada di sekitar Baturaden (purwokerto), di lereng Gunung Slamet.
Prabu Siliwangi raja Pajajaran pada waktu itu memiliki 2 permaisuri. Dari
permaisuri pertama, Prabu Siliwangi berputra 2 orang yaitu Banyak Contro dan Banyak
Ngampar. Karena permaisuri pertama meninggal, Prabu Siliwangi mengangkat
permaisuri kedua, Dewi Kumudaningsih. Sebelumnya Dewi Kumudaningsih memberi
syarat mau menjadi permaisuri jika anak laki-lakinya kelak dapat menjadi raja,
menggantikan Prabu Siliwangi. Dari permaisuri kedua ini terturunkan Banyak
Blabur dan Dewi Pamungkas.
Prabu Siliwangi yang sudah lanjut usia berencana mengangkat putra sulungnya,
Banyak Contro, untuk menggantikannya. Permintaan itu ditolak oleh Banyak
Contro, dengan alasan ia belum siap dan belum mempunyai pendamping. Ia hanya
mau menikah dengan wanita yang mirip dengan mendiang ibunya. Untuk itu ia
mengembara menuju gunung Tangkuban Perahu, menemui Ki Ajar Wirangrong. Oleh
orang tua tersebut ia disuruh mengembara ke timur, menuju Kadipaten Pasir
Luhur. Supaya cita-citanya beristri wanita cantik seperti ibunya terkabul, ia
harus menanggalkan pakaiannya sebagai putera raja menjadi orang biasa. Banyak
Contro selanjutnya menyamar menjadi orang kebanyakan, dan berganti nama menjadi
Kamandaka.
Setelah sampai di Pasir Luhur ia bertemu dengan Reksono patih Kadipaten Pasir
Luhur yang menjadikannya sebagai anak angkat. Adipati Kandandoho, penguasa
Kadipaten Pasir Luhur, mempunyai beberapa putri yang semuannya sudah bersuami
kecuali putri bungsunya Dewi Ciptoroso. Wajah dan penampilan putri Pasir Luhur
ini mirip dengan Ibu Kamandaka. Kamandaka berhasil menarik hati Dewi Ciptoroso.
Tetapi pada suaru saat ketika mereka sedang berdua di taman keputren seorang
prajurit kadipaten memergokinya. Kamandaka dikeroyok para prajurit, yang
mengiranya sebagai pencuri. Karena kesaktiannya ia dapat meloloskan diri.
Tetapi sebelumnya ia sempat mengatakan identitasnya, yaitu Kamandaka putra
Patih Reksonoto. Adipati Patih Pasir Luhur murka, memanggil Patih Reksonoto
supaya menangkap Kamandaka dan menyerahkan kepadanya.
Kamandaka yang melarikan diri dengan cara menceburkan diri ke sungai dilaporkan
oleh Patih Reksonoto telah mati, hanyut di bawa arus sungai deras. Setelah jauh
dari Pasir Luhur, Kamandaka naik ke darat berjalan menuju sebuah desa. Di Desa
Paniagih ia bertemu janda miskin Mbok Kertosoro. Kamandaka selanjutnya diangkat
menjadi anaknya. Mbok Kertosoro mempunyai seekor ayam jantan bernama Mercu,
yang dirawat dengan baik oleh Kamandaka. Ke mana-mana ia pergi dengan ayam-ayam
lainnya. Mercu selalu menang, sehingga akhirnya Kamandaka dikenal sebagai
penyabung ayam yang hebat. Berita tersebut sampai di Kadipaten Pasir Luhur.
Adipati Kandandoho sangat murka mendengar Kamandaka masih hidup. Ia memerintahkan
prajuritnya untuk menangkap Kamandaka. Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba
muncul silihwarni. Silihwarni yang menawarkan dirinya menjadi abdi di Pasir
Luhur diterima oleh Adipati Kandandoho, asal dapat membunuh Kamandaka.
Silihwarni sebenarnya adalah Banyak Ngampar, adik kandung Kamandaka. Ia
mendapat tugas dari ayahnya Prabu Siliwangi mencari kakaknya. Untuk menjaga
keselamatannya di perjalanan, Banyak Ngampar dibekali senjata kerajaan, kujang
Pamungkas. Karena tidak tahu kalau Kamandaka adalah kakaknya yang dicari-cari
Silihwarni berangkat bersama dengan sepasukan prajurit Pasir Luhur.
Akhirnya Silihwarni sampai di Desa Paniagih, bertemu dengan Kamandaka dan
menantangnya bersabung ayam. Saat ayam jantan masing-masing bersabung,
Silihwarni menikam Kamandaka yang sedang lengah dengan pusaka Kujang Pamungkas.
Kamandaka terluka parah, tetapi ia dapat meloloskan diri. Tempat di mana
Kamandaka dapat meloloskan diri dari kepungan prajurit Pasir Luhur dan
Silihwarni sekarang dinamakan Desa Brobosan (mbrobos = meloloskan diri). Saat
Kamandaka beristirahat di suatu tempat, darahnya mengucur deras dari luka di
lambungnya. Tempat iru kemudian diberi nama Desa Bancaran (Bancar = deras).
Silihwarni bersama prajurit Pasir Luhur terus mengejarnya, dibantu
anjing-anjing pelacak. Seekor anjing dapat di bunuh oleh Kamandaka di suatu
tempat, yang selanjutnya desa itu dinamakan Karang Anjing. Kamandaka terus lari
ke arah timur, dan sampai di ujung jalan yang buntuk (selanjutnya tempat itu
dinamakan Desa Buntu).
Setelah berlari cukup jauh akhirnya Kamandaka sampai di sebuah gua. Ia
bersembunyi di dalamnya. Silihwarni yang kehilangan jejak, Ia berteriak-teriak
menantang Kamandaka supaya ke luar dari tempat persembunyiannya. Kamandaka
menjawab, bahwa sebenarnya ia adalah putra mahkota Pajajaran Banyak Contro.
Mendengar jawaban itu Silihwarni terkejut dan iapun berkata kalau sebenarnya =
(sejatine) Ia juga putra Prabu Siliwangi, Banyak Ngampar. Keduanya baru sadar
kalau mereka adalah bersaudara.
Selanjutnya Kamandaka bertapa di gua tersebut dan mendapat petunjuk bahwa
niatnya mempersunting Dewi Ciptoroso akan tercapai jika ia berpakaian lutung
(kera) Dalam petunjuk itu ia diharuskan tinggal di Hutan Baturagung, baratdaya
Baturaden. Di hutan itu Kamandaka yang sudah berubah menjadi kera bertemu
dengan Dewi Ciptoroso, yang ketika itu mengikuti ayahnya Adipati Kandandoho
berburu. Kera yang jinak jelmaan Kamandaka segera menarik perhatian Dewi
Ciptoroso, yang menurut saja saat ditangkap dan dibawa ke Pasir Luhur.
Sesampainya di Pasir Luhur kera tersebut tidak mau makan apa-apa, sehingga
meninmbulkan kekhawatiran Adipati Kandandoho. Ia membuat sayembara, siapa yang
dapat memberi makan kera tersebut maka ia berhak memeliharanya. Banyak orang
mencobanya tetapi selalu gagal, kecuali Dewi Ciptoroso. Sesuai dengan sayembara
maka kera itupun dipelihara oleh putri bungsu Pasir Luhur dan diberi nama
Lutung Kasarung. Pada malam hari kera tersebut berubah ujud aslinya, yaitu
Kamandaka. Sedang siang hari menjelma lagi menjadi kera. hal itu hanya diketahui
oleh Dewi Ciptoroso.
Dikisahkan selanjutnya, Prabu Pule Bahas dari Nusa Kambangan ingin memperistri
Dewi Ciptoroso, dan mengutus kerajaan untuk meminangnya. Jika keinginan tidak
dikabulkan ia akan menghancurkan Kadipaten Pasir Luhur. Atas saran Lutung
Kasarung, Dewi Ciptoroso menemui ayahnya dan mengatakan kalau ia bersedia
menjadi istri Prabu Pule Bahas asal persyaratan yang akan diajukannya dipenuhi.
Salah satu syarat itu adalah Dewi Ciptoroso diperbolehkan membawa Lutung
Kasarung pada saat pengantin dipertemukan. Prabu Pule Bahas langsung
menyetujui.
Ketika upacara pengantin berlansung Lutung Kasarung selalu mengganggu, sehingga
menimbulkan kejengkelan Prabu Pule Bahas. Prabu Pule Bahas memukulnya dan
keduanya berkelahi. Raja Nusakambangan akhirnya tewas, digigit Lutung Kasarung.
Kematian raja tersebut mengubah ujud asli Lutung Kasarung, yaitu Kamandaka.
Setelah menceritakan asal-usulnya, Kamandaka akhirnya dikawinkan dengan Dewi
Ciptoroso. Berita itu akhirnya sampai di Kerajaan Pajajaran. Niat Prabu
Siliwangi untuk menjadikan Kamandaka sebagai raja tidak kesampaian. Karena
pantang bagi seseorang yang sudah terkena pusaka kerajaan Kujang Pamungkas
menjadi raja Pajajaran. Akhirnya Kamandaka atau Banyak Cokro menjadi adipati di
Pasir Luhur, menggantikan ayah Dewi Ciptoroso. Sedang Banyak Blabur
menggantikan Prabu siliwangi menjadi raja di Pajajaran.
Mata air atau sendang yang terdapat di dalam Gua Jatijajar dipercaya mempunyai
khasiat tertentu, sehingga dikeramatkan. Air Sendang Puserbumi dan Jombor konon
dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tertentu. Sedang air
Sendang Mawar dan Kantil jika untuk mencuci muka selain menjadi awet muda juga
akan tercapai apa yang dicita-citakannya.
Kepercayaan yang dituturkan secara turun-temurun ini mengakar kuat di hati
sanubari masyarakat Kebumen dan sekitarnya, sehigga pada hari-hari tertentu
menurut penanggalan Jawa tempat tersebut ramai dikunjungi peziarah, terutama
pada malam hari.
Segmen lorong gua sepanjang 50 m mulai dari pintu masuk merupakan bentukan
alami hasil kegiatan sungai bawah tanah di masa lalu. Setempat, atap dan
dinding gua dihiasi oleh stalaktit dan flowstone. Lubang di atap gua yang
tembus ke permukaan (avent) berfungsi sebagai ventilasi alam, sehingga udara di
dalam gua tetap segar. Lorong ini selanjutnya berhubungan dengan gua buatan,
bekas penambangan kapur.
panjang Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan
gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama pemilik
lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor di masa lalu
diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping, tidak jauh dari pintu
masuk Gua Dempok.
panjang Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan
gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama pemilik
lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor di masa lalu
diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping, tidak jauh dari pintu
masuk Gua Dempok.
Gejala endokars ini merupakan gua alam fosil yang penuh dengan ornamen yang
masih aktif. Lorong-lorong di dalam Gua Intan yang berarah utara-selatan dan
barat-timur genesanya berkaitan dengan pelarutan di sepanjang struktur retakan
yang ada.
Sebuah stalaktit di dinding pintu masuk sebelah kanan dilingkupi oleh sedimen
pasir lempungan berwarna merah kecoklatan. Sedimen tersebut mengandung fosil
moluska, sehingga kehadirannya akan menguak sejarah pembentukan gua. Moluska
adalah binatang darat yang hidup di sekitar gua. Ketika air hujan masuk ke
dalam gua, binatang itu terangkut ke dalam gua bersama-sama dengan sedimen
pasir dan lempung. Saat terjadi banjir seluruh lorong gua terendam air, dan
sebuah stalaktit yang terletak 3 m dari dasar gua ditutupi oleh sedimen
tersebut. Kumpulan fosil ini berumur Plistosen-Resen, sehingga Gua Intan
setidaknya sudah ada sejak 1 juta tahun yang lalu.
Sebuah kubah besar berukuran 30 X 40 m dan tinggi maksimum 20 m dapat dicapai
dengan melewati lubang sempit selebar 1 m. atap kubah dihiasi oleh stalaktit-stalaktit
berukuran maksimum 1 m. Sebuah avent di atap kubah berfungsi sebagai ventilasi
alam. Sekelompok stalaktit yang menyatu dengan stalakmit membantu pilar atau
kolom setinggi beberapa meter yang indah. Ornamen gua di bagian ini umumnya
masih aktif.
Di sebelah kanan ruangan pertama terdapat ruangan kedua yang disusun oleh batu
gamping berlapis, dengan sebuah jembatan alam yang menghubungkan dinding kanan
dan kiri ruangan. Jembatan ini merupakan sisa lapisan batu gamping yang sukar
larut. Sedang lapisan batu gamping lunak di dasar jembatan sebagian besar telah
habis, dikikis oleh aliran sungai bawah tanah yang pernah aktif di masa lalu.
Ruangan kedua yang berukuran 20 X 40 m dan tinggi 15 m ini berakhir pada sebuah
lubang sempit yang ditutupi oleh sedimen gua. lekuk-lekuk kecil di atap gua
dipenuhi oleh kelelawar. Tidak adanya ventilasi di ruangan kedua ini
menyebabkan udara di dalam gua sedikit panas dan pengap. Fermentasi kotoran
kelelawar memungkinkan terbentuknya CO2 dan bau yang menyengat.
Kompleks
Gua wisata baik gua alam maupun buatan yang terletak sekitar 42 km barat daya
Kebumen ini mencakup kawasan seluas 5,5 hektare. Objek wisata ini telah
dilengkapi dengan prasarana wisata seperti tempat parkir, peturasan, tempat
bermain, kios makanan, buah-buahan dan toko cindera mata.
Kompleks Gua Jatijajar mencakup Gua Jatijajar, Gua Dempok, dan Gua Intan.
Kawasan ini berada sekitar 250 m di atas permukaan laut. Sistem pergunaan
berkembang pada kehadiran fosil-fosil seperti Lepidocylina sumatrensis Brady,
L. elegans Tan dan Cycloclypeus annulatus Martin selain menunjukkan umur batuan
juga sekaligus menciri lingkungan asalnya, yaitu laut dangkal yang mempunyai
kedalaman maksimum 60 m.
Kira-kira 14-11 juta tahun lalu daerah ini masih merupakan paparan laut
dangkal, yang kemudian terangkat hingga ketinggiannya sekarang akibat sifat
bumi yang dinamis. Tidak adanya sedimen lain yang menutupi lapisan batu gamping
di daerah Gombong selatan menunjukkan jika sejak 10 juta tahun lalu daerah ini
sudah berada di atas permukaan laut. Dihitung dari kurun waktu kurang dari 10
juta tahun telah terjadi pengangkatan setinggi lebih dari 300 m. Pengangkatan
itu menyebabkan batuan terkekarkan dan tersesarkan. Curah hujan yang tinggi
mempercepat terjadinya proses karstifikasi, membentuk kars sebagaimana terlihat
sekarang.
Gejala endokars ini mempunyai mulut gua yang berbangun melengkung tinggi dan
lebar. Pada dinding pintu masuk sebelah kanan tersingkap sisa endapan sedimen
gua yang kaya fosil moluska. Beberapa spesies grastropoda dan pelecypoda
terawetkan baik pada lapisan lempung pasiran berwarna coklat tua. Sedimen
berfosil ini dapat dikorelasikan dengan sedimen sejenis yang tersingkap di
pintu masuk Gua Intan. Sediman di dalam Gua juga tersingkap pada sebuah sisa
kanopi tua, beberapa meter dari pintu masuk. Cangkang-cangkang pipih pelecypoda
pada sedimen gua ini tersusun secara alami ke arah utara sejajar dengan arah lorong
utama masuk gua, yaitu utara-selatan. Bagian atap dan dinding pintu masuk gua
dipenuhi oleh tulisan nama-nama pengunjung. Gravity yang paling tua tertanggal
tahun 1805.
Pembentukan kanopy di dekat pintu masuk Gua Jatijajar menunjukkan adanya sungai
bawahtanah yang pernah aktif beberapa ratus ribu tahun yang lalu. Proses
pengangkatan menyebabkan sungai menjadi kering, karena air mencari permukaan
air tanah setempat yang letaknya lebih rendah. Sungai bawah tanah yang masih
aktif di dalam Gua Jatijajar tersingkap melalui beberapa sendang, yang letaknya
berkisar antara 1-3 m di bawah lorong fosil utama.
Sendang Kantil dan Sendang Mawar adalah kolam-kolam sungai bawah tanah yang
dibuka untuk umum. Dua sendang lainnya yaitu Jombor dan Puserbumi tidak dapat
dimasuki wisatawan umum, kecuali mendapat ijin dari pengelola kawasan wisata.
Sebagai mata air, Sendang Puserbumi merupakan sebuah sumuran tegak bergaris
tengah sekitar 50 cm. Sementara Sendang Jombor yang dihuni seekor pelus
sepanjang lebih dari 1 m mempunyai sifon di dasarnya. Sifon ini dapat
ditelusuri dengan metode penyelaman (cave diving). Beragam bentukan pengendapan
ulang larutan CaCO3 jenuh yang indah dan mempesona dijumpai di dalam lorong gua
dibalik sifon. Lorong gua sepanjang ratusan meter dihiasi dengan deretan gurdam
dan air terjun. Lorong gua di bawah gua Jatijajar ini disiapkan menjadi objek
wisata minat khusus. Untuk memasuki sendang di dalam Gua Jatijajar dikeramatkan
dan dijadikan sebagai tempat berziarah.
Lubang-lubang di dasar gua di dekat pintu masuk merupakan bekas-bekas
penambangan fosfat guano. Ornamen gua (stalaktit, stalakmit, pilar, flowstone)
umumnya sudah tidak aktif, meskipun di beberapa tempat terdapat tetesan dan
leleran air melalui ujung-ujung stalaktit. Sebuah lubang di atap gua setinggi
24 m dari dasar gua, tidak jauh dari pilar besar berbangun membundar yang masih
aktif, mengungkap sejarah penemuan gua pada tahun 1802 oleh Djayamenawi, Petani
tersebut terperosok ke dalam gua melalui lubang yang ada dipermukaan, dan setelah
tanah yang menutupi lorong dibersihkan ia menemukan lubang masuk, yaitu mulut
gua sekarang.
Lorong Gua Jatijajar sepanjang 250 m, dengan lebar dan tinggi rata-rata 15-25
m, dapat dimasuki oleh wisatawan dengan mudah. Mulai tahun 1975, disepanjang
lorong gua ditempatkan 32 buah patung yang menceritakan Legenda Raden
Kamandaka. Di luar Gua menggambarkan kepurbaan Gua Jatijajar.
Kamandaka yang aslinya bernama Raden Banyak Contro adalah putera mahkota
Kerajaan Pajajaran. Pusat pemerintahan Pasirluhur atau Galuh Timur pada abad 14
kira-kira berada di sekitar Baturaden (purwokerto), di lereng Gunung Slamet.
Prabu Siliwangi raja Pajajaran pada waktu itu memiliki 2 permaisuri. Dari
permaisuri pertama, Prabu Siliwangi berputra 2 orang yaitu Banyak Contro dan Banyak
Ngampar. Karena permaisuri pertama meninggal, Prabu Siliwangi mengangkat
permaisuri kedua, Dewi Kumudaningsih. Sebelumnya Dewi Kumudaningsih memberi
syarat mau menjadi permaisuri jika anak laki-lakinya kelak dapat menjadi raja,
menggantikan Prabu Siliwangi. Dari permaisuri kedua ini terturunkan Banyak
Blabur dan Dewi Pamungkas.
Prabu Siliwangi yang sudah lanjut usia berencana mengangkat putra sulungnya,
Banyak Contro, untuk menggantikannya. Permintaan itu ditolak oleh Banyak
Contro, dengan alasan ia belum siap dan belum mempunyai pendamping. Ia hanya
mau menikah dengan wanita yang mirip dengan mendiang ibunya. Untuk itu ia
mengembara menuju gunung Tangkuban Perahu, menemui Ki Ajar Wirangrong. Oleh
orang tua tersebut ia disuruh mengembara ke timur, menuju Kadipaten Pasir
Luhur. Supaya cita-citanya beristri wanita cantik seperti ibunya terkabul, ia
harus menanggalkan pakaiannya sebagai putera raja menjadi orang biasa. Banyak
Contro selanjutnya menyamar menjadi orang kebanyakan, dan berganti nama menjadi
Kamandaka.
Setelah sampai di Pasir Luhur ia bertemu dengan Reksono patih Kadipaten Pasir
Luhur yang menjadikannya sebagai anak angkat. Adipati Kandandoho, penguasa
Kadipaten Pasir Luhur, mempunyai beberapa putri yang semuannya sudah bersuami
kecuali putri bungsunya Dewi Ciptoroso. Wajah dan penampilan putri Pasir Luhur
ini mirip dengan Ibu Kamandaka. Kamandaka berhasil menarik hati Dewi Ciptoroso.
Tetapi pada suaru saat ketika mereka sedang berdua di taman keputren seorang
prajurit kadipaten memergokinya. Kamandaka dikeroyok para prajurit, yang
mengiranya sebagai pencuri. Karena kesaktiannya ia dapat meloloskan diri.
Tetapi sebelumnya ia sempat mengatakan identitasnya, yaitu Kamandaka putra
Patih Reksonoto. Adipati Patih Pasir Luhur murka, memanggil Patih Reksonoto
supaya menangkap Kamandaka dan menyerahkan kepadanya.
Kamandaka yang melarikan diri dengan cara menceburkan diri ke sungai dilaporkan
oleh Patih Reksonoto telah mati, hanyut di bawa arus sungai deras. Setelah jauh
dari Pasir Luhur, Kamandaka naik ke darat berjalan menuju sebuah desa. Di Desa
Paniagih ia bertemu janda miskin Mbok Kertosoro. Kamandaka selanjutnya diangkat
menjadi anaknya. Mbok Kertosoro mempunyai seekor ayam jantan bernama Mercu,
yang dirawat dengan baik oleh Kamandaka. Ke mana-mana ia pergi dengan ayam-ayam
lainnya. Mercu selalu menang, sehingga akhirnya Kamandaka dikenal sebagai
penyabung ayam yang hebat. Berita tersebut sampai di Kadipaten Pasir Luhur.
Adipati Kandandoho sangat murka mendengar Kamandaka masih hidup. Ia memerintahkan
prajuritnya untuk menangkap Kamandaka. Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba
muncul silihwarni. Silihwarni yang menawarkan dirinya menjadi abdi di Pasir
Luhur diterima oleh Adipati Kandandoho, asal dapat membunuh Kamandaka.
Silihwarni sebenarnya adalah Banyak Ngampar, adik kandung Kamandaka. Ia
mendapat tugas dari ayahnya Prabu Siliwangi mencari kakaknya. Untuk menjaga
keselamatannya di perjalanan, Banyak Ngampar dibekali senjata kerajaan, kujang
Pamungkas. Karena tidak tahu kalau Kamandaka adalah kakaknya yang dicari-cari
Silihwarni berangkat bersama dengan sepasukan prajurit Pasir Luhur.
Akhirnya Silihwarni sampai di Desa Paniagih, bertemu dengan Kamandaka dan
menantangnya bersabung ayam. Saat ayam jantan masing-masing bersabung,
Silihwarni menikam Kamandaka yang sedang lengah dengan pusaka Kujang Pamungkas.
Kamandaka terluka parah, tetapi ia dapat meloloskan diri. Tempat di mana
Kamandaka dapat meloloskan diri dari kepungan prajurit Pasir Luhur dan
Silihwarni sekarang dinamakan Desa Brobosan (mbrobos = meloloskan diri). Saat
Kamandaka beristirahat di suatu tempat, darahnya mengucur deras dari luka di
lambungnya. Tempat iru kemudian diberi nama Desa Bancaran (Bancar = deras).
Silihwarni bersama prajurit Pasir Luhur terus mengejarnya, dibantu
anjing-anjing pelacak. Seekor anjing dapat di bunuh oleh Kamandaka di suatu
tempat, yang selanjutnya desa itu dinamakan Karang Anjing. Kamandaka terus lari
ke arah timur, dan sampai di ujung jalan yang buntuk (selanjutnya tempat itu
dinamakan Desa Buntu).
Setelah berlari cukup jauh akhirnya Kamandaka sampai di sebuah gua. Ia
bersembunyi di dalamnya. Silihwarni yang kehilangan jejak, Ia berteriak-teriak
menantang Kamandaka supaya ke luar dari tempat persembunyiannya. Kamandaka
menjawab, bahwa sebenarnya ia adalah putra mahkota Pajajaran Banyak Contro.
Mendengar jawaban itu Silihwarni terkejut dan iapun berkata kalau sebenarnya =
(sejatine) Ia juga putra Prabu Siliwangi, Banyak Ngampar. Keduanya baru sadar
kalau mereka adalah bersaudara.
Selanjutnya Kamandaka bertapa di gua tersebut dan mendapat petunjuk bahwa
niatnya mempersunting Dewi Ciptoroso akan tercapai jika ia berpakaian lutung
(kera) Dalam petunjuk itu ia diharuskan tinggal di Hutan Baturagung, baratdaya
Baturaden. Di hutan itu Kamandaka yang sudah berubah menjadi kera bertemu
dengan Dewi Ciptoroso, yang ketika itu mengikuti ayahnya Adipati Kandandoho
berburu. Kera yang jinak jelmaan Kamandaka segera menarik perhatian Dewi
Ciptoroso, yang menurut saja saat ditangkap dan dibawa ke Pasir Luhur.
Sesampainya di Pasir Luhur kera tersebut tidak mau makan apa-apa, sehingga
meninmbulkan kekhawatiran Adipati Kandandoho. Ia membuat sayembara, siapa yang
dapat memberi makan kera tersebut maka ia berhak memeliharanya. Banyak orang
mencobanya tetapi selalu gagal, kecuali Dewi Ciptoroso. Sesuai dengan sayembara
maka kera itupun dipelihara oleh putri bungsu Pasir Luhur dan diberi nama
Lutung Kasarung. Pada malam hari kera tersebut berubah ujud aslinya, yaitu
Kamandaka. Sedang siang hari menjelma lagi menjadi kera. hal itu hanya diketahui
oleh Dewi Ciptoroso.
Dikisahkan selanjutnya, Prabu Pule Bahas dari Nusa Kambangan ingin memperistri
Dewi Ciptoroso, dan mengutus kerajaan untuk meminangnya. Jika keinginan tidak
dikabulkan ia akan menghancurkan Kadipaten Pasir Luhur. Atas saran Lutung
Kasarung, Dewi Ciptoroso menemui ayahnya dan mengatakan kalau ia bersedia
menjadi istri Prabu Pule Bahas asal persyaratan yang akan diajukannya dipenuhi.
Salah satu syarat itu adalah Dewi Ciptoroso diperbolehkan membawa Lutung
Kasarung pada saat pengantin dipertemukan. Prabu Pule Bahas langsung
menyetujui.
Ketika upacara pengantin berlansung Lutung Kasarung selalu mengganggu, sehingga
menimbulkan kejengkelan Prabu Pule Bahas. Prabu Pule Bahas memukulnya dan
keduanya berkelahi. Raja Nusakambangan akhirnya tewas, digigit Lutung Kasarung.
Kematian raja tersebut mengubah ujud asli Lutung Kasarung, yaitu Kamandaka.
Setelah menceritakan asal-usulnya, Kamandaka akhirnya dikawinkan dengan Dewi
Ciptoroso. Berita itu akhirnya sampai di Kerajaan Pajajaran. Niat Prabu
Siliwangi untuk menjadikan Kamandaka sebagai raja tidak kesampaian. Karena
pantang bagi seseorang yang sudah terkena pusaka kerajaan Kujang Pamungkas
menjadi raja Pajajaran. Akhirnya Kamandaka atau Banyak Cokro menjadi adipati di
Pasir Luhur, menggantikan ayah Dewi Ciptoroso. Sedang Banyak Blabur
menggantikan Prabu siliwangi menjadi raja di Pajajaran.
Mata air atau sendang yang terdapat di dalam Gua Jatijajar dipercaya mempunyai
khasiat tertentu, sehingga dikeramatkan. Air Sendang Puserbumi dan Jombor konon
dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tertentu. Sedang air
Sendang Mawar dan Kantil jika untuk mencuci muka selain menjadi awet muda juga
akan tercapai apa yang dicita-citakannya.
Kepercayaan yang dituturkan secara turun-temurun ini mengakar kuat di hati
sanubari masyarakat Kebumen dan sekitarnya, sehigga pada hari-hari tertentu
menurut penanggalan Jawa tempat tersebut ramai dikunjungi peziarah, terutama
pada malam hari.
Segmen lorong gua sepanjang 50 m mulai dari pintu masuk merupakan bentukan
alami hasil kegiatan sungai bawah tanah di masa lalu. Setempat, atap dan
dinding gua dihiasi oleh stalaktit dan flowstone. Lubang di atap gua yang
tembus ke permukaan (avent) berfungsi sebagai ventilasi alam, sehingga udara di
dalam gua tetap segar. Lorong ini selanjutnya berhubungan dengan gua buatan,
bekas penambangan kapur.
panjang Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan
gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama pemilik
lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor di masa lalu
diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping, tidak jauh dari pintu
masuk Gua Dempok.
panjang Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan
gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama pemilik
lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor di masa lalu
diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping, tidak jauh dari pintu
masuk Gua Dempok.
Gejala endokars ini merupakan gua alam fosil yang penuh dengan ornamen yang
masih aktif. Lorong-lorong di dalam Gua Intan yang berarah utara-selatan dan
barat-timur genesanya berkaitan dengan pelarutan di sepanjang struktur retakan
yang ada.
Sebuah stalaktit di dinding pintu masuk sebelah kanan dilingkupi oleh sedimen
pasir lempungan berwarna merah kecoklatan. Sedimen tersebut mengandung fosil
moluska, sehingga kehadirannya akan menguak sejarah pembentukan gua. Moluska
adalah binatang darat yang hidup di sekitar gua. Ketika air hujan masuk ke
dalam gua, binatang itu terangkut ke dalam gua bersama-sama dengan sedimen
pasir dan lempung. Saat terjadi banjir seluruh lorong gua terendam air, dan
sebuah stalaktit yang terletak 3 m dari dasar gua ditutupi oleh sedimen
tersebut. Kumpulan fosil ini berumur Plistosen-Resen, sehingga Gua Intan
setidaknya sudah ada sejak 1 juta tahun yang lalu.
Sebuah kubah besar berukuran 30 X 40 m dan tinggi maksimum 20 m dapat dicapai
dengan melewati lubang sempit selebar 1 m. atap kubah dihiasi oleh stalaktit-stalaktit
berukuran maksimum 1 m. Sebuah avent di atap kubah berfungsi sebagai ventilasi
alam. Sekelompok stalaktit yang menyatu dengan stalakmit membantu pilar atau
kolom setinggi beberapa meter yang indah. Ornamen gua di bagian ini umumnya
masih aktif.
Di sebelah kanan ruangan pertama terdapat ruangan kedua yang disusun oleh batu
gamping berlapis, dengan sebuah jembatan alam yang menghubungkan dinding kanan
dan kiri ruangan. Jembatan ini merupakan sisa lapisan batu gamping yang sukar
larut. Sedang lapisan batu gamping lunak di dasar jembatan sebagian besar telah
habis, dikikis oleh aliran sungai bawah tanah yang pernah aktif di masa lalu.
Ruangan kedua yang berukuran 20 X 40 m dan tinggi 15 m ini berakhir pada sebuah
lubang sempit yang ditutupi oleh sedimen gua. lekuk-lekuk kecil di atap gua
dipenuhi oleh kelelawar. Tidak adanya ventilasi di ruangan kedua ini
menyebabkan udara di dalam gua sedikit panas dan pengap. Fermentasi kotoran
kelelawar memungkinkan terbentuknya CO2 dan bau yang menyengat.
Kompleks
Gua wisata baik gua alam maupun buatan yang terletak sekitar 42 km barat daya
Kebumen ini mencakup kawasan seluas 5,5 hektare. Objek wisata ini telah
dilengkapi dengan prasarana wisata seperti tempat parkir, peturasan, tempat
bermain, kios makanan, buah-buahan dan toko cindera mata.
Kompleks Gua Jatijajar mencakup Gua Jatijajar, Gua Dempok, dan Gua Intan.
Kawasan ini berada sekitar 250 m di atas permukaan laut. Sistem pergunaan
berkembang pada kehadiran fosil-fosil seperti Lepidocylina sumatrensis Brady,
L. elegans Tan dan Cycloclypeus annulatus Martin selain menunjukkan umur batuan
juga sekaligus menciri lingkungan asalnya, yaitu laut dangkal yang mempunyai
kedalaman maksimum 60 m.
Kira-kira 14-11 juta tahun lalu daerah ini masih merupakan paparan laut
dangkal, yang kemudian terangkat hingga ketinggiannya sekarang akibat sifat
bumi yang dinamis. Tidak adanya sedimen lain yang menutupi lapisan batu gamping
di daerah Gombong selatan menunjukkan jika sejak 10 juta tahun lalu daerah ini
sudah berada di atas permukaan laut. Dihitung dari kurun waktu kurang dari 10
juta tahun telah terjadi pengangkatan setinggi lebih dari 300 m. Pengangkatan
itu menyebabkan batuan terkekarkan dan tersesarkan. Curah hujan yang tinggi
mempercepat terjadinya proses karstifikasi, membentuk kars sebagaimana terlihat
sekarang.
Gejala endokars ini mempunyai mulut gua yang berbangun melengkung tinggi dan
lebar. Pada dinding pintu masuk sebelah kanan tersingkap sisa endapan sedimen
gua yang kaya fosil moluska. Beberapa spesies grastropoda dan pelecypoda
terawetkan baik pada lapisan lempung pasiran berwarna coklat tua. Sedimen
berfosil ini dapat dikorelasikan dengan sedimen sejenis yang tersingkap di
pintu masuk Gua Intan. Sediman di dalam Gua juga tersingkap pada sebuah sisa
kanopi tua, beberapa meter dari pintu masuk. Cangkang-cangkang pipih pelecypoda
pada sedimen gua ini tersusun secara alami ke arah utara sejajar dengan arah lorong
utama masuk gua, yaitu utara-selatan. Bagian atap dan dinding pintu masuk gua
dipenuhi oleh tulisan nama-nama pengunjung. Gravity yang paling tua tertanggal
tahun 1805.
Pembentukan kanopy di dekat pintu masuk Gua Jatijajar menunjukkan adanya sungai
bawahtanah yang pernah aktif beberapa ratus ribu tahun yang lalu. Proses
pengangkatan menyebabkan sungai menjadi kering, karena air mencari permukaan
air tanah setempat yang letaknya lebih rendah. Sungai bawah tanah yang masih
aktif di dalam Gua Jatijajar tersingkap melalui beberapa sendang, yang letaknya
berkisar antara 1-3 m di bawah lorong fosil utama.
Sendang Kantil dan Sendang Mawar adalah kolam-kolam sungai bawah tanah yang
dibuka untuk umum. Dua sendang lainnya yaitu Jombor dan Puserbumi tidak dapat
dimasuki wisatawan umum, kecuali mendapat ijin dari pengelola kawasan wisata.
Sebagai mata air, Sendang Puserbumi merupakan sebuah sumuran tegak bergaris
tengah sekitar 50 cm. Sementara Sendang Jombor yang dihuni seekor pelus
sepanjang lebih dari 1 m mempunyai sifon di dasarnya. Sifon ini dapat
ditelusuri dengan metode penyelaman (cave diving). Beragam bentukan pengendapan
ulang larutan CaCO3 jenuh yang indah dan mempesona dijumpai di dalam lorong gua
dibalik sifon. Lorong gua sepanjang ratusan meter dihiasi dengan deretan gurdam
dan air terjun. Lorong gua di bawah gua Jatijajar ini disiapkan menjadi objek
wisata minat khusus. Untuk memasuki sendang di dalam Gua Jatijajar dikeramatkan
dan dijadikan sebagai tempat berziarah.
Lubang-lubang di dasar gua di dekat pintu masuk merupakan bekas-bekas
penambangan fosfat guano. Ornamen gua (stalaktit, stalakmit, pilar, flowstone)
umumnya sudah tidak aktif, meskipun di beberapa tempat terdapat tetesan dan
leleran air melalui ujung-ujung stalaktit. Sebuah lubang di atap gua setinggi
24 m dari dasar gua, tidak jauh dari pilar besar berbangun membundar yang masih
aktif, mengungkap sejarah penemuan gua pada tahun 1802 oleh Djayamenawi, Petani
tersebut terperosok ke dalam gua melalui lubang yang ada dipermukaan, dan setelah
tanah yang menutupi lorong dibersihkan ia menemukan lubang masuk, yaitu mulut
gua sekarang.
Lorong Gua Jatijajar sepanjang 250 m, dengan lebar dan tinggi rata-rata 15-25
m, dapat dimasuki oleh wisatawan dengan mudah. Mulai tahun 1975, disepanjang
lorong gua ditempatkan 32 buah patung yang menceritakan Legenda Raden
Kamandaka. Di luar Gua menggambarkan kepurbaan Gua Jatijajar.
Kamandaka yang aslinya bernama Raden Banyak Contro adalah putera mahkota
Kerajaan Pajajaran. Pusat pemerintahan Pasirluhur atau Galuh Timur pada abad 14
kira-kira berada di sekitar Baturaden (purwokerto), di lereng Gunung Slamet.
Prabu Siliwangi raja Pajajaran pada waktu itu memiliki 2 permaisuri. Dari
permaisuri pertama, Prabu Siliwangi berputra 2 orang yaitu Banyak Contro dan Banyak
Ngampar. Karena permaisuri pertama meninggal, Prabu Siliwangi mengangkat
permaisuri kedua, Dewi Kumudaningsih. Sebelumnya Dewi Kumudaningsih memberi
syarat mau menjadi permaisuri jika anak laki-lakinya kelak dapat menjadi raja,
menggantikan Prabu Siliwangi. Dari permaisuri kedua ini terturunkan Banyak
Blabur dan Dewi Pamungkas.
Prabu Siliwangi yang sudah lanjut usia berencana mengangkat putra sulungnya,
Banyak Contro, untuk menggantikannya. Permintaan itu ditolak oleh Banyak
Contro, dengan alasan ia belum siap dan belum mempunyai pendamping. Ia hanya
mau menikah dengan wanita yang mirip dengan mendiang ibunya. Untuk itu ia
mengembara menuju gunung Tangkuban Perahu, menemui Ki Ajar Wirangrong. Oleh
orang tua tersebut ia disuruh mengembara ke timur, menuju Kadipaten Pasir
Luhur. Supaya cita-citanya beristri wanita cantik seperti ibunya terkabul, ia
harus menanggalkan pakaiannya sebagai putera raja menjadi orang biasa. Banyak
Contro selanjutnya menyamar menjadi orang kebanyakan, dan berganti nama menjadi
Kamandaka.
Setelah sampai di Pasir Luhur ia bertemu dengan Reksono patih Kadipaten Pasir
Luhur yang menjadikannya sebagai anak angkat. Adipati Kandandoho, penguasa
Kadipaten Pasir Luhur, mempunyai beberapa putri yang semuannya sudah bersuami
kecuali putri bungsunya Dewi Ciptoroso. Wajah dan penampilan putri Pasir Luhur
ini mirip dengan Ibu Kamandaka. Kamandaka berhasil menarik hati Dewi Ciptoroso.
Tetapi pada suaru saat ketika mereka sedang berdua di taman keputren seorang
prajurit kadipaten memergokinya. Kamandaka dikeroyok para prajurit, yang
mengiranya sebagai pencuri. Karena kesaktiannya ia dapat meloloskan diri.
Tetapi sebelumnya ia sempat mengatakan identitasnya, yaitu Kamandaka putra
Patih Reksonoto. Adipati Patih Pasir Luhur murka, memanggil Patih Reksonoto
supaya menangkap Kamandaka dan menyerahkan kepadanya.
Kamandaka yang melarikan diri dengan cara menceburkan diri ke sungai dilaporkan
oleh Patih Reksonoto telah mati, hanyut di bawa arus sungai deras. Setelah jauh
dari Pasir Luhur, Kamandaka naik ke darat berjalan menuju sebuah desa. Di Desa
Paniagih ia bertemu janda miskin Mbok Kertosoro. Kamandaka selanjutnya diangkat
menjadi anaknya. Mbok Kertosoro mempunyai seekor ayam jantan bernama Mercu,
yang dirawat dengan baik oleh Kamandaka. Ke mana-mana ia pergi dengan ayam-ayam
lainnya. Mercu selalu menang, sehingga akhirnya Kamandaka dikenal sebagai
penyabung ayam yang hebat. Berita tersebut sampai di Kadipaten Pasir Luhur.
Adipati Kandandoho sangat murka mendengar Kamandaka masih hidup. Ia memerintahkan
prajuritnya untuk menangkap Kamandaka. Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba
muncul silihwarni. Silihwarni yang menawarkan dirinya menjadi abdi di Pasir
Luhur diterima oleh Adipati Kandandoho, asal dapat membunuh Kamandaka.
Silihwarni sebenarnya adalah Banyak Ngampar, adik kandung Kamandaka. Ia
mendapat tugas dari ayahnya Prabu Siliwangi mencari kakaknya. Untuk menjaga
keselamatannya di perjalanan, Banyak Ngampar dibekali senjata kerajaan, kujang
Pamungkas. Karena tidak tahu kalau Kamandaka adalah kakaknya yang dicari-cari
Silihwarni berangkat bersama dengan sepasukan prajurit Pasir Luhur.
Akhirnya Silihwarni sampai di Desa Paniagih, bertemu dengan Kamandaka dan
menantangnya bersabung ayam. Saat ayam jantan masing-masing bersabung,
Silihwarni menikam Kamandaka yang sedang lengah dengan pusaka Kujang Pamungkas.
Kamandaka terluka parah, tetapi ia dapat meloloskan diri. Tempat di mana
Kamandaka dapat meloloskan diri dari kepungan prajurit Pasir Luhur dan
Silihwarni sekarang dinamakan Desa Brobosan (mbrobos = meloloskan diri). Saat
Kamandaka beristirahat di suatu tempat, darahnya mengucur deras dari luka di
lambungnya. Tempat iru kemudian diberi nama Desa Bancaran (Bancar = deras).
Silihwarni bersama prajurit Pasir Luhur terus mengejarnya, dibantu
anjing-anjing pelacak. Seekor anjing dapat di bunuh oleh Kamandaka di suatu
tempat, yang selanjutnya desa itu dinamakan Karang Anjing. Kamandaka terus lari
ke arah timur, dan sampai di ujung jalan yang buntuk (selanjutnya tempat itu
dinamakan Desa Buntu).
Setelah berlari cukup jauh akhirnya Kamandaka sampai di sebuah gua. Ia
bersembunyi di dalamnya. Silihwarni yang kehilangan jejak, Ia berteriak-teriak
menantang Kamandaka supaya ke luar dari tempat persembunyiannya. Kamandaka
menjawab, bahwa sebenarnya ia adalah putra mahkota Pajajaran Banyak Contro.
Mendengar jawaban itu Silihwarni terkejut dan iapun berkata kalau sebenarnya =
(sejatine) Ia juga putra Prabu Siliwangi, Banyak Ngampar. Keduanya baru sadar
kalau mereka adalah bersaudara.
Selanjutnya Kamandaka bertapa di gua tersebut dan mendapat petunjuk bahwa
niatnya mempersunting Dewi Ciptoroso akan tercapai jika ia berpakaian lutung
(kera) Dalam petunjuk itu ia diharuskan tinggal di Hutan Baturagung, baratdaya
Baturaden. Di hutan itu Kamandaka yang sudah berubah menjadi kera bertemu
dengan Dewi Ciptoroso, yang ketika itu mengikuti ayahnya Adipati Kandandoho
berburu. Kera yang jinak jelmaan Kamandaka segera menarik perhatian Dewi
Ciptoroso, yang menurut saja saat ditangkap dan dibawa ke Pasir Luhur.
Sesampainya di Pasir Luhur kera tersebut tidak mau makan apa-apa, sehingga
meninmbulkan kekhawatiran Adipati Kandandoho. Ia membuat sayembara, siapa yang
dapat memberi makan kera tersebut maka ia berhak memeliharanya. Banyak orang
mencobanya tetapi selalu gagal, kecuali Dewi Ciptoroso. Sesuai dengan sayembara
maka kera itupun dipelihara oleh putri bungsu Pasir Luhur dan diberi nama
Lutung Kasarung. Pada malam hari kera tersebut berubah ujud aslinya, yaitu
Kamandaka. Sedang siang hari menjelma lagi menjadi kera. hal itu hanya diketahui
oleh Dewi Ciptoroso.
Dikisahkan selanjutnya, Prabu Pule Bahas dari Nusa Kambangan ingin memperistri
Dewi Ciptoroso, dan mengutus kerajaan untuk meminangnya. Jika keinginan tidak
dikabulkan ia akan menghancurkan Kadipaten Pasir Luhur. Atas saran Lutung
Kasarung, Dewi Ciptoroso menemui ayahnya dan mengatakan kalau ia bersedia
menjadi istri Prabu Pule Bahas asal persyaratan yang akan diajukannya dipenuhi.
Salah satu syarat itu adalah Dewi Ciptoroso diperbolehkan membawa Lutung
Kasarung pada saat pengantin dipertemukan. Prabu Pule Bahas langsung
menyetujui.
Ketika upacara pengantin berlansung Lutung Kasarung selalu mengganggu, sehingga
menimbulkan kejengkelan Prabu Pule Bahas. Prabu Pule Bahas memukulnya dan
keduanya berkelahi. Raja Nusakambangan akhirnya tewas, digigit Lutung Kasarung.
Kematian raja tersebut mengubah ujud asli Lutung Kasarung, yaitu Kamandaka.
Setelah menceritakan asal-usulnya, Kamandaka akhirnya dikawinkan dengan Dewi
Ciptoroso. Berita itu akhirnya sampai di Kerajaan Pajajaran. Niat Prabu
Siliwangi untuk menjadikan Kamandaka sebagai raja tidak kesampaian. Karena
pantang bagi seseorang yang sudah terkena pusaka kerajaan Kujang Pamungkas
menjadi raja Pajajaran. Akhirnya Kamandaka atau Banyak Cokro menjadi adipati di
Pasir Luhur, menggantikan ayah Dewi Ciptoroso. Sedang Banyak Blabur
menggantikan Prabu siliwangi menjadi raja di Pajajaran.
Mata air atau sendang yang terdapat di dalam Gua Jatijajar dipercaya mempunyai
khasiat tertentu, sehingga dikeramatkan. Air Sendang Puserbumi dan Jombor konon
dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tertentu. Sedang air
Sendang Mawar dan Kantil jika untuk mencuci muka selain menjadi awet muda juga
akan tercapai apa yang dicita-citakannya.
Kepercayaan yang dituturkan secara turun-temurun ini mengakar kuat di hati
sanubari masyarakat Kebumen dan sekitarnya, sehigga pada hari-hari tertentu
menurut penanggalan Jawa tempat tersebut ramai dikunjungi peziarah, terutama
pada malam hari.
Segmen lorong gua sepanjang 50 m mulai dari pintu masuk merupakan bentukan
alami hasil kegiatan sungai bawah tanah di masa lalu. Setempat, atap dan
dinding gua dihiasi oleh stalaktit dan flowstone. Lubang di atap gua yang
tembus ke permukaan (avent) berfungsi sebagai ventilasi alam, sehingga udara di
dalam gua tetap segar. Lorong ini selanjutnya berhubungan dengan gua buatan,
bekas penambangan kapur.
panjang Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan
gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama pemilik
lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor di masa lalu
diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping, tidak jauh dari pintu
masuk Gua Dempok.
panjang Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan
gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama pemilik
lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor di masa lalu
diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping, tidak jauh dari pintu
masuk Gua Dempok.
Gejala endokars ini merupakan gua alam fosil yang penuh dengan ornamen yang
masih aktif. Lorong-lorong di dalam Gua Intan yang berarah utara-selatan dan
barat-timur genesanya berkaitan dengan pelarutan di sepanjang struktur retakan
yang ada.
Sebuah stalaktit di dinding pintu masuk sebelah kanan dilingkupi oleh sedimen
pasir lempungan berwarna merah kecoklatan. Sedimen tersebut mengandung fosil
moluska, sehingga kehadirannya akan menguak sejarah pembentukan gua. Moluska
adalah binatang darat yang hidup di sekitar gua. Ketika air hujan masuk ke
dalam gua, binatang itu terangkut ke dalam gua bersama-sama dengan sedimen
pasir dan lempung. Saat terjadi banjir seluruh lorong gua terendam air, dan
sebuah stalaktit yang terletak 3 m dari dasar gua ditutupi oleh sedimen
tersebut. Kumpulan fosil ini berumur Plistosen-Resen, sehingga Gua Intan
setidaknya sudah ada sejak 1 juta tahun yang lalu.
Sebuah kubah besar berukuran 30 X 40 m dan tinggi maksimum 20 m dapat dicapai
dengan melewati lubang sempit selebar 1 m. atap kubah dihiasi oleh stalaktit-stalaktit
berukuran maksimum 1 m. Sebuah avent di atap kubah berfungsi sebagai ventilasi
alam. Sekelompok stalaktit yang menyatu dengan stalakmit membantu pilar atau
kolom setinggi beberapa meter yang indah. Ornamen gua di bagian ini umumnya
masih aktif.
Di sebelah kanan ruangan pertama terdapat ruangan kedua yang disusun oleh batu
gamping berlapis, dengan sebuah jembatan alam yang menghubungkan dinding kanan
dan kiri ruangan. Jembatan ini merupakan sisa lapisan batu gamping yang sukar
larut. Sedang lapisan batu gamping lunak di dasar jembatan sebagian besar telah
habis, dikikis oleh aliran sungai bawah tanah yang pernah aktif di masa lalu.
Ruangan kedua yang berukuran 20 X 40 m dan tinggi 15 m ini berakhir pada sebuah
lubang sempit yang ditutupi oleh sedimen gua. lekuk-lekuk kecil di atap gua
dipenuhi oleh kelelawar. Tidak adanya ventilasi di ruangan kedua ini
menyebabkan udara di dalam gua sedikit panas dan pengap. Fermentasi kotoran
kelelawar memungkinkan terbentuknya CO2 dan bau yang menyengat.
Kompleks
Gua wisata baik gua alam maupun buatan yang terletak sekitar 42 km barat daya
Kebumen ini mencakup kawasan seluas 5,5 hektare. Objek wisata ini telah
dilengkapi dengan prasarana wisata seperti tempat parkir, peturasan, tempat
bermain, kios makanan, buah-buahan dan toko cindera mata.
Kompleks Gua Jatijajar mencakup Gua Jatijajar, Gua Dempok, dan Gua Intan.
Kawasan ini berada sekitar 250 m di atas permukaan laut. Sistem pergunaan
berkembang pada kehadiran fosil-fosil seperti Lepidocylina sumatrensis Brady,
L. elegans Tan dan Cycloclypeus annulatus Martin selain menunjukkan umur batuan
juga sekaligus menciri lingkungan asalnya, yaitu laut dangkal yang mempunyai
kedalaman maksimum 60 m.
Kira-kira 14-11 juta tahun lalu daerah ini masih merupakan paparan laut
dangkal, yang kemudian terangkat hingga ketinggiannya sekarang akibat sifat
bumi yang dinamis. Tidak adanya sedimen lain yang menutupi lapisan batu gamping
di daerah Gombong selatan menunjukkan jika sejak 10 juta tahun lalu daerah ini
sudah berada di atas permukaan laut. Dihitung dari kurun waktu kurang dari 10
juta tahun telah terjadi pengangkatan setinggi lebih dari 300 m. Pengangkatan
itu menyebabkan batuan terkekarkan dan tersesarkan. Curah hujan yang tinggi
mempercepat terjadinya proses karstifikasi, membentuk kars sebagaimana terlihat
sekarang.
Gejala endokars ini mempunyai mulut gua yang berbangun melengkung tinggi dan
lebar. Pada dinding pintu masuk sebelah kanan tersingkap sisa endapan sedimen
gua yang kaya fosil moluska. Beberapa spesies grastropoda dan pelecypoda
terawetkan baik pada lapisan lempung pasiran berwarna coklat tua. Sedimen
berfosil ini dapat dikorelasikan dengan sedimen sejenis yang tersingkap di
pintu masuk Gua Intan. Sediman di dalam Gua juga tersingkap pada sebuah sisa
kanopi tua, beberapa meter dari pintu masuk. Cangkang-cangkang pipih pelecypoda
pada sedimen gua ini tersusun secara alami ke arah utara sejajar dengan arah lorong
utama masuk gua, yaitu utara-selatan. Bagian atap dan dinding pintu masuk gua
dipenuhi oleh tulisan nama-nama pengunjung. Gravity yang paling tua tertanggal
tahun 1805.
Pembentukan kanopy di dekat pintu masuk Gua Jatijajar menunjukkan adanya sungai
bawahtanah yang pernah aktif beberapa ratus ribu tahun yang lalu. Proses
pengangkatan menyebabkan sungai menjadi kering, karena air mencari permukaan
air tanah setempat yang letaknya lebih rendah. Sungai bawah tanah yang masih
aktif di dalam Gua Jatijajar tersingkap melalui beberapa sendang, yang letaknya
berkisar antara 1-3 m di bawah lorong fosil utama.
Sendang Kantil dan Sendang Mawar adalah kolam-kolam sungai bawah tanah yang
dibuka untuk umum. Dua sendang lainnya yaitu Jombor dan Puserbumi tidak dapat
dimasuki wisatawan umum, kecuali mendapat ijin dari pengelola kawasan wisata.
Sebagai mata air, Sendang Puserbumi merupakan sebuah sumuran tegak bergaris
tengah sekitar 50 cm. Sementara Sendang Jombor yang dihuni seekor pelus
sepanjang lebih dari 1 m mempunyai sifon di dasarnya. Sifon ini dapat
ditelusuri dengan metode penyelaman (cave diving). Beragam bentukan pengendapan
ulang larutan CaCO3 jenuh yang indah dan mempesona dijumpai di dalam lorong gua
dibalik sifon. Lorong gua sepanjang ratusan meter dihiasi dengan deretan gurdam
dan air terjun. Lorong gua di bawah gua Jatijajar ini disiapkan menjadi objek
wisata minat khusus. Untuk memasuki sendang di dalam Gua Jatijajar dikeramatkan
dan dijadikan sebagai tempat berziarah.
Lubang-lubang di dasar gua di dekat pintu masuk merupakan bekas-bekas
penambangan fosfat guano. Ornamen gua (stalaktit, stalakmit, pilar, flowstone)
umumnya sudah tidak aktif, meskipun di beberapa tempat terdapat tetesan dan
leleran air melalui ujung-ujung stalaktit. Sebuah lubang di atap gua setinggi
24 m dari dasar gua, tidak jauh dari pilar besar berbangun membundar yang masih
aktif, mengungkap sejarah penemuan gua pada tahun 1802 oleh Djayamenawi, Petani
tersebut terperosok ke dalam gua melalui lubang yang ada dipermukaan, dan setelah
tanah yang menutupi lorong dibersihkan ia menemukan lubang masuk, yaitu mulut
gua sekarang.
Lorong Gua Jatijajar sepanjang 250 m, dengan lebar dan tinggi rata-rata 15-25
m, dapat dimasuki oleh wisatawan dengan mudah. Mulai tahun 1975, disepanjang
lorong gua ditempatkan 32 buah patung yang menceritakan Legenda Raden
Kamandaka. Di luar Gua menggambarkan kepurbaan Gua Jatijajar.
Kamandaka yang aslinya bernama Raden Banyak Contro adalah putera mahkota
Kerajaan Pajajaran. Pusat pemerintahan Pasirluhur atau Galuh Timur pada abad 14
kira-kira berada di sekitar Baturaden (purwokerto), di lereng Gunung Slamet.
Prabu Siliwangi raja Pajajaran pada waktu itu memiliki 2 permaisuri. Dari
permaisuri pertama, Prabu Siliwangi berputra 2 orang yaitu Banyak Contro dan Banyak
Ngampar. Karena permaisuri pertama meninggal, Prabu Siliwangi mengangkat
permaisuri kedua, Dewi Kumudaningsih. Sebelumnya Dewi Kumudaningsih memberi
syarat mau menjadi permaisuri jika anak laki-lakinya kelak dapat menjadi raja,
menggantikan Prabu Siliwangi. Dari permaisuri kedua ini terturunkan Banyak
Blabur dan Dewi Pamungkas.
Prabu Siliwangi yang sudah lanjut usia berencana mengangkat putra sulungnya,
Banyak Contro, untuk menggantikannya. Permintaan itu ditolak oleh Banyak
Contro, dengan alasan ia belum siap dan belum mempunyai pendamping. Ia hanya
mau menikah dengan wanita yang mirip dengan mendiang ibunya. Untuk itu ia
mengembara menuju gunung Tangkuban Perahu, menemui Ki Ajar Wirangrong. Oleh
orang tua tersebut ia disuruh mengembara ke timur, menuju Kadipaten Pasir
Luhur. Supaya cita-citanya beristri wanita cantik seperti ibunya terkabul, ia
harus menanggalkan pakaiannya sebagai putera raja menjadi orang biasa. Banyak
Contro selanjutnya menyamar menjadi orang kebanyakan, dan berganti nama menjadi
Kamandaka.
Setelah sampai di Pasir Luhur ia bertemu dengan Reksono patih Kadipaten Pasir
Luhur yang menjadikannya sebagai anak angkat. Adipati Kandandoho, penguasa
Kadipaten Pasir Luhur, mempunyai beberapa putri yang semuannya sudah bersuami
kecuali putri bungsunya Dewi Ciptoroso. Wajah dan penampilan putri Pasir Luhur
ini mirip dengan Ibu Kamandaka. Kamandaka berhasil menarik hati Dewi Ciptoroso.
Tetapi pada suaru saat ketika mereka sedang berdua di taman keputren seorang
prajurit kadipaten memergokinya. Kamandaka dikeroyok para prajurit, yang
mengiranya sebagai pencuri. Karena kesaktiannya ia dapat meloloskan diri.
Tetapi sebelumnya ia sempat mengatakan identitasnya, yaitu Kamandaka putra
Patih Reksonoto. Adipati Patih Pasir Luhur murka, memanggil Patih Reksonoto
supaya menangkap Kamandaka dan menyerahkan kepadanya.
Kamandaka yang melarikan diri dengan cara menceburkan diri ke sungai dilaporkan
oleh Patih Reksonoto telah mati, hanyut di bawa arus sungai deras. Setelah jauh
dari Pasir Luhur, Kamandaka naik ke darat berjalan menuju sebuah desa. Di Desa
Paniagih ia bertemu janda miskin Mbok Kertosoro. Kamandaka selanjutnya diangkat
menjadi anaknya. Mbok Kertosoro mempunyai seekor ayam jantan bernama Mercu,
yang dirawat dengan baik oleh Kamandaka. Ke mana-mana ia pergi dengan ayam-ayam
lainnya. Mercu selalu menang, sehingga akhirnya Kamandaka dikenal sebagai
penyabung ayam yang hebat. Berita tersebut sampai di Kadipaten Pasir Luhur.
Adipati Kandandoho sangat murka mendengar Kamandaka masih hidup. Ia memerintahkan
prajuritnya untuk menangkap Kamandaka. Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba
muncul silihwarni. Silihwarni yang menawarkan dirinya menjadi abdi di Pasir
Luhur diterima oleh Adipati Kandandoho, asal dapat membunuh Kamandaka.
Silihwarni sebenarnya adalah Banyak Ngampar, adik kandung Kamandaka. Ia
mendapat tugas dari ayahnya Prabu Siliwangi mencari kakaknya. Untuk menjaga
keselamatannya di perjalanan, Banyak Ngampar dibekali senjata kerajaan, kujang
Pamungkas. Karena tidak tahu kalau Kamandaka adalah kakaknya yang dicari-cari
Silihwarni berangkat bersama dengan sepasukan prajurit Pasir Luhur.
Akhirnya Silihwarni sampai di Desa Paniagih, bertemu dengan Kamandaka dan
menantangnya bersabung ayam. Saat ayam jantan masing-masing bersabung,
Silihwarni menikam Kamandaka yang sedang lengah dengan pusaka Kujang Pamungkas.
Kamandaka terluka parah, tetapi ia dapat meloloskan diri. Tempat di mana
Kamandaka dapat meloloskan diri dari kepungan prajurit Pasir Luhur dan
Silihwarni sekarang dinamakan Desa Brobosan (mbrobos = meloloskan diri). Saat
Kamandaka beristirahat di suatu tempat, darahnya mengucur deras dari luka di
lambungnya. Tempat iru kemudian diberi nama Desa Bancaran (Bancar = deras).
Silihwarni bersama prajurit Pasir Luhur terus mengejarnya, dibantu
anjing-anjing pelacak. Seekor anjing dapat di bunuh oleh Kamandaka di suatu
tempat, yang selanjutnya desa itu dinamakan Karang Anjing. Kamandaka terus lari
ke arah timur, dan sampai di ujung jalan yang buntuk (selanjutnya tempat itu
dinamakan Desa Buntu).
Setelah berlari cukup jauh akhirnya Kamandaka sampai di sebuah gua. Ia
bersembunyi di dalamnya. Silihwarni yang kehilangan jejak, Ia berteriak-teriak
menantang Kamandaka supaya ke luar dari tempat persembunyiannya. Kamandaka
menjawab, bahwa sebenarnya ia adalah putra mahkota Pajajaran Banyak Contro.
Mendengar jawaban itu Silihwarni terkejut dan iapun berkata kalau sebenarnya =
(sejatine) Ia juga putra Prabu Siliwangi, Banyak Ngampar. Keduanya baru sadar
kalau mereka adalah bersaudara.
Selanjutnya Kamandaka bertapa di gua tersebut dan mendapat petunjuk bahwa
niatnya mempersunting Dewi Ciptoroso akan tercapai jika ia berpakaian lutung
(kera) Dalam petunjuk itu ia diharuskan tinggal di Hutan Baturagung, baratdaya
Baturaden. Di hutan itu Kamandaka yang sudah berubah menjadi kera bertemu
dengan Dewi Ciptoroso, yang ketika itu mengikuti ayahnya Adipati Kandandoho
berburu. Kera yang jinak jelmaan Kamandaka segera menarik perhatian Dewi
Ciptoroso, yang menurut saja saat ditangkap dan dibawa ke Pasir Luhur.
Sesampainya di Pasir Luhur kera tersebut tidak mau makan apa-apa, sehingga
meninmbulkan kekhawatiran Adipati Kandandoho. Ia membuat sayembara, siapa yang
dapat memberi makan kera tersebut maka ia berhak memeliharanya. Banyak orang
mencobanya tetapi selalu gagal, kecuali Dewi Ciptoroso. Sesuai dengan sayembara
maka kera itupun dipelihara oleh putri bungsu Pasir Luhur dan diberi nama
Lutung Kasarung. Pada malam hari kera tersebut berubah ujud aslinya, yaitu
Kamandaka. Sedang siang hari menjelma lagi menjadi kera. hal itu hanya diketahui
oleh Dewi Ciptoroso.
Dikisahkan selanjutnya, Prabu Pule Bahas dari Nusa Kambangan ingin memperistri
Dewi Ciptoroso, dan mengutus kerajaan untuk meminangnya. Jika keinginan tidak
dikabulkan ia akan menghancurkan Kadipaten Pasir Luhur. Atas saran Lutung
Kasarung, Dewi Ciptoroso menemui ayahnya dan mengatakan kalau ia bersedia
menjadi istri Prabu Pule Bahas asal persyaratan yang akan diajukannya dipenuhi.
Salah satu syarat itu adalah Dewi Ciptoroso diperbolehkan membawa Lutung
Kasarung pada saat pengantin dipertemukan. Prabu Pule Bahas langsung
menyetujui.
Ketika upacara pengantin berlansung Lutung Kasarung selalu mengganggu, sehingga
menimbulkan kejengkelan Prabu Pule Bahas. Prabu Pule Bahas memukulnya dan
keduanya berkelahi. Raja Nusakambangan akhirnya tewas, digigit Lutung Kasarung.
Kematian raja tersebut mengubah ujud asli Lutung Kasarung, yaitu Kamandaka.
Setelah menceritakan asal-usulnya, Kamandaka akhirnya dikawinkan dengan Dewi
Ciptoroso. Berita itu akhirnya sampai di Kerajaan Pajajaran. Niat Prabu
Siliwangi untuk menjadikan Kamandaka sebagai raja tidak kesampaian. Karena
pantang bagi seseorang yang sudah terkena pusaka kerajaan Kujang Pamungkas
menjadi raja Pajajaran. Akhirnya Kamandaka atau Banyak Cokro menjadi adipati di
Pasir Luhur, menggantikan ayah Dewi Ciptoroso. Sedang Banyak Blabur
menggantikan Prabu siliwangi menjadi raja di Pajajaran.
Mata air atau sendang yang terdapat di dalam Gua Jatijajar dipercaya mempunyai
khasiat tertentu, sehingga dikeramatkan. Air Sendang Puserbumi dan Jombor konon
dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tertentu. Sedang air
Sendang Mawar dan Kantil jika untuk mencuci muka selain menjadi awet muda juga
akan tercapai apa yang dicita-citakannya.
Kepercayaan yang dituturkan secara turun-temurun ini mengakar kuat di hati
sanubari masyarakat Kebumen dan sekitarnya, sehigga pada hari-hari tertentu
menurut penanggalan Jawa tempat tersebut ramai dikunjungi peziarah, terutama
pada malam hari.
Segmen lorong gua sepanjang 50 m mulai dari pintu masuk merupakan bentukan
alami hasil kegiatan sungai bawah tanah di masa lalu. Setempat, atap dan
dinding gua dihiasi oleh stalaktit dan flowstone. Lubang di atap gua yang
tembus ke permukaan (avent) berfungsi sebagai ventilasi alam, sehingga udara di
dalam gua tetap segar. Lorong ini selanjutnya berhubungan dengan gua buatan,
bekas penambangan kapur.
panjang Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan
gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama pemilik
lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor di masa lalu
diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping, tidak jauh dari pintu
masuk Gua Dempok.
panjang Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan
gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama pemilik
lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor di masa lalu
diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping, tidak jauh dari pintu
masuk Gua Dempok.
Gejala endokars ini merupakan gua alam fosil yang penuh dengan ornamen yang
masih aktif. Lorong-lorong di dalam Gua Intan yang berarah utara-selatan dan
barat-timur genesanya berkaitan dengan pelarutan di sepanjang struktur retakan
yang ada.
Sebuah stalaktit di dinding pintu masuk sebelah kanan dilingkupi oleh sedimen
pasir lempungan berwarna merah kecoklatan. Sedimen tersebut mengandung fosil
moluska, sehingga kehadirannya akan menguak sejarah pembentukan gua. Moluska
adalah binatang darat yang hidup di sekitar gua. Ketika air hujan masuk ke
dalam gua, binatang itu terangkut ke dalam gua bersama-sama dengan sedimen
pasir dan lempung. Saat terjadi banjir seluruh lorong gua terendam air, dan
sebuah stalaktit yang terletak 3 m dari dasar gua ditutupi oleh sedimen
tersebut. Kumpulan fosil ini berumur Plistosen-Resen, sehingga Gua Intan
setidaknya sudah ada sejak 1 juta tahun yang lalu.
Sebuah kubah besar berukuran 30 X 40 m dan tinggi maksimum 20 m dapat dicapai
dengan melewati lubang sempit selebar 1 m. atap kubah dihiasi oleh stalaktit-stalaktit
berukuran maksimum 1 m. Sebuah avent di atap kubah berfungsi sebagai ventilasi
alam. Sekelompok stalaktit yang menyatu dengan stalakmit membantu pilar atau
kolom setinggi beberapa meter yang indah. Ornamen gua di bagian ini umumnya
masih aktif.
Di sebelah kanan ruangan pertama terdapat ruangan kedua yang disusun oleh batu
gamping berlapis, dengan sebuah jembatan alam yang menghubungkan dinding kanan
dan kiri ruangan. Jembatan ini merupakan sisa lapisan batu gamping yang sukar
larut. Sedang lapisan batu gamping lunak di dasar jembatan sebagian besar telah
habis, dikikis oleh aliran sungai bawah tanah yang pernah aktif di masa lalu.
Ruangan kedua yang berukuran 20 X 40 m dan tinggi 15 m ini berakhir pada sebuah
lubang sempit yang ditutupi oleh sedimen gua. lekuk-lekuk kecil di atap gua
dipenuhi oleh kelelawar. Tidak adanya ventilasi di ruangan kedua ini
menyebabkan udara di dalam gua sedikit panas dan pengap. Fermentasi kotoran
kelelawar memungkinkan terbentuknya CO2 dan bau yang menyengat.





Sebagaimana
umumnya objek wisata lain di Indonesia, yang hampir selalu menyimpan legenda,
Goa Jatijajar memiliki sebuah cerita. Pada jaman dahulu Gua Jatijajar merupakan
tempat bersemedi Raden Kamandaka, yang kemudian mendapat wangsit. Cerita Raden
Kamandaka ini kemudian dikenal dengan legenda Lutung Kasarung. Visualisasi dari
legenda tersebut dapat kita lihat dalam diorama yang ada di dalam goa itu.
Legenda
di dalam goa menggambarkan legenda Raden Kamandaka atau legenda Lutung
Kasarung. Untuk menuju ke obyek wisata ini telah tersedia sarana dan prasara
transportasi, penginapan serta rumah makan yang relatif representatif.


Patung
Dinosaurus yang seolah memuntahkan air dalam lokasi wisata ini sebenarnya
merupakan muara dari mata air dari dalam Goa Jatijajar yang tiada pernah
berhenti walau musim kemarau sekalipun. Air dari mulut patung Dinosaurus ini
memenuhi kolam renang untuk berenang anak maupun dewasa.
Obyek
wisata Goa Jatijajar dilengkapi taman yang asri yang dilengkapi dengan taman
bermain. Taman ini diberi nama Pulau Kera, karena di taman ini terdapat banyak
patung kera. Di gerbang mulut Goa Jatijajar, terdapat lobang di antara
stalagnit, sehingga bila cahaya matahari masuk terlihat sangat indah. Goa
Jatijajar merupakan bukti dari legenda Kamandaka (Lutung Kasarung), di mana
kisah ini secara tersirat dikisahkan melalui patung-patung yang ada di dalam
Goa Jatijajar.
Di dalam Goa Jatijajar terdapat 7 (tujuh) sungai atau sendang, tetapi
yang data dicapai dengan mudah hanya 4 (empat) sungai yaitu :
1.Sungai Puser Bumi
2.Sungai Jombor
3.Sungai Mawar
4.Sungai Kantil
Tiap-tiap sungai/sendang mempunyai mitos, yaitu :
Untuk sungai Puser Bumi dan Jombor konon airnya mempunyai khasiat dapat
digunakan untuk segala macam tujuan menurut kepercayaan masing-masing.
Sedangkan Sungai Mawar konon airnya jika untuk mandi atau mencuci muka,
mempunyai khasiat bisa awet muda. Adapun Sendang kantil jika airnya untuk cuci
muka atau mandi, maka niat/cita-citanya akan mudah tercapai.
Pada mulanya pintu-pintu Goa masih tertutup oleh tanah. Maka setelah
tanah yang menutupi dibongkar dan dibuang, ketemulah pintu Goa yang sekarang
untuk masuk. Karena dimuka pintu Goa ada 2 pohon jati yang besar tumbuh
sejajar, maka goa tersebut diberi nama Goa Jatijajar (Versi ke I).
Di dalam Goa Jatijajar banyak terdapat Stalagmit dan juga Pilar atau
Tiang Kapur, yaitu pertemuan antara Stalagtit dengan Stalagmit. Kesemuanya ini
terbentuk dari endapan tetesan air hujan yang sudah bereaksi dengan batu-batu
kapur yang ditembusnya. Menurut penelitian para ahli, untuk pembentukan
Stalagtit itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Dalam satu tahun terbentuknya
Stalagtit paling tebal hanya setebal 1 (satu) cm saja. Oleh sebab itu Goa
Jatijajar merupakan Goa Kapur yang sudah tua sekali.
Batu-batuan yang ada di Goa Jatijajar merupakan batuan yang sudah tua
sekali. Karena umur yang sudah tua sekali itu, maka di muka Goa Jatijajar
dibangun sebuah patung Binatang Purba Dino Saurus sebagai simbol dari Objek
Wisata Goa Jatijajar, dari mulut patung itu keluar air dari Sendang Kantil dan
sendang Mawar, yang sepanjang tahun belum pernah kering. Sedangkan air yang
keluar dari patung Dino Saurus tersebut dimanfaatkan oleh penduduk sekitar
sebagai pengairan sawah desa Jatijajar dan sekitarnya.
Adapun Goa Jatijajar mempunyai panjang dari pintu masuk ke pintu keluar
sepanjang 250 meter. Lebar rata-rata 15 meter dan tinggi rata-rata 12 meter sedangkan
ketebalan langit-langit rata-rata 10 meter, dan ketingian dari permukaan laut
50 meter.
Sebelum Goa Jatijajar dibangun sebagai Objek Wisata, dahulu dikelola
oleh juru kunci. Adapun silsilah juru kunci yang pernah mengelola Goa Jtijajar,
yaitu :
a. Juru Kunci Ke I – Jayamenawi
b. Juru Kunci Ke II – Bangsatirta
c. Juru Kunci Ke III – Manreja
d. Juru Kunci Ke IV – Jayawikrama
e. Juru Kunci Ke V – Sandikrama
Pada tahun 1975 Goa Jatijajar mulai dibangun dan dikembangkan menjadi
Objek Wisata. Adapun yang mempunyai ide untuk mengembangkan atau membangun Goa
Jatijajar yaitu Bapak Suparjo Rustam sewaktu menjadi Gubernur Jawa Tengah.
Sedang pada waktu itu yang menjadi Bupati Kebumen adalah Bapak Supeno
Suryodiprojo.
Untuk melancarkan dan melaksanakan pengembangan Goa Jatijajar ditunjuk
langsung oleh Bapak Suparjo Rustam cv.AIS dari Yogyakarta, sebagai pimpinan
dari cv.AIS adalah Bapak Saptoto, seorang seniman deorama yang terkenal di
Indonesia. Sebelum Pemda Kebumen melaksanakan pembagunan Goa Jatijajar, terlebih
dahulu Pemda Kebumen telah mengganti rugi tanah penduduk yang terkena lokasi
pembangunan Objek Wisata Goa Jatijajar Seluas 5,5 hektar.
Setelah Goa Jatijajar dibangun maka pengelolanya dikelola oleh Pemda
Kebumen. Sejak Goa Jatijajar dibangun, di dalam Goa Jatijajar sudah ditambah
dengan bangunan-bangunan seni antara lain: pemasangan lampu listrik sebagai
penerangan, trap-trap beton untuk memberikan kemudahan bagi para wisatawan yang
masuk ke dalam Goa Jatijajar serta pemasangan patung-patung atau deorama.
Diorama yang dipasang dan dalam Goa Jatijajar ada 8 (delapan) diorama,
yang patung-patungnya ada 32 buah. Keseluruhannya mengisahkan cerita Legenda
dari “Raden Kamandaka – Lutung Kasarung”. Adapun kaitannya dengan Goa Jatijajar
ialah, dahulu kala Goa Jatijajar pernah digunakan untuk bertapa oleh Raden
Kamandaka Putera Mahkota dari Kerajaan Pajajaran, yang bernama aslinya Banyak
Cokro atau Banyak Cakra.
Perlu diketahui bahwa jaman dahulu sebagian dari wilayah Kabupaten
Kebumen, adalah termasuk wilayah kekuasaan Pajajaran, yang pusat
pemerintahannya di Bogor (Batutulis) Jawa Barat.
Adapun batasnya yaitu Kali Lukulo dari Kabupaten Kebumen sebelah Timur
Kali Lukulo masuk ke wilayah Kerajaan Majapahit, sedangkan sebelah barat Kali
Lukulo masuk wilayah Kerajaan Pajajaran. Sedangkan cerita itu terjadinya di
kabupaten Pasir Luhur, yaitu daerah Baturaden atau Purwokerto pada abad ke-14.
Namun keseluruhan Dioramanya dipasang di dalam Goa Jatijajar